
Hari telah berganti. Angel dan Damian melanjutkan kembali aktivitas mereka untuk mengelilingi wisata di Paris.
"Tidak bisakah jika kau tidak mengenakan pakaian formal terus?" Angel menatap Damian heran. Pasalnya, pria itu selalu menggunakan setelan jas dan juga celana bahannya.
"Aku nyaman berpakaian seperti ini," jawab Damian tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Tapi mataku tidak nyaman melihatmu berpakaian seperti itu terus," sewot Angel.
"Jangan dilihat! Lagi pula aku tidak menyuruhmu untuk melihatnya."
"Maaf, Tuan, Nona. Apakah kita jadi untuk berkeliling wisata kembali?" tanya Mario yang menengahi perdebatan kedua manusia di hadapannya ini. Jika tidak dihentikan, maka mereka berdua tidak akan berhenti.
Angel langsung berdiri dari duduknya.
"Jika aku, iya. Entah jika tuanmu." Setelah mengatakan itu, Angel lebih dulu menuju ke mobil
Damian yang melihatnya, jadi mendengus kesal. Dia lalu menatap Mario datar.
"Apa pakaianku ada yang salah?"
Mario dibuat bingung. Jika dia menjawab iya, maka tuannya akan marah. Jika menjawab tidak, maka sama saja dia berbohong.
'Aku rasa tidak masalah jika berbohong demi kebaikan.'
"Tidak, Tuan. Tidak ada yang salah dengan pakaian Anda."
"Tapi kenapa dia bilang begitu?" gumam Damian.
"Ahh, sudahlah." Pria itu mengibaskan tangannya ke udara seolah tidak perduli. Kemudian dia bergegas untuk menyusul Angel yang sudah duduk manis di dalam mobil.
"Kenapa kalian lama sekali?" sungut Angel. Namun Damian hanya diam, begitu pun dengan Mario yang fokus menyalakan mobilnya.
"Apa kalian sedang merajut kasih di dalam sana?" tambah Angel dengan kerutan di dahinya. Dan ucapannya tersebut berhasil membuat kedua pria di mobil itu menjadi terkejut.
Damian pun menarik gemas hidung milik Angel. "Aku masih normal."
"Ya.. ya.., tapi tidak usah menarik hidungku juga." Angel mengusap hidungnya sembari menggerutu tidak jelas. Dan entah mengapa sikapnya itu membuat Damian justru tertawa.
...* * * ...
Kini, tibalah mereka di tempat wisata pertama, yaitu Jardin du Luxembourg.
"Ini seperti istana," gumam Angel dengan tatapan memukau.
"Memang ini istana." Tiba-tiba, Damian sudah berdiri saja di sampingnya. Pria itu lalu melangkah pelan sambil memandangi bangunan tersebut. Dan Angel yang tidak mengetahui tempat ini, hanya diam sembari mengikuti langkah kaki pria di depannya ini.
"Jardin du Luxembourg, adalah rumah Marie de Medici di awal abad ke 17, yang dirancang untuk meniru Istana Pitti dan Taman Boboli di kota asalnya, Florence," jelas Damian.
"Aku tidak bertanya, jadi tidak perlu kau jelaskan." Angel mencebikkan bibirnya. Kemarin, saat dia meminta Damian untuk menjelaskan tentang tempat wisata, pria itu justru menolaknya. Namun sekarang, Damian menjelaskannya tanpa diminta.
"Terima kasih, Nona, atas pujiannya," balas Damian acuh.
Angel menatap Damian aneh, "Dasar gila!!"
"Oh, Tuhan.., sabarkan aku menghadapi calon isteriku ini. Belum menikah saja, dia sudah sering melakukan kekerasan kepadaku. Bagaimana jika sudah menikah nanti?" Damian bergumam dramatis, namun masih dapat di dengar oleh Angel di sampingnya.
"Menyebalkan.." Angel mendelikkan matanya sebal. Kemudian dia kembali fokus pada bangunan megah di hadapannya.
"Apakah tempat ini selalu buka?"
"Tergantung musim. Tetapi sebelum matahari terbenam, taman biasanya masih buka." Angel mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengarkan jawaban dari Damian.
"Sampai kapan kita akan disini?" tanya pria itu. Lalu tanpa permisi dia menarik tangan Angel untuk kembali ke mobil dan membawanya ke tempat wisata selanjutnya.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di tempat kedua. Notre Dame Cathedral, salah satu pusat keagamaan di Paris dan merupakan Gereja Katedral Katolik pertama terbesar yang dibangun di Paris.
"Ehh, mengapa kita kesini?" tanya Angel bingung.
