
"Huffttt...akhirnya." Damian bergumam lelah sambil menyenderkan tubuhnya di dinding.
Mereka sudah berada di atas menara yang paling tinggi. Angel bisa melihat semuanya dari atas sana dengan kagum. Rasa lelah Damian kini terbalaskan dengan melihat raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Angel.
"Are you happy now?" tanya Damian, Angel mengangguk singkat sambil tersenyum kecil.
"Apa kau lapar?"
"Lumayan," jawab Angel tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan di hadapannya.
"Baiklah. Ayo ikut aku." Damian kemudian menarik tangannya untuk menuju ke sebuah restaurant yang ada disana. Restaurant Le Jules Vernes, ialah restaurant yang berada di Menara Eifel pada tingkat dua. Menu yang paling terkenal disitu ialah steak dan wine-nya.
"Silahkan duduk, Nyonya!!" ujar Damian sambil menarik kursi untuk Angel duduki.
"Nyonya? Siapa yang kau maksud?" Angel menatap Damian dengan dahi yang mengkerut bingung.
"Tentu saja dirimu."
"Aku belum menikah. Dan panggilanku Nona, bukan Nyonya."
"Tapi sebentar lagi kau akan menikah?"
Lagi-lagi Angel dibuat bingung oleh pria itu.
"Aku? Akan menikah dengan siapa?"
"Tentu saja diriku, memangnya dengan siapa lagi?"
Seketika tatapan Angel berubah menjadi datar.
"Sayangnya, aku tidak mau menikah denganmu."
"Aku tidak perduli, kau akan menerimanya atau tidak. Yang jelas, kita akan menikah walaupun aku harus memaksamu." Damian mengatakannya dengan serius, seolah-olah itu ungkapan dari hatinya.
Tak lama, datanglah seorang waittres yang menanyai pesanan mereka. Pesanan Damian dan Angel sama, kecuali minuman. Pria tersebut memesan wine, sedangkan Angel tidak meminum air yang beralkohol itu. Setelah menyebutkan pesanan mereka, waittres tadi segera undur diri.
Kini keduanya saling diam. Angel yang sibuk dengan pikirannya, dan Damian yang memfokuskan matanya kearah wanita itu. Merasa terus di perhatikan, membuat Angel menjadi jengah.
"Berhentilah menatapku seperti itu."
"Ada apa memangnya? Apakah kau tersipu?" Damian tersenyum menggoda, namun sayangnya Angel membalasnya dengan tatapan super datar andalannya.
"Apakah aku terlihat seperti seorang wanita yang sedang tersipu?"
"Tidak. Tapi, tidak bisakah jika sesekali kau membuatku senang? Misalnya, kau berpura-pura tersipu."
"Aku tidak ingin membuang tenagaku untuk hal semacam itu."
Damian berdecak, dan akhirnya mengalah. Memang sulit jika berbicara dengan manusia yang terkenal akan kedatarannya.
Pesanan mereka pun datang, namun kali ini dibawakan oleh pelayan yang berbeda.
"Profitéz de fotré repas, mònsieur. (Selamat menikmati makanannya, Tuan)," ujar pelayan tersebut dengan menampilkan senyum menggodanya untuk Damian.
Tapi sayangnya, Damian tidak menatap kearahnya sama sekali. Bahkan pria itu justru menyuruh pelayan tersebut untuk segera pergi menggunakan tangannya. Dan tanpa di sadari, Angel sedari tadi memperhatikan wanita itu dengan ekpresi jijik.
"Apa yang dia katakan?" tanya Angel setelah pelayan tadi enyah dari hadapan mereka.
"Kau tidak tahu artinya?"
Angel menggeleng, "Aku tidak mengerti bahasa Perancis?"
Damian berOh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, "Dia hanya mengatakan, Selamat menikmati makanannya, Tuan. Itu saja."
"Kenapa hanya 'Tuan' yang dia ucapkan? Apakah dia tidak menyadari kehadiranku disini?"
"Mana aku tahu, tanya saja padanya," jawab Damian acuh. Pria itu kini sudah mulai sibuk dengan makanannya.
Merasa tidak dipedulikan, Angel pun lekas berdiri kemudian pergi meninggalkan Damian. Selera makannya hilang saat pria itu seakan-akan tidak peduli padanya.
