The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Pergi Ke Indonesia?



Di lantai kedua gedung tersebut terdapat sebuah restaurant, dan disanalah keluarganya sedang menunggu kedatangannya.


Damian melihat Hazel yang sudah mengambil posisi di samping istrinya. Mau tidak mau, dirinya harus mengalah lalu mengambil tempat duduk di samping Ibu Elizabeth yang berhadapan langsung dengan Angel.


Tak henti-hentinya pria itu melemparkan senyuman manisnya kepada sang istri. Namun sayangnya, Angel tidak memperhatikannya dan sibuk dengan sarapannya.


Sebuah ide tiba-tiba muncul di otak Damian. Angel yang merasakan sesuatu di bawah sana, seketika tersentak dan langsung menatap kearah suaminya. Pria itu menyeringai dengan kakinya yang masih mengelus kaki milik Angel.


Angel lalu menatapnya tajam sembari memperingati Damian untuk menghentikan aksinya tersebut melalui tatapan. Namun bukannya berhenti, Damian justru semakin menjadi. Bahkan, kaki suaminya itu perlahan naik ke atas pahanya.


Karena sudah terlanjur kesal dan risih, Angel pun menghempaskan kaki Damian. Tapi tanpa di sengaja, kakinya itu malah mengenai kaki Hazel. Sontak saja Hazel menjadi terkejut dan lekas menatap kedua pasangan itu secara bergantian. Namun mereka terlihat acuh, seolah tidak ada yang baru saja terjadi.


"Ada apa, Nak?" tanya Ibu Elizabeth saat melihat Hazel yang tiba-tiba terdiam.


Hazel menggeleng, "Tidak ada, Bu. Hanya saja, ada sesuatu yang mengenai kaki-ku."


"Benarkah? Apa itu?"


"Entahlah. Mungkin hanya sepasang tikus yang sedang bertengkar," jawab Hazel acuh sambil memasukkan daging ke mulutnya.


Merasa tersindir, sepasang suami istri itu melemparkan tatapan tajam mereka kepada sang adik. Tapi Hazel terlihat tidak perduli, mungkin pria itu ingin membalas kedua sejoli tersebut.


"Tidak mungkin ada tikus disini. Ini hotel terbaik di kota ini. Mana mungkin---"


"Aku hanya bercanda, Bu." Dengan cepat Hazel menyela ucapan ibunya. Jika tidak, wanita paruh baya tersebut pasti akan mempermasalahkannya.


Mereka telah menyelesaikan sarapannya tanpa sisa. Untuk sejenak keheningan terjadi di meja itu, hingga akhirnya Hazel membuka suaranya lebih dulu.


"Ibu..." Bukan hanya Ibu Elizabeth yang menatapnya, tapi Damian dan Angel ikut terfokus kearah Hazel.


"Ada apa?" tanya Ibu Elizabeth dengan lembut.


"Aku... Aku akan berlibur untuk menghabiskan sisa cutiku."


"Tentu saja kau boleh. Tapi, kau akan berlibur kemana?"


Mendadak tenggorokkan Hazel menjadi kering. Dia lalu berdehem pelan agar suaranya kembali normal.


"Aku akan ke Bali, Indonesia."


Penuturan Hazel membuat Angel menghentikan kegiatannya yang ingin menyeruput minuman. Wanita tersebut menyipitkan matanya penuh selidik. Sepertinya dia tahu apa maksud dan tujuan adiknya untuk datang ke Bali dengan embel-embel berlibur.


Ibu Elizabeth tersenyum lalu mengangguk. Hazel menghembuskan nafasnya lega sembari mengulum senyumnya. Tatapan ibunya lalu berpindah kepada pasangan pengantin baru.


"Kalian berdua apakah tidak ada keinginan untuk berbulan madu?"


"Tentu saja ada, Bu. Tapi kami sedang memikirkan kemana tempat yang bagus dan terbaik untuk bulan madu kami. Bukankah begitu, Damian?" Suaminya itu hanya mengangguk singkat. Bagi Damian, untuk apa berbulan madu jika mereka tidak bisa saling bersentuhan.


...* * * ...


Setibanya di rumah, Hazel langsung berkemas dan segera berangkat ke bandara. Ibu Elizabeth terlihat heran. Haruskah Hazel berangkat secepat itu? Mengapa tidak besok saja dan bersitirahat dahulu? Apakah Hazel tidak merasa lelah dengan aktivitas mereka yang baru-baru ini?


