The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Menunggu Jawabanmu



Setelah cukup lama menemani adiknya, kini Angel dan Hazel memasuki ruangan Damian. Dan terlihat bahwa pria itu sudah berkemas hendak pulang. Bahkan di ruangan tersebut sudah terdapat Mario yang menatapnya heran.


"Darimana saja kalian? Mengapa lama sekali di luar?" gerutu Damian sambil menatap keduanya sebal. Namun Angel tidak memperdulikan gerutuan itu, dia justru menghampiri ibunya yang berdiri di samping Damian.


"Ibu, sebaiknya kau pulang bersama Hazel. Hazel tampak pucat, sepertinya dia sedang tidak enak badan."


Mendengarnya, langsung saja Ibu Elizabeth melangkah kearah putranya. Dia lalu menangkup wajah Hazel yang sedang menunduk. Dan benar! Saat ini pria itu tampak tidak baik-baik saja.


"Ada apa denganmu, Nak? Kenapa tidak memberitahu Ibu sejak awal?"


"Aku baik-baik saja, Bu. Angel yang berlebihan tentangku," jawab Hazel dengan suara lemah.


Angel menghela nafasnya singkat dan kembali mendekat kepada adiknya itu.


"Sebaiknya kau pulang dan beristirahatlah."


"Angel..." Hazel memohon kepada Angel melalui tatapannya. Dirinya merasa baik-baik saja sekarang, dan tidak perlu di khawatirkan.


"Kakakmu benar. Ayo kita pulang sekarang, atau kau mau di periksa di rumah sakit ini?"


Secara tegas Hazel menggeleng menolak. Akhirnya dia menyetujui untuk pulang daripada harus di periksa. Ibu Elizabeth lalu berpamitan kepada Damian dan mengatakan bahwa dirinya tidak bisa untuk mengantarkan Damian pulang ke apartementnya.


Damian memaklumi itu, dan membiarkan Ibu Elizabeth pulang bersama Hazel. Toh, masih ada putrinya yang menemaninya disini.


...* * * ...


Angel menatap ke sekelilingnya. Apartement yang luas dan mewah, khas seorang Damian.


"My Angel?" Panggilan dari Damian membuat sang pemilik nama tersentak. Angel lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri pria tersebut yang sedang duduk di sofa.


Di ruangan itu hanya terdapat mereka berdua. Mario sudah lebih dulu pergi karena harus mengurus sesuatu.


"Ada apa?" tanya Angel yang telah mendaratkan bokongnya di samping Damian.


Pria itu tersenyum, kemudian menggapai kedua tangan Angel dan menggenggamnya.


"Aku ingin mendengar jawaban darimu tentang lamaranku."


Angel merasakan tenggorokkannya kering, dia pun berdehem singkat sambil menghindari tatapan dari Damian.


"Apakah harus sekarang aku menjawabnya?"


"Tentu saja. Aku tidak dapat untuk menunggu lebih lama lagi, karena besok aku harus kembali ke Sisilia." Ungkapan Damian membuat Angel lekas menatapnya.


"Kau... Bercanda?"


Damian kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Untuk apa aku bercanda di saat seperti ini? Aku benar-benar harus kembali besok. Dan... Aku menunggu jawaban darimu."


"A-aku... Aku tidak bisa menjawabnya sekarang," bisik Angel dengan gugup.


"Baiklah." Damian tetap menampilkan senyumannya walaupun saat ini dirinya kembali merasakan kekecewaan.


"Aku akan menunggu besok. Pukul 11, aku sudah akan berangkat. Dan kau pastikan untuk menemuiku sebelum itu."


Angel mengangguk, "Aku akan berusaha untuk menemuimu."


'Jika kau tidak datang besok, maka aku benar-benar akan kecewa padamu, Angel!' seru Damian di dalam hatinya.


Hari sudah mulai gelap, Angel pun memutuskan untuk kembali pulang. Ketika dirinya hendak keluar, tiba-tiba Damian menarik tangannya lalu memeluknya erat.


"Aku menantimu besok," lirih Damian. Angel hanya mengangguk. Dia lalu melepaskan pelukannya, setelah itu melangkah perlahan menuju lift.