"Kenapa dia menjadi sensitive sekali akhir-akhir ini?"
Damian lalu menyusul Angel. Dan dilihatnya bahwa wanita tersebut sedang berdiri sambil menatap indahnya Kota Paris. Damian pun melangkahkan kakinya menuju wanita itu. Kemudian, Damian mengurung tubuh Angel dari belakang dengan memegang pembatas di depannya.
"Kau marah?" tanya Damian dengan suara pelan, sembari melirik wanitanya yang hanya diam.
"Maafkan aku..." Damian meletakkan dagunya di bahu Angel, namun masih tidak ada respon dari kekasihnya itu.
"Baiklah, kau ingin apa? Aku akan menuruti semua kemauanmu, asalkan kau tidak marah lagi padaku." Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara riuh dari sekitar mereka.
Damian menghela nafasnya, "My Angel?"
Hening...
"Oh ayolah, jangan membuatku gila seperti ini." Damian mengacak rambutnya frutasi.
"Apakah aku harus bertekuk lutut di hadapanmu agar kau mau memaafkanku?"
Masih tidak ada jawaban.
"Okey, baiklah." Damian pun mengeluarkan jurus terakhirnya. Yaitu berlutut di hadapan wanita itu. Namun, sebelum lututnya menyentuh lantai, Angel sudah lebih dulu menahan lengannya.
"Kau tidak perlu melakukan itu." Selepas mengatakan hal tersebut, Angel beranjak pergi dari sana. Damian pun langsung mengejarnya, dan ternyata Angel kembali duduk di kursi restaurant tadi. Bahkan wanita itu kini menyantap makanannya dengan lahap.
"Ternyata kau lapar juga," kekeh Damian, dia lalu kembali ke kursinya tadi.
Angel meliriknya sejenak, kemudian memilih untuk fokus pada makanannya. Dirinya tidak perduli jika Damian akan mengejeknya saat ini, yang dia pedulikan sekarang adalah mengisi perutnya yang kosong. Karena marah pun, butuh banyak tenaga.
Damian ikut menyantap makanannya, sesekali dia melirik kearah Angel sembari tersenyum geli.
Angel berdehem singkat, kemudian menghapus sisa makanannya di bibir menggunakan tisue yang terdapat di meja.
"Pukul berapa sekarang?"
Damian yang saat itu masih makan, langsung menghentikan kegiatannya itu. Dia lalu meminum wine-nya, setelah itu barulah dirinya melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Pukul 2 siang."
Mulut Angel membentuk huruf O.
"Setelah ini kau ingin kemana?" ujar Damian sambil sesekali meminum wine-nya lagi.
"Terserah."
'Ini dia sebuah kata sakral seorang wanita.' Damian membatin. Pria itu lalu bangkit kemudian menyodorkan sebelah tangannya kepada Angel.
Angel menatap tangan itu datar. Lalu, tanpa mengatakan apapun dia pergi meninggalkan Damian. Damian hanya bisa melihat tangannya kasihan, setelah itu dia pun menyusul Angel. Namun sebelumnya, dia tak lupa untuk membayar pesanan mereka lebih dulu.
Wanita itu sudah lumayan jauh dari pandangannya. Damian pun mengejarnya dengan sedikit berlari, tapi tak lupa untuk berhati-hati dalam melangkah.
Saat Angel sudah di depan matanya, Damian langsung menangkap pergelangan tangannya agar berhenti berjalan.
"Tidak bisakah jika kau tidak melangkah dengan tergesa-gesa seperti itu? Bagaimana jika kau jatuh?"
"Lepaskan tanganku," ketus Angel tanpa memperdulikan ucapan Damian.
Sebagai balasannya, Damian pun pura-pura tidak mendengar perkataannya. Dia lalu membawa Angel untuk menuruni anak tangga.
"Kau ini dengar atau tidak? Aku bilang lepaskan tanganku!" Angel berusaha menarik tangannya, namun cekalan tangan Damian begitu kuat.
"Diamlah!!"
"Kau benar-benar menyebalkan," gerutu Angel.
"Yaa, aku memang menyebalkan sekaligus tampan!!" jawab Damian tenang. Sedangkan Angel memutar bola matanya jengah, karena pria yang bersamanya ini selalu bersikap sombong dan terlalu percaya diri.
Akhirnya, keduanya saling diam sambil menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan.