
Bulan telah sirna dan sekarang digantikan oleh kehadiran matahari. Seperti biasa Grace pergi ketempat kerjanya, namun dia tidak menemukan Veronica dimeja sebelahnya.
"Tumben belum datang. Apa dia tidak masuk?"
Tak berselang lama, wanita yang di bicarakannya muncul dengan wajah yang berseri-seri.
"Ada apa denganmu?" tanya Grace bingung.
Pasalnya, Veronica kemarin marah-marah tidak jelas saat hendak pulang dan sekarang malah tersenyum-senyum tidak jelas.
"Kau tahu? Aku baru saja bertemu dengan Henry!" pekik Veronica antusias.
"Henry? Siapa?"
Veronica mendengus sebal, "Tentu saja Manager tampan itu."
Grace pun hanya berOh ria. Mendapat respon seperti itu, membuat Veronica menjadi kesal.
"Ayolah Grace, tanyakan sesuatu."
Grace memutar bola matanya malas, "Apa yang membuatmu begitu senang? Bukankah kalian hanya bertemu?"
"Tentu saja tidak. Dia menyapa dan tersenyum padaku," sahut Veronica dengan girangnya.
Melihatnya, membuat Grace berdecak.
"Sudahlah, aku ingin bekerja."
Veronica menjadi cemberut lalu memilih untuk duduk dikursinya. Dia pun melakukan hal yang sama seperti yang Grace lakukan.
Grace melirik Veronica yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Kemudian senyum misterius muncul di bibir wanita tersebut.
Tersenyumlah selagi kau bisa.
...* * * ...
Waktu istirahat pun tiba. Seperti biasa Veronica dan Grace kekantin. Saat dikantin, pemandangan tidak mengenakan muncul dihadapan mereka.
Dimana Henry dan Susan makan bersama sambil mengobrol ringan yang membuat wajah Veronica memerah.
Veronica kemudian menghampiri kedua manusia lawan jenis itu.
"Hay, boleh aku duduk disini?" ujarnya dengan menampilkan senyum paksa.
Henry menatap Susan sejenak lalu mengiyakan ucapan Veronica. Veronica memilih duduk disamping Henry sedangkan Grace memilih makan sendiri dan menikmati pemandangan yang menurutnya menyedihkan.
"Dasar tidak tahu malu. Pantas saja tidak ada seorangpun yang ingin menjadi temanmu." Grace menggelengkan kepalanya, kemudian dia melanjutkan kegiatan menyantap makanannya.
Kembali kepada tiga orang tadi...
Veronica memperlihatkan senyum manisnya pada Henry, namun saat pandangannya beralih pada Susan, dia langsung menatapnya tajam. Susan yang merasa risih, akhirnya memilih untuk menyingkir dari sana.
"Mau kemana?" tanya Henry yang melihat Susan berdiri.
"Maaf, Pak, saya sudah kenyang. Kalau begitu saya kembali keruangan saya. Permisi." Susan kemudian mempercepat langkahnya agar segera keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu.
Henry berdiri dan hendak mengejar Susan, tapi tangannya di tahan oleh Veronica.
"Biarkan saja, Pak. Mungkin pekerjaannya memang sedang banyak."
Pria itu menghembuskan nafasnya kasar. Dan akhirnya Henry kembali duduk dengan matanya yang fokus melihat punggung Susan yang mulai menjauh.
Veronica begitu senang karena hanya ada dia dan Henry dimeja tersebut. Dan sangking senangnya, rasanya dia ingin berteriak saat itu juga.
Grace yang melihat dari kejauhan, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari wanita yang sedang duduk bersama dengan Henry itu. Dia pun memutuskan untuk kembali keruang kerjanya saja.
Karena di ruangan itu hanya ada dirinya, Grace lalu mengambil kesempatan untuk mengutak-atik komputer dan meja Veronica. Mungkin dia bisa menemukan sesuatu untuk dia jadikan sebuah ide.
...* * * ...
Seperti biasa, Angel menemui Susan dan kebetulan wanita yang ingin dia temui itu baru saja keluar dari kantin.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Angel ketika Susan sudah berada didalam mobilnya.
"Aku baik-baik saja. Dan dirimu?"
Angel tersenyum tipis, "Seperti yang kau lihat."
Keduanya kini terdiam dengan pikiran masing-masing. Susan lalu melihat kearah kantin yang kebetulan kacanya transparan. Ternyata Veronica dan Henry masih berada disana.
Sepertinya Veronica menyukai Henry. Susan bersuara dalam hati.
Melihat Susan yang terus-menerus menatap ke arah kantin, Angel pun mengikuti arah pandang wanita itu.
"Ada apa? Apa dia mencari perkara denganmu?"
"Tidak," jawab Susan yang masih belum mengalihkan pandangannya.
"Hmm," "Bagaimana ayahku?" tanya Susan yang mengalihkan perhatian Angel.
