
"Aku akan menemui Si Berengsek itu," ujar Calvin sambil bangkit dari duduknya. Namun sebelum dia melangkah, lengannya sudah lebih dulu di tahan oleh James.
"Tidak ada gunanya jika kau menemuinya saat ini. Itu sama saja kau mengantarkan nyawamu padanya," tutur James. Mereka kini telah berada di apartement semula, dan James sudah menceritakannya semuanya kepada Calvin dan Vika, termasuk mengenai Angel yang selama ini tinggal bersama Damian.
"James benar, Calv. Lebih baik kita mengatur rencana lebih dulu sebelum menemui Mafia tersebut." Vika menyetujui perkataan James. Ketiganya lalu terdiam, dan memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
'Maafkan aku, Angel. Aku tidak punya pilihan lagi selain menceritakan semuanya kepada mereka.' James membatin, kemudian dia menyandarkan punggungnya pada sofa.
...* * * ...
Angel masih memikirkan James, dan bertanya-tanya mengapa Calvin dan Vika belum mengabarinya hingga detik ini?
Disaat dirinya sedang sibuk merenung, tiba-tiba Damian lewat di depannya, namun sepertinya pria itu tidak menyadari keberadaannya. Angel tersenyum, dia lalu mengikuti langkah Damian. Tadi dirinya tidak sempat untuk mengutarakan perasaannya karena pria itu keburu pergi, tapi sekarang Damian sudah kembali dan ada disini.
Kali ini Angel akan benar-benar mengatakannya. Namun, ada yang membuatnya merasa aneh, tumben Mario tidak mengekori tuannya. Bahkan sejak pagi, Angel tidak melihat keberadaan dari pria itu.
Dahi Angel mengkerut bingung saat melihat Damian pergi ke taman belakang, untuk apa? pikirnya. Wanita itu kemudian melangkah pelan sambil terus mengikuti Damian. Tiba-tiba Damian berhenti, sontak saja Angel ikut berhenti dan berdiri membelakangi pria tersebut.
Dilihatnya jika Damian sedang mengeluarkan ponselnya kemudian menelpon seseorang.
"Apa kalian berhasil menangkapnya?"
"......" Jawaban yang anak buahnya berikan, membuat Damian menggeram kesal.
"Bagaimana bisa kalian kehilangan jejaknya, hah? Apa yang sebenarnya ada di otak kalian itu?" Damian mendesis, kemudian dia memijat pelipisnya karena merasakan kesal dan lelah yang bersamaan.
"....."
"Aku tidak butuh maaf darimu. Yang aku inginkan sekarang adalah, kalian cari dan temukan pria yang bernama James itu!!"
Degg!!
Jantung Angel seolah berhenti berdetak. Bibirnya bahkan terasa kelu untuk mengeluarkan satu katapun, belum lagi kedua kakinya yang terasa lemas.
'Damian, benarkah jika kau yang melakukan ini?' batinnya tidak percaya. Angel lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangan untuk menahan bunyi isakannya.
Tak ingin berada disana lagi, Angel pun berlari keluar dari mansion. Dan seperti biasa, para pengawal dari Damian pasti akan mencegah kepergiannya. Namun karena dirinya sudah terlanjur emosi, Angel dengan cepat memberantas mereka kemudian keluar dari gerbang.
Syukurlah ada sebuah taksi yang melintas di depannya. Dengan segera Angel menghentikan taksi tersebut, lalu lekas masuk ke dalamnya.
...* * * ...
Hari sudah gelap. Tak tahu harus kemana, Angel pun memutuskan untuk pergi ke sebuah taman. Jika dia kembali ke apartement, dirinya tidak tahu harus mengatakan apa kepada Calvin maupun Vika.
Tidak ada yang menemaninya saat ini. Bahkan bulan dan bintang pun tidak muncul malam ini, seolah mereka ikut menjauhinya. Angin bertiup dengan kencang, dan bunyi gemuruh pun terdengar dimana-mana. Dan tak lama, hujan lalu turun membasahi dirinya.
Beberapa orang disana sudah berlarian untuk menyelamatkan diri dari hujan, namun tidak bagi Angel. Biarlah hujan mengenai tubuhnya.
Pandangannya kosong ke depan, dengan kakinya yang terus melangkah tanpa henti. Sekelibat kenangan dirinya bersama Damian muncul di otaknya. Saat mereka sedang berada di paris, lalu pergi ke pesta dan berdansa bersama. Semua itu memenuhi kepalanya.
Tidak bisa untuk menahan ke kecewaannya, Angel lalu menangis seraya menunduk. Mengapa? Mengapa saat nama Damian sudah tertanam di hatinya, namun pria itu justru mengkhianatinya. Perhatian dan sikap Damian yang di tunjukkan kepadanya selama ini, apalah artinya itu?