Memikirkan itu saja, membuat tenaganya terkuras. Dan bukan hanya itu, tubuhnya pun terasa begitu letih. Akhirnya Angel memilih untuk langsung mengistirahatkan tubuhnya bila telah tiba di rumah. Namun sebelumnya, Angel mengirimkan sebuah pesan kepada Vika dan James untuk bertemu besok pagi.


...* * * ...


Pagi-pagi sekali Angel turun dari anak tangga dengan terburu-buru. Ibu Elizabeth yang sedang menyiapkan sarapan, lekas melihat siapa itu.


"Kau mau kemana sepagi ini?"


"Aku ada urusan, Bu. Kalau begitu aku pergi dulu." Angel lalu melangkah keluar tanpa menghiraukan teriakkan ibunya yang memintanya untuk sarapan lebih dulu.


Angel sudah memesan taksi melalui aplikasi online. Oleh sebab itu, ketika dirinya baru saja keluar, taksinya sudah menunggu di halaman rumahnya. Dengan segera Angel masuk dan memberitahu supir tersebut lokasi yang dia tuju.


"Apakah mereka sudah datang?" Wanita itu melihat pergelangan tangannya. Yang dimana sekarang masih menunjukkan pukul 6.03 pagi.


Helaan nafasnya muncul tatkala menyadari bahwa kedua pasangan itu pasti belum datang di tempat janjian mereka.


Setibanya di lokasi, Angel langsung turun dari taksi kemudian melangkah pelan memasuki cafe. Suasana di cafe itu terbilang cukup sepi karena ini masih sangat pagi. Hanya ada dua pelanggan yang sedang sarapan bersama. Ehh, tunggu dulu. Sepertinya Angel mengenali mereka.


Tiba-tiba salah satu pelanggan tersebut melambaikan tangannya sambil tersenyum kepadanya. Sontak saja Angel langsung melangkah cepat saat tahu bahwa itu adalah James dan Vika. Kedua sejoli itu tengah memakai topi, jadi Angel tidak terlalu jelas melihat wajah mereka.


"Apakah kalian sudah lama disini?" tanya Angel dengan raut bahagia.


"Tidak. Kami baru saja tiba disini dan langsung memesan sarapan," jawab Vika, sedangkan James tampak cemberut.


Melihat ada yang tidak beres, Angel lalu bertanya kepada Vika melalui tatapan matanya.


"Dia marah kepadaku. Karena aku mengganggu tidur paginya."


"Hanya itu?" Vika mengangguk dan James mendengus.


"Andai saja kau membangunku dengan lembut, mungkin aku tidak akan marah saat ini."


"Harusnya kau langsung bangun ketika aku membangunkanmu. Tapi kau justru tetap tidur dan mengatakan 'lima menit lagi', dan seperti itu seterusnya. Jadi, aku terpaksa menyirammu agar kau lekas bangun dan tidak mengantuk lagi," jelas Vika tanpa rasa bersalah.


"Tapi---"


"Hussh..." Vika langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu.


"Diamlah! Aku tidak ingin mendengarkan alasanmu itu, oke?"


Akhirnya James mengalah, namun wajahnya masih cemberut seperti tadi. Karena berdebat dengan Vika, tidak akan ada habisnya.


Sarapan mereka telah datang. Angel pikir, Vika hanya memesan sarapan untuk dirinya dan James, ternyata wanita itu memesankan sarapan untuknya juga.


Mereka sarapan bersama, sesekali kedua wanita itu mengobrol ringan. Sedangkan James, memilih untuk fokus pada sarapannya. Lagipula, wanita-wanita tersebut tidak mengajaknya untuk bicara.


"Aku sudah lama tidak bertemu atau mendengar kabar tentang Dave," ujar Angel.


Seketika Vika menghentikan makannya sambil menatap serius pada wanita di sampingnya itu.


"Apakah kau tidak tahu kabar tentang Dave sama sekali?"


Angel menggeleng, tanda dirinya tidak mengetahui apapun.


"Kau benar-benar ketinggalan berita rupanya." Vika lalu berdehem singkat, "Dave sudah tidak ada lagi disini. Pria itu telah pergi ke London untuk menjalankan bisnis daddy-nya."


Butuh waktu lama bagi Angel untuk mencerna ucapan Vika. Bagaimana bisa dirinya tidak mengetahui kabar tentang kepergian Dave? Sedangkan kedua temannya ini mengetahui segalanya.