
Hari ini benar-benar hari yang membosankan untuk Angel. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa, ingin keluar namun dilarang. Sementara yang melarangnya, justru sibuk dengan laptopnya.
"Yang benar saja, aku bisa mati kebosanan disini." Angel menggerutu dengan nada lirih. Namun telinga Damian cukup jelas mendengarnya.
"Kau tidak akan mati karena hal itu, karena tidak ada teori yang menyebutkan bahwa manusia akan mati karena kebosanan. Jadi kau tenang saja. Kau akan tetap hidup selama aku hidup," sahut Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di pangkuannya.
Angel berdecih, kemudian memalingkan wajahnya sambil menggerutu tidak jelas.
Tiba-tiba ponsel Damian berdering, dengan cepat pria itu menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa?"
"........."
"Sial!!" Damian menggeram, dia lalu segera menutup telponnya.
"Ada apa, Damian?" tanya Angel penasaran. Apalagi pria tersebut langsung bangun dari duduknya.
"Hanya masalah kantor. Aku akan pergi sebentar, dan kau tunggulah disini." Tanpa menunggu balasan dari Angel, Damian buru-buru pergi dari apartementnya.
Melihat kepergian Damian, membuat Angel menekuk wajahnya.
"Masalah apa yang membuatnya begitu tega meninggalkanku sendirian disini?"
...* * * ...
Hari sudah menjelang siang, namun Damian tidak kunjung kembali. Bahkan mengabarinya pun tidak. Dan sedari tadi Angel mengecek ponselnya, siapa tahu pria itu ingat untuk mengirimnya sebuah pesan.
Dan waktu siangpun berlalu. Hari sudah hampir senja, tapi Damian belum memberinya kabar sama sekali. Tak terasa matanya berembun, dan buliran-buliran itu sudah siap untuk jatuh kapan saja.
"Apakah satu pesanpun, kau tidak dapat mengirimkannya kepadaku? Tidak tahukah kau bahwa aku sangat ingin tahu tentang kabarmu?"
Tess!!
Air matanya akan jatuh ke lantai, namun ada sebuah tangan yang mengambil air mata itu.
"Air matamu sangat berharga. Dan aku tidak akan membiarkannya terbuang sia-sia."
Seketika Angel melihat kesampingnya, dan ternyata itu Damian yang sudah kembali. Pria tersebut tersenyum simpul, kemudian menghapus air mata dari wanitanya.
"Kenapa kau tidak mengabariku?"
"Aku sengaja tidak mengabarimu, karena aku takut tidak bisa menjanjikan sesuatu kepadamu."
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" Damian tidak menjawabnya, dia justru menarik tubuh Angel kedalam pelukannya.
"Maafkan aku..." Damian bergumam lirih. Dan itu membuat Angel mendongakkan kepalanya untuk menatap wajahnya.
"Untuk apa?"
"Semuanya."
Tiba-tiba Angel melepaskan pelukan mereka, kemudian memberi jarak antara dirinya dengan Damian.
"Aku tidak mengerti. Kau pergi dari pagi dan tidak mengabariku sama sekali. Dan kau baru kembali saat senja lalu menggumamkan kata maaf. Apa yang sebenarnya terjadi, Damian? Apakah kau membuat sebuah kesalahan yang akan membuatku marah?"
Damian menggelengkan kepalanya, dia lalu tersenyum sendu sambil mengusap kepala Angel dengan penuh kasih sayang.
"Lupakan yang terjadi hari ini.
Oh iya, aku membawakanmu sesuatu."
Pria itu lalu beranjak sejenak untuk mengambil sebuah paper bag yang sebelumnya dia letakkan di sofa. Dan tanpa mengatakan apapun, dia menyerahkan benda tersebut kepada Angel.
"Apa ini, Damian?"
"Kau lihat saja!!"
Angel segera membukanya, dan itu merupakan sebuah gaun berwarna silver dengan di dapukan berwarna putih. Dan sangat nampak sekali bahwa gaun itu bukanlah gaun abal-abal atau murahan.
"Sebuah gaun?"
Damian mengangguk, "Gaun itu akan kau kenakan untuk nanti malam."
"Baiklah. Lalu, dimana milikmu?"
"Sudah berada di kamarku."
"Benarkah? Bolehkah aku melihatnya?"
"Tidak. Kau akan melihatnya nanti, saat aku memakainya malam ini."
Angel mendesah kecewa, "Baiklah."
"Masuklah ke kamarmu lalu bersiap-siap. Bukankah waktu berdandanmu sangat lama?"
"Tentu saja. Semua wanita memang seperti itu."
"Cepatlah! Aku akan menunggumu."
Sebelum Angel menjawabnya, Damian sudah lebih dulu meninggalkannya di depan kamar. Melihat sikap Damian yang berubah semenjak kepulangannya tadi, membuat Angel bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya.
"Mungkin dia merasa lelah." Angel membuang nafasnya panjang, dan tetap berfikir positif tentang Damian. Dia pun memutuskan untuk bersiap-siap seperti yang Damian katakan.
