The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Sad Girl



Sudah hampir tujuh jam lamanya Angel mencari Veronica, namun belum juga membuahkan hasil. Bahkan Angel selalu menghubungi pihak polisi untuk menanyakan tentang Veronica, namun hasilnya masih nihil.


Angel lalu memutuskan untuk mampir ke supermarket sejenak untuk membeli minuman. Setelah membayarnya, Angel segera keluar.


Namun baru beberapa langkah, Angel melihat seseorang yang kini sedang di carinya tengah berjalan di trotoar dengan penampilan tertutup. Walaupun begitu, Angel masih dapat mengenali wanita tersebut.


"Veronica," panggilnya dengan suara keras.


Yang di panggil segera menoleh. Dan ternyata benar, jika itu adalah Veronica. Mengetahui keberadaan dari Angel, Veronica pun lekas berlari menjauh darinya. Dan Angel langsung mengumpati kebodohannya itu. Harusnya dia mengendap dan jangan memanggil Veronica seperti tadi.


Alhasil, Veronica justru semakin menjauh darinya. Tanpa membuang waktunya lagi, Angel lalu berlari untuk mengejar wanita itu.


...* * *...


"Benarkah jika Angel sudah kembali? Tapi mengapa dia tidak datang kemari?" tanya Sherly pada Calvin.


Calvin hanya mengendikan bahunya acuh kemudian melanjutkan meminum vodkanya.


"Sudahlah, mungkin dia memiliki urusan pribadi. Dan kita tidak perlu tahu tentang itu." Roby berujar sambil menonton televisi di depannya. Namun sesekali pria itu melirik Sherly yang sedang duduk bersama dengan Calvin dan Vika.


Mereka semua terdiam, dan membenarkan ucapan dari Roby. Tak lama, Sherly berdiri dari duduknya. Dan itu membuat mereka lekas menatap dirinya.


"Aku akan menemui Angel," ujar Sherly mantap.


"Percuma, Angel tidak ingin ditemui siapapun. Bahkan kemarin malam aku diusir olehnya," timpal Calvin.


"Bisakah kau hubungi Angel dan menyuruhnya untuk datang kemari?" Setelah sekian lama, akhirnya Dave membuka suaranya juga.


"Dengan senang hati!!" Calvin lalu segera mengeluarkan ponselnya, kemudian menghubungi Angel. Tapi yang terdengar malah suara operator.


"Bagaimana?" tanya Vika dengan mendekatkan wajahnya pada Calvin.


Calvin pun segera mendorong kening wanita itu agar menjauh darinya.


"Jangan dekat-dekat denganku!!"


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Vika mendengus kesal. Lalu dia memilih untuk menjauh dari Calvin.


"Tidak dijawab olehnya," ujar Calvin sambil mencoba kembali menghubungi Angel.


"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya Sherly sembari menatap kekasihnya tersebut.


"Kita tunggu dia datang kemari." Setelah mengatakan itu, Dave masuk ke salah satu kamar untuk mengistirahatkan dirinya. Karena semalam dia ada pekerjaan dan membuatnya tidak bisa untuk tidur.


Mereka berempat kembali terdiam. Hanya suara televisi yang terdengar di ruangan itu. Sampai pada akhirnya, Vika tidak tahan dan kembali membuka suaranya.


"Ishh, harusnya Angel mengabari kita jika dia kembali." Vika berdecak, kemudian melipat kedua lengannya di dada.


"Itu urusannya. Lagipula, siapa kau? Mengapa Angel harus mengabarimu?" timpal Calvin sarkastik.


"Tapi setidaknya Angel mengabari salah satu di antara kita, agar tidak sampai seperti ini. Bukankah dia datang kesana untuk menjalankan misi? Jika dia kembali, lalu bagaimana dengan disana?"


"Apa kau lupa, bahwa James juga berada disana? Jika Angel kembali, James bisa menggantikannya."


Entah mengapa pembelaan Calvin untuk Angel membuat matanya berkaca-kaca.


"Kau selalu membelanya. Apakah dia begitu sempurna di matamu?"


Roby dan Sherly hanya bisa diam dan menyaksikan perdebatan antara Vika maupun Calvin.


"Tentu saja. Angel sangat sempurna, berbanding terbalik dengan dirimu."


Bagaikan ada sesuatu menghantam dadanya, begitu sakit rasanya.


"Sudah cukup kalian. Mengapa malah berdebat seperti ini?" Sherly tidak bisa diam lagi. Apalagi melihat wajah Vika yang sudah di penuhi air mata.