"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Kau bilang, bahwa kau mencintaiku. Namun mengapa kau justru membuatku terluka sampai seperti ini?" lirih Angel dengan diiringi derasnya hujan.
Angel semakin terisak sambil memeluk tubuhnya sendiri. Tiba-tiba ada sepasang kaki yang berdiri di hadapannya, bahkan Angel tidak merasakan lagi hujan yang mengguyur tubuhnya. Dia lalu mengangkat kepalanya perlahan, dan dilihatnya bahwa itu adalah James yang sedang memayungi dirinya.
"James..." bisiknya, James pun hanya bisa menampilkan senyum sendunya.
"Sudahlah. Ini semua bukan salahmu." James mengusap punggungnya pelan. Dia lalu menarik tangan Angel untuk membawanya ke apartement.
Setibanya disana, Calvin dan Vika menatap Angel tidak suka. Angel pun hanya bisa diam dan hendak keluar, namun tangannya di tahan oleh James.
"Tidak usah hiraukan mereka. Lebih baik kau ganti pakaianmu, sebelum nantinya kau akan menjadi sakit." James lalu mengantarkan wanita itu ke kamarnya dahulu, dan kebetulan bahwa pakaian Angel masih ada disini sebelum akhirnya dia tinggal bersama Damian.
"Kau masih baik padanya, James? Setelah dia melakukan ini kepadamu!" Vika berbicara sinis sambil melipat kedua lengannya di dada.
James menghela nafasnya, "Ini bukanlah kesalahannya. Lagipula, Angel juga merupakan korban dari kebohongan Mafia itu."
"Kau benar! Harusnya kita tidak bersikap seperti ini kepadanya." Calvin menyadarinya, bahwa sebenarnya Angel tidaklah bersalah dalam hal ini. Dan seperti yang James katakan, bahwa wanita itu juga merupakan korban dari kebohongan Damian.
Vika menatap mereka berdua tidak percaya, "Kalian masih membelanya?"
"Sudahlah, Vika. Apa kau lupa, bahwa kaulah yang menyetujui kedatangan Angel kesini? Andai saja waktu itu kau yang datang kesini dan menjalankan misi, mungkin semua ini tidak akan terjadi!"
"Kau menyalahkanku?" Vika tidak terima jika dirinya di salahkan oleh Calvin seperti ini.
"Sudah cukup, kalian berdua!! Ini bukan saatnya untuk berdebat. Sekarang yang kita pikirkan adalah bagaimana cara menangani Mafia itu." James menyela, dan akhirnya kedua lawan jenis itu terdiam.
Sementara di satu sisi, Angel hendak keluar dari kamar itu dan ingin bergabung bersama mereka. Namun mendengar perdebatan diantara Calvin dan Vika, membuatnya langsung menghentikan gerakannya untuk menggapai handle pintu.
Angel lalu memutuskan untuk duduk di tepi kasur sambil menatap lurus kedepan. Andai saja dulu dirinya memilih untuk kabur dari Damian, mungkin ini semua tidak akan terjadi.
'Kau memberiku cinta, tapi kau juga yang memberiku luka.'
"Angel?" panggil seseorang sambil menyentuh bahunya. Seketika Angel menatap orang tersebut, dan ternyata itu adalah James.
Dirinya tidak menyadari jika James masuk ke dalam kamarnya. Mungkin karena dia terlalu hanyut dalam lamunan.
James tersenyum, kemudian mengambil posisi duduk di samping wanita itu.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Entahlah, James. Rasanya aku tidak sanggup untuk menunjukkan wajahnya di hadapan yang lain," lirih Angel dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kau tidaklah bersalah dalam hal ini. Bahkan kau juga merupakan korban dari Mafia itu!"
"Ma-mafia??" Angel benar-benar terkejut.
James mengangguk. "Apakah kau tidak tahu siapa dirinya?"
Angel menggeleng lemah, "Mungkin karena itulah dia menculikmu."
"Kau benar. Karena aku sudah tahu siapa dirinya, oleh sebab itu dia menculikku."
Fakta demi fakta Angel ketahui. Sekarang dirinya mengingat siapa Damian Wilson, pria yang pernah Dave sebutkan sebelum dia datang kesini.
"Dan dia juga takut, karena aku berusaha untuk memberitahumu. Apa kau tahu? Beberapa hari yang lalu aku menelponmu, kau menjawab panggilanku tapi kau hanya diam saja. Lalu tak lama, kau mematikan panggilan itu kemudian memblokir nomorku. Disitulah aku menjadi curiga dan khawatir padamu. Aku kira, Mafia itu menyandera dan mengambil ponsel milikmu," tambah James.
Sekarang Angel ingat saat dirinya berada di pesawat dan hendak kembali ke Sisilia. Saat itu dirinya sedang berada di kamar mandi, namun setelah keluar dari ruangan tersebut, dia mendapati bahwa ponselnya dalam keadaan mati.
'Kaulah pelakunya, Damian.'