Tak ingin terlalu memikirkannya, Ibu Elizabeth memilih untuk masuk ke kamarnya dan beristirahat. Pesta pernikahan putrinya kemarin, benar-benar membuatnya lelah. Bahkan dirinya merasa sulit untuk tidur semalam.


Di malam hari, tepatnya di kamarnya, Angel terlihat mondar-mandir. Damian yang sedari tadi memperhatikannya, menjadi pusing sendiri. Tiba-tiba istrinya tersebut menjentikkan jarinya. Sedetik kemudian Angel menghampirinya yang sedang duduk di tepi kasur.


"Aku ingin ke Indonesia untuk menyusul Hazel."


Wajah Damian berubah menjadi datar. "Tidak! Lagi pula untuk apa kau menyusul Hazel? Dia bukanlah anak kecil yang perlu kau awasi. Biarlah Hazel memperjuangankan cintanya saat ini."


Angel menyipitkan matanya dengan kening yang mengkerut heran, "Darimana kau tahu bahwa Hazel kesana untuk menemui Jessica?"


"Apa yang tidak aku ketahui?" Damian dengan tenangnya menjawab sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


"Apa kau mematai kami?" Yang Angel maksud dengan kami adalah dia dan keluarganya. Wanita itu menunjukkan wajah tidak sukanya kepada Damian.


"Benar. Tapi tujuanku mematai kalian untuk memastikan bahwa kalian dalam posisi yang aman."


Angel berdecih. Alasan macam apa itu? pikirnya. Dia lalu kembali ke topik awal.


"Kau tidak ingin menemaniku ke Indonesia?"


"Aku bukan tidak ingin menemanimu, tapi aku tidak mengizinkanmu kesana."


"Kenapa?" Angel tidak perduli jika Damian tidak mengizinkannya, karena dia akan tetap pergi walaupun pria itu tidak ingin menemaninya bahkan sampai melarangnya.


"Jika kau tidak mau, tidak masalah. Aku akan pergi, walaupun hanya sendiri."


Hembusan nafas berat keluar dari hidung Damian. Jika istrinya sudah berbicara begitu, maka dia bisa berbuat apa? Dari kecil sampai detik ini, Angel masih sama yaitu keras kepala.


"Kau benar-benar akan pergi? Walaupun aku tidak mengizinkanmu?"


Angel mengabaikan pertanyaannya dan mulai sibuk mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Dengan berat hati, akhirnya Damian menyetujuinya.


"Baiklah. Kita akan pergi ke Indonesia. Anggap saja itu sebagai bulan madu kita." 'Walaupun aku tidak mendapatkan jatahku,' tambah Damian dalam hati.


Pergerakkan tangan Angel terhenti. Wajahnya kini tersenyum bahagia. Lalu dengan antusias, Angel berbalik kemudian memeluk Damian. Mungkin karena terjangan Angel yang lumayan kuat, atau Damian yang tidak siaga, membuat mereka terjatuh di kasur dengan posisi yang berpelukan.


Mereka lalu tertawa bersama sembari bersenda gurau. Setelah itu Angel kembali mengepak pakaiannya dengan di bantu oleh Damian. Untuk pertama kalinya seorang Damian mengemasi pakaiannya sendiri. Biasanya, dia sudah mendapatkan pakaian yang telah tersusun rapi di koper.


Namun semenjak bersama dengan Angel, Damian merasakan hidupnya agak berbeda. Dirinya yang jarang tersenyum dan tertawa, tapi sekarang dia selalu melalukan itu, bahkan setiap hari.


Bukan hanya itu! Menurut Damian, Angellah yang paling berani kepadanya. Mulai mencaci maki dirinya, memelototkan mata hingga memukul tubuhnya. Tapi sikap kasar Angel tersebut, justru telah di tiru oleh pria yang dengan beraninya memukul perutnya kemarin, siapa lagi jika bukan James Williams.


Oh ya, mengenai kegiatan kemarin, Damian lupa untuk menanyakan perihal Tyler. Apa yang telah Mario perbuat kepadanya? Damian sengaja tidak memberitahu perihal Tyler kepada Angel. Dirinya takut jika itu mengganggu pikiran istrinya.


Oleh sebab itu, Damian menutup rapat tentang kejadian kemarin. Dia akan menunggu istrinya tidur lebih dulu, setelah itu barulah Damian menghubungi Mario untuk menyiapkan keberangkatannya besok ke Indonesia, sekaligus menanyakan tentang kabar Tyler Robinson.