The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Akhir Dari Veronica



Angel berjalan dengan pandangan kosong kedepan. Dan di belakangnya terdapat sebuah sinar yang terang. Angel tidak usah menoleh, karena dia sudah tahu jika api itu berasal dari gudang yang baru saja dia tinggalkan.


Mendadak terdengar suara gemuruh. Dan tak lama, rintikan hujan mulai turun mengenai tubuhnya. Seolah alam tahu jika dirinya saat ini tengah bersedih.


Seketika tubuh Angel luruh dan bertompang pada kedua lututnya. Dia menangis tersedu-sedu. Entah apa yang membuatnya menangis. Karena kehilangan teman terbaiknya yaitu Susan atau merasa menyesal karena telah menghabisi nyawa kakaknya sendiri?


Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Angel menunduk masih dengan tangisannya. Tiba-tiba sepasang sepatu berada di depannya. Angel pun mendongak secara perlahan untuk menatap sang pemilik sepatu tersebut.


"Damian..." lirihnya.


Damian hanya diam sambil menatap Angel lekat. Pria itu lalu berjongkok di hadapan wanita tersebut kemudian membawa Angel kedalam pelukannya.


"Menangislah, jika memang dengan menangis bisa membuatmu menjadi lebih baik." Damian berujar lembut sambil mengelus pelan rambut wanita yang dicintainya itu.


Dan pecahlah sudah tangisan Angel. Dia tidak ingin berpura-pura kuat sementara hatinya begitu lemah saat ini. Angel membalas pelukan Damian dengan sangat erat, seolah hanya itu yang bisa menompangnya agar tidak jatuh terlalu dalam.


Keduanya hanya diam sambil saling berpelukan. Sedangkan Mario yang melihat dari kejauhan, hanya bisa menatap iba pada Angel.


Wanita yang terkenal kuat seperti baja, akhirnya dapat pula lemah layaknya sebuah tisue.


Tangan Angel yang memeluk Damian, perlahan terjatuh. Saat Damian melihatnya, ternyata wanita itu pingsan. Dia pun segera mengangkat tubuh Angel kemudian membawanya masuk kedalam mobil.


Kini tujuannya sekarang adalah rumah sakit. Damian takut jika terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.


...* * *...


"Dimana aku?" tanya Angel saat baru sadar sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


Damian yang melihat Angel sadar, segera mendekat dan menyentuh pipinya. Namun kali ini Angel tidak menolaknya dan memilih untuk diam.


"Bagaimana perasaanmu saat ini? Kau tahu? Kau sangat membuatku khawatir, Sayang." Tatapan Damian begitu lembut, bahkan wajahnya terlihat begitu khawatir.


Entah mengapa Angel merasakan getaran pada hatinya. Tapi langsung segera di tepis olehnya. Karena dia tidak tahu perasaaan Damian terhadapnya dan dia takut jika Damian hanya mempermainkannya.


'Namun melihat betapa dia mengkhawatirkanku, apakah masih pantas jika aku meragukannya?' batin Angel bimbang.


"Dimana aku?" tanya Angel lagi dan berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Kau dirumah sakit."


Sontak Angel langsung melihat ke sekelilingnya. Sebenarnya dia sudah tahu jika berada dirumah sakit sejak pertama membuka matanya, tapi dia memilih untuk bertanya agar bisa mengurangi rasa canggungnya.


"Kau menginginkan sesuatu?" tanya Damian sambil mengelus kepala Angel.


Angel tidak menjawab. Wanita itu justru menatap manik mata Damian. Dilihatnya bahwa tidak ada keraguan sama sekali dimata Damian tentangnya.


"Bisakah aku pulang sekarang?" gumam Angel pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah jika itu mau mu. Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk kita kembali pulang."


Angel lekas mendongak kemudian menatap Damian bingung.


"Pulang kemana?"


"Tentu saja kerumahku," balas Damian enteng.


"Beri aku waktu, Damian. Aku ingin menemui keluargaku."


"Kau memiliki keluarga disini?" Damian pura-pura terkejut dan seolah tidak tahu tentang diri Angel.


"Ya. Aku berasal dari sini. Dan keluargaku juga berada disini."


Damian mengangguk-anggukan kepalanya. "Baiklah. Aku akan menemui keluargamu."


"Jangan," sahut Angel cepat.