"Aku sudah berbicara dengan dokter yang menangani ayahmu disana. Dia bilang keadaan ayahmu cukup membaik walaupun itu hanya beberapa persen. Setidaknya, ayahmu ada sedikit perkembangan disana," jelas Angel. Sesekali matanya melirik ke tempat dimana Veronica berada.
Susan menghela nafasnya lalu menatap wanita disampingnya ini,
"Terima kasih," ujarnya tulus.
"Aku benci kata-kata itu."
Susan terkekeh. Angel memang tipikal orang yang tidak suka diberi pujian oleh orang lain. Dia bilang "Dengan sebuah pujian, bisa membuat kita menjadi sombong."
Itulah yang membuat Susan bangga pada temannya satu ini. Walaupun kini sikapnya sudah banyak berubah, tapi menurutnya Angel yang sekarang tetap akan menjadi Angel yang dulu.
"Berhati-hatilah padanya," ujar Angel ketika Susan hendak membuka pintu.
"Siapa yang kamu maksud?" Bingung Susan.
Angel menunjuk seseorang yang berada dikantin dengan seorang pria. Siapalagi jika bukan Veronica.
"Kau tenang saja. Aku bisa menjaga diriku."
Angel memutar bola matanya jengah, "Terserah dengan apa yang kau ucapkan."
Susan tertawa kecil, "Baiklah, aku masuk sekarang. Sampai jumpa dan mengemudilah dengan hati-hati."
Setelah Susan turun, Angel tak henti-hentinya menatap ke arah Veronica. Wanita itu lalu mengambil ponselnya yang tersimpan di saku celana, kemudian dia menelpon seseorang.
"Jangan terlalu lama. Hancurkan dia secepatnya."
Hanya mengatakan itu, Angel lalu menutup teleponnya secara sepihak tanpa mendengarkan jawaban dari orang disebrang ponselnya. Dia pun bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali ke markasnya.
...* * *...
"Baiklah, cukup sekian pertemuan kita hari ini. Tolong tetap waspada dan hindarilah yang namanya perselisihan," ujar Mr. Robert menutup meeting tersebut dan menekan kata diakhir kalimatnya sembari melirik kearah Calvin dan Vika.
Karena saat dia baru datang kemari, dia sudah dikagetkan dengan sebuah bantal yang hampir saja mengenai wajahnya jika saja dia tidak menghindar. Dan itu semua ulah Calvin dan Vika yang selalu memperdebatkan hal yang sepele.
"Yes, Mr...," jawab mereka serempak.
Mr. Robert akhirnya meninggalkan tempat itu, namun sebelumnya dia memandang kearah Calvin dan Vika sejenak yang tengah menundukan kepalanya.
"Itu semua karenamu," gerutu Vika pada Calvin.
"Dasar tidak sadar diri." Karena tidak ingin membuat gaduh lagi, Calvin lalu meninggalkan wanita itu dan mengambil posisi duduk disamping Angel.
Vika yang melihat Calvin meninggalkannya begitu saja, jadi cemberut. Kemudian dia mendengus sembari memalingkan wajahnya.
"Akhir-akhir ini sepertinya kau sibuk sekali." Calvin membuka percakapannya sambil menuangkan sampanye ke dalam gelas.
"Yaa, seperti itulah," jawab Angel seadanya.
"Jika kau butuh bantuan, katakan saja.
Tidak usah sungkan."
Calvin yang tahu jika Angel tidak menyukai minuman beralkohol, pria itu lalu mengambil satu kaleng soda dan membukanya, kemudian dia berikan kepada Angel. Dan itu semua tak luput dari penglihatan rekan-rekannya.
"Terima kasih," ujar Angel sambil menerima sekaleng soda tersebut.
Dan entah mengapa, James yang melihat itu menjadi gusar dan kikuk, begitupun dengan Vika. Dan yang lain dapat merasakan suasana canggung di ruangan itu.
"Aku keluar," ujar James tiba-tiba.
"Kau mau kemana?" tanya Roby.
"Hanya mencari udara segar." Pria itu lalu melangkah keluar. Namun saat baru di depan pintu, tiba-tiba Vika berteriak.
"Jamess, bolehkah aku ikut?"
Tanpa membalikkan tubuhnya, James berdehem singkat. Dan tanpa menunggu wanita itu, James melangkah keluar lebih dulu. Vika pun berlari untuk mengejar rekannya tersebut.
"Mengapa aku merasa mereka seperti sedang cemburu saja?" celetuk Sherly.
"Mungkin memang benar jika mereka sedang cemburu," balas Dave sambil merangkul kekasihnya itu.
Angel yang mendengarnya menjadi terdiam dengan alis yang bertaut.
Tidak mungkin jika James menyukaiku.
Calvin pun sama. Dia melihat kepergian Vika dan James dengan hati berkata,
Benarkah dia cemburu? Tapi sejak kapan dia menyukaiku? Bahkan aku selalu bertengkar dengannya. Tiada hari tanpa bertengkar. Apa ini yang dikatakan dengan karma? Benci berubah menjadi cinta?