"Memangnya ada apa? Apa kau tidak tahu tempat ini?"
Angel memutar bola matanya malas, "Tentu saja aku tahu. Bahkan anak kecil pun dapat mengetahui tempat macam apa ini."
Damian mengiyakan ucapan Angel lalu menarik tangannya untuk masuk ke dalam. Di dalam sana ternyata lumayan ramai di penuhi orang, entah itu pengunjung ataupun mereka yang sedang berdoa.
"Lumayan ramai," gumam Angel pelan sambil melihat ke sekelilingnya.
"Tentu saja, ini tempat umum." Angel membenarkan perkataan Damian. Lalu terjadilah keheningan di antara mereka. Sebelum akhirnya Damian membuka suaranya kembali.
Angel langsung menoleh padanya, "Apa maksudmu?"
Damian tersenyum, dengan matanya yang menatap Angel dalam.
"Suatu hari nanti aku akan membawamu kesini. Ditempat ini, aku ingin mengucapkan janji suci bersama mu."
Di dalam mata Damian, Angel tidak menemukan gurauan disana. Bahkan keraguan pun, tidak.
"Walaupun kau tidak mau, aku akan memaksamu nantinya. Jika perlu aku akan mengikatmu dan mengacam pendeta untuk menikahkan kita," lanjut Damian dengan wajahnya yang menyebalkan.
Baru saja Angel akan melayang di atas awan, tiba-tiba langsung terhempas kembali karena wajah menyebalkan pria itu.
"Ayo pergi," ajaknya.
"Kenapa terburu-buru?"
Angel menghela nafasnya, "Ini tempat sakral, Damian. Dan aku tidak mau berlama-lama disini."
"Baiklah, lalu kau ingin kemana lagi?"
"Terserah."
"Tidak ada tempat yang namanya 'terserah' disini."
"Ya sudah, aku mengikutimu saja," pasrah Angel.
"Bagaimana jika aku mengajakmu ke pelaminan sekarang?" goda Damian.
Mata Angel pun langsung berkilat merah, "Kau mau mati?"
"Tidak masalah jika aku akan mati setelah menikah denganmu."
Angel hanya bisa menggelengkan kepalanya heran, mengapa dia bisa bertemu dengan pria model macam ini?
...* * *...
Siang menjelang sore, Damian memutuskan untuk mengajak Angel ke tempat yang rindang dan tidak panas. Dan Damian memilih membawanya ke Kanal Saith-Martin.
Damian duduk di salah satu café disana sambil memperhatikan Angel yang sedang duduk di tepi kanal dengan memasukkan kedua kakinya ke air.
"Apa dia jarang bertemu air, sehingga begitu antusias saat melihatnya," gumam Damian sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu membawa minuman dan makanannya ke tempat dimana Angel duduk.
"Terima kasih," ujar wanita itu sambil mengambil makanan Damian begitu saja.
Damian menatapnya sinis, kemudian mengambil posisi duduk di samping wanita tersebut.
"Aku tidak memberimu."
"Aku tidak peduli. Aku lapar."
"Apa kau tidak pernah bertemu air? Sampai-sampai hampir satu jam kau duduk disini," ujar Damian, setelah itu dia meminum kopinya.
Angel hanya diam dan fokus pada makanannya. Damian mengelengkan kepalanya melihat Angel yang makan seperti anak kecil. Dia lalu mengusap saus burger yang ada di bibir Angel dengan ibu jarinya.
"Setelah ini ingin kemana?" Kini suara Damian melembut.
"Aku ingin ke kincir yang sangat besar itu," jawab Angel dengan antusias.
Dahi Damian mengkerut, "Kincir besar?"
Angel mengangguk.
"Apa namanya?" tanya Damian, namun Angel menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
"Besok saja, okey? Ini sudah hampir malam." Damian berusaha membujuknya agar pulang saja dan melanjutkan besok, tapi wanita itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Justru jika malam akan jauh lebih indah, Damian."
Damian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bisa kau beri tahu aku penjelasan sedikit?"
"Mungkin itu Place De La Concorde, Tuan." Tiba-tiba Mario datang dari arah belakang dan menimpali ucapan tuannya tersebut.
"Apa itu benar?" tanya Damian pada Angel.
"Aku tidak tahu. Yang kutahu hanya kincir besar." Jawaban Angel membuat Damian frustasi. Dirinya lalu memutuskan untuk membawa Angel langsung ke tempat dimana kincir besar yang di maksud wanita itu berada. Tidak peduli jika hari hampir malam, yang penting Angelnya bisa senang.