...* * * ...
"Saat berada disana nanti, kuharap kau tidak akan membuat kesalahan seperti yang lalu. Dan saat sudah tiba, kau jangan jauh-jauh dariku, mengerti?"
Angel memutar bola matanya malas. Ini sudah kesekian kalinya Damian mengingatkannya.
"Aku mengerti, Tuan."
"Bagus."
Terjadilah keheningan di mobil itu. Kini mereka sedang dalam perjalanan untuk pergi ke pesta koleganya Damian. Mereka tampak serasi dengan pakaian yang berwarna senada. Apalagi kini rambut Angel di sanggul dengan indah dan rapi.
Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di tempat tujuan. Saat Angel baru turun dari mobil, dengan cepat Damian merangkul pinggangnya. Dia lalu menuntun Angel untuk memasuki gedung tersebut.
"Kita temui dulu sang pemilik pesta!" ujar Damian.
"Dan kuharap yang memiliki pesta ini tidaklah masih muda." Damian mendengus mendengar gumaman dari Angel.
"Mr. Robinson," sapa Damian pada pria paruh baya yang saat ini sedang membelakanginya.
Pria yang dipanggil itupun segera berbalik, dirinya terlihat begitu antusias saat melihat kehadiran Damian di pestanya.
"Mr. Wilson.."
Damian dan Mr. Robinson lalu bersalaman, dan Angel hanya menganggukkan kepalanya singkat saat pria paruh baya tersebut menatapnya. Tatapan yang Mr. Robinson berikan kepadanya, entah mengapa membuat Angel merasa tidak nyaman. Bukan! Bukan tatapan seperti melecehkan, lebih ke eughh...sulit untuk dijelaskan.
"Est-il venu? (Apakah dia datang?)" tanya Damian.
Mr. Robinson mengangguk, dan wajahnya terlihat serius.
"J'espère que tu ne feras pas de problèmes avec lui plus tard. (Kuharap kau tidak membuat masalah dengannya nanti.)"
"Je n'ai pas promis. S'il dérange la femme à côté de moi, alors je ne resterai pas là. (Aku tidak berjanji. Jika dia mengganggu wanita disampingku, maka aku tidak akan diam saja.)"
"Bien. Alors excusez-moi, je dois saluer mes autres invités. Profiter de la fête!! (Baiklah. Kalau begitu aku permisi, aku harus menyambut tamuku yang lain. Nikmati pestanya!!) Mr. Robinson lalu tersenyum simpul kepada Angel, kemudian meninggalkan kedua pasangan itu.
Angel yang sedari tadi hanya diam saja dan memperhatikan percakapan kedua pria tersebut, akhirnya membuka suaranya.
"Apa yang sebenarnya kau bicarakan dengannya? Mengapa wajah kalian tampak begitu serius?"
Damian menggeleng, "Tidak ada. Dia hanya bertanya siapa dirimu."
"Benarkah? Lalu mengapa wajah kalian harus seserius itu?"
"Oh ayolah, My Angel. Jangan membahas itu!! Lebih baik kita menikmati pesta ini." Damian lalu merangkul bahu Angel untuk mengajaknya ke lantai dansa.
"Damian, aku ingin mengatakan, bahwa aku tidak pandai berdansa. Dan sebelum aku menginjak kakimu, lebih baik kita pergi dari sini."
Damian terkekeh, "Kau tenang saja. Aku akan mengajarimu."
"Tapi, Damian..." Sebelum dirinya menyelesaikan kata-katanya, Damian sudah lebih dulu menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Kau diam saja! Dan perhatikan baik-baik kaki-ku." Damian pun mengajari Angel cara berdansa. Tak jarang Angel menginjak kaki Damian, namun Damian memakluminya.
Hanya membutuhkan waktu sebentar, Angel sudah lumayan hafal dengan gerakan-gerakannya. Dan itu membuat Damian tersenyum puas.
"Sepertinya setelah pulang dari sini, aku harus menyuruh Mario untuk memijat kaki-ku."
Angel mendengus, "Kan aku tidak sengaja."
"Aku bercanda," kekeh Damian.
"Emm, Damian.." Pria itu hanya membalasnya dengan deheman singkat.
"Saat Mr. Robinson bertanya tentang siapa diriku, lalu apa yang kau jawab?" Entah mengapa Angel merasa penasaran dengan ini. Dan lihatlah sekarang!! Damian menunjukkan senyum miringnya.
"Kau ingin aku menjawab apa?"
"Lupakan saja!!" Angel merasa menyesal menanyakan itu. Dan entah kenapa mulutnya ini tidak bisa di kontrol.
Melihat Angel yang memalingkan wajahnya, membuat Damian tersenyum kecil. Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga wanita tersebut.
"Kujawab, bahwa kau merupakan calon ibu dari anak-anakku."
Karena lampu disana agak temaram, Damian pun tidak dapat melihat rona merah pada wajah Angel. Mereka berdua saling berpandangan, sebelum akhirnya mereka memutuskan kontak mata saat tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Damian.