"Kenapa?" Alis Damian terangkat sebelah sembari menatap Angel dengan tatapan bingung.


"Kau... menyembunyikan sesuatu dariku?" Damian mendekatkan wajahnya dan menatap Angel dengan penuh selidik.


"Ti-tidak, Damian." Angel menjadi gugup, apalagi wajahnya saat ini sangat dekat dengan Damian.


Damian masih diam sambil menatap Angel intens. Tak lama, pria itu menghembuskan nafasnya kasar kemudian kembali menjauhkan wajahnya.


"Damian.."


Pria itu hanya berdehem untuk menjawab panggilan dari Angel.


"Kau marah?"


"Tidak." Damian lalu tersenyum kemudian mengusap rambut Angel sejenak.


"Ayo pulang."


Angel membalas senyuman Damian dengan senyum tipis. Kemudian mereka pun pergi dari rumah sakit itu.


Damian mengantarkan Angel kerumah ibunya. Karena wanita itu mengatakan, bahwa dirinya akan tinggal disana untuk beberapa hari. Dan Damian hanya bisa menyetujuinya, walaupun dia menolak, Angel pasti akan tetap tinggal di rumah itu.


"Aku masuk dulu."


Damian mengangguk singkat, "Selamat malam."


"Selamat malam." Angel lalu segera keluar dari mobil Damian dan berjalan menuju rumah ibunya.


Dan dari dalam mobil, Damian dapat melihat Angel yang sedang berbicara dengan seorang remaja pria. Yang Damian ketahui bahwa itu adalah Hazel, adik dari Angel.


Setelah memastikan bahwa Angel telah masuk ke dalam. Damian dan Mario pun bergegas pergi meningggalkan tempat tersebut.


...* * *...


Angel memandang pemakaman Veronica dengan datar. Sedangkan ibu dan adiknya tak henti-hentinya menangis dan memeluk tumpukan tanah tersebut.


Angel memang datang ke acara pemakaman Veronica sebagai bentuk hormat bahwa dia adalah kakaknya. Dan Damian tidak bisa menemaninya karena ada urusan mendadak di salah satu perusahaannya yang terdapat di New York.


Tidak ada yang mengetahui sebab dan cerita kematian Veronica. Yang mereka tahu adalah Veronica tewas karena terbakar. Dan pihak polisilah yang disalahkan, tapi sudah diatasi dan dijelaskan bahwa pihak polisi tidak tahu apa-apa. Bahkan mereka menyelidiki kejadian sebelum Veronica meninggal, akan tetapi semuanya tidak ada jejak sedikit pun. Karena memang Angel sudah membersihkan semuanya sebelum dia pergi.


Angel menghembuskan nafasnya lelah lalu mendekati ibunya.


"Ibu, sudahlah. Ayo kita pulang."


Ibunya menggelengkan kepalanya berulang kali sembari menangis tersedu-sedu dan masih memeluk tumpukan tanah itu.


"Kumohon ayo pulang dan beristirahat. Jika Ibu seperti ini terus, Ibu bisa sakit." Angel berusaha membujuk ibunya dengan memasang wajah memelas.


"Ikhlaskan dia. Mungkin ini yang terbaik untuknya," tambah Angel, kemudian membuang nafasnya kasar.


Hazel yang sedari tadi menangis, beralih menatap Angel.


"Apa kau tidak ada sedihnya sama sekali?"


"Aku juga ikut bersedih, Hazel. Namun aku tidak mau menunjukkannya. Jika aku bersedih dan rapuh sama sepertimu dan Ibu, lalu siapa disini yang akan menjadi sandaran dan menguatkan yang lain?" terang Angel.


Ibunya yang mendengar ucapannya, jadi tertegun. Wanita paruh baya itu lalu hendak bangun, dengan cepat Angel dan Hazel membantunya.


"Ayo Nak, kita pulang."


Angel tersenyum simpul sembari mengangguk kecil. Wanita itu lalu menuntun ibunya untuk pulang dengan diikuti oleh Hazel dibelakangnya.


Mereka pulang menggunakan mobil Angel yang di ambilnya dari apartement miliknya. Dengan Hazel yang mengendarai mobil itu, sedangkan Angel dan ibunya duduk di bagian belakang.


Jika saja saat ini keluarganya sedang tidak dalam berduka, ingin sekali rasanya Hazel mengatakan...


"Aku bukan supir😭"