Lalu tanpa mengucapkan satu patah kata lagi, Vika segera keluar dari ruangan itu. Dan tak lupa untuk menyeka air matanya dengan kasar.


Selepas kepergian dari Vika, mendadak suasana di ruangan tersebut menjadi sunyi dan awkward. Calvin lalu memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu juga, dan kini hanya tersisa Roby dan juga Sherly.


...* * * ...


Vika datang ke danau. Tempat yang pernah dia datangi sebelumnya bersama dengan James.


Tatapannya lurus memandangi danau itu. Hatinya bergejolak saat Calvin mengatakan bahwa Angel lebih baik di bandingkan dirinya.


"Apa aku sebegitu buruknya di matamu?" Air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. Bahkan isakannya semakin keras terdengar.


Tidak ada yang bisa mengerti dirinya, kecuali....


"James..." Mengingat nama itu, buru-buru Vika menghapus air matanya kemudian mencari nomor pria itu di ponselnya.


Tak membutuhkan waktu lama, James menjawab panggilannya. Pria itu terus memanggil-manggil namanya, namun Vika tak kunjung bicara.


"James..." Vika segera memanggilnya saat James ingin memutuskan panggilan ini. Suaranya terdengar parau, dan James tahu apa yang baru saja wanita itu lakukan.


"Ada apa, Vika? Kenapa kau menangis?"


"Kapan kau pulang?" Bukannya memjawab, Vika justru berbalik bertanya.


"Kenapa memangnya? Apakah ada masalah?"


"Tidak. Hanya saja...."


'Aku merindukanmu. Tidak ada yang bisa mengerti diriku selain dirimu,' sambung Vika dalam hati.


"Vika...katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau menangis, hmm?"


Inilah yang Vika suka dari James. Pria itu tidak pernah bicara dengan nada kasar padanya, walaupun Vika akui jika James sering menyebalkan dan membuatnya kesal.


"Tidak, James. Aku... aku hanya merindukanmu."


Disana, James terkekeh geli.


"Apa sebegitu besarnya rindumu padaku hingga menangis seperti itu heh?"


"Apakah aku salah jika merindukanmu?"


"Tidak. Hanya saja... sedikit aneh." James menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apanya yang aneh?"


"Tentu saja aneh. Seorang Vika merindukan seorang James, bukankah itu terdengar agak... tidak masuk akal? Oh jangan-jangan, kau mulai menyukai, kan?"


Vika tersenyum, "Sepertinya iya."


"Sudah kuduga. Oke, Vika. Tunggu aku kembali."


"Memangnya apa yang akan kau lakukan setelah kembali?"


"Kita akan berkencan," bisik James, kemudian terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


Vika pun ikut tertawa. James memang pandai dalam membuat orang senang dengan ucapannya.


"Baiklah, aku tunggu." Vika membalas godaan James padanya.


"Oke. Kalau begitu aku tutup panggilan ini, karena aku ingin mengisi perutku dulu."


"Kau baru makan jam segini?"


"Yaa, begitulah. Aku terlalu sibuk disini. Sampai lupa untuk makan," kekeh James.


Vika menghela nafasnya pelan, "Sesibuk apapun dirimu, kau harus tetap menjaga kesehatanmu, James. Bagaimana jika nanti kau sakit?"


"Tidak masalah. 'Kan ada dirimu yang menjagaku.." James tertawa disana, sedangkan Vika menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau pikir aku perawatmu heh?"


"Bukan perawatku, Vika. Lebih tepatnya calon istriku."


Blussh~


Pipi Vika langsung bersemu merah mendengarnya. Bahkan kini dia tidak tahu harus bicara apa.


"Emm, James. Sepertinya aku harus pergi sekarang," ujar Vika kikuk.


"Aku tahu. Pergilah! Tapi ingat, saat kau bersedih atau butuh teman untuk bicara, kau bisa hubungi aku. Aku akan siap 24 jam untuk mendengarkan isi hatimu."


Tanpa di minta, air mata Vika kembali jatuh.


"Terima kasih, James," bisik Vika.


James hanya bisa tersenyum. Walaupun dia tahu jika Vika tidak dapat untuk melihat senyumannya itu.


"Kalau begitu, aku tutup telponnya."


"Baiklah. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa." Panggilan mereka pun terputus.


Vika menatap sendu ponselnya dengan senyum tipis terukir di bibirnya.


"Andaikan aku harus memilih, aku akan memilih dirimu daripada dia. Namun apa di kata, saat hati ini jauh lebih lebih memilih dia daripada dirimu."