The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Sesi Pemotretan



Sebelah tangan Damian dia gunakan untuk menyetir. Dan sebelah tangannya lagi, tidak ingin terlepas dari jemari kekasihnya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan untuk menemui Ibu Elizabeth di butiknya. Senyum bahagia tidak pernah luntur dari wajah keduanya.


Ibu Elizabeth yang melihat kedatangan keduanya dengan bergandengan tangan, bisa menebak apa yang baru saja terjadi. Apalagi putrinya tampak tersenyum malu-malu ketika mata mereka bertemu.


"Ada apa ini? Mengapa aku mencium bau-bau yang tidak beres?" goda Ibu Elizabeth. Damian tertawa, sedangkan Angel menunduk karena malu.


"Kami datang kesini untuk meminta restumu, Ibu."


"Restu untuk apa?" Ibu Elizabeth berpura-pura tidak tahu.


"Tentu saja untuk pernikahan kami," jawab Damian sambil melirik wanita di sampingnya.


Ibu Elizabeth ikut melirik putrinya sejenak, "Dia menerimamu, Damian?"


"Tentu saja. Tidak akan ada wanita yang bisa menolak seorang Damian."


Angel menatapnya sebal. Dia lalu melepaskan tangannya dari genggaman Damian, kemudian melangkah kearah ibunya. Tiba-tiba wanita itu memeluk Ibu Elizabeth, sembari menggumamkan kata 'Terima kasih untuk semuanya'.


Ibu Elizabeth tidak tahu untuk apa putrinya berterima kasih, namun dia menganggukkan kepalanya saja seolah mengerti.


"Jadi... Kapan kalian akan menikah?" tanya wanita paruh baya tersebut sambil melepaskan pelukannya.


"Satu bulan---"


"Minggu depan!" Sebelum Angel menyelesaikan ucapannya, Damian dengan cepat menyelanya.


Angel langsung memelototkan matanya kepada pria itu. Mana mungkin dalam sepekan semuanya bisa terselesaikan.


"Tapi, Damian...."


"Hushh... Biar aku yang mengurus semua, oke? Kau cukup duduk manis di rumah!" Damian mengedipkan sebelah matanya, dan itu membuat Ibu Elizabeth tertawa.


"Dan untuk masalah gaun, biar Ibu yang mengurusnya. Ibu akan membuatkan gaun yang spesial untuk putri Ibu, dan tuxedo spesial untuk calon menantu kesayanganku ini." Ibu Elizabeth lalu mengusap lembut kepala kedua sejoli itu. Rasanya baru kemarin dia menggendong Angel, tapi sebentar lagi putrinya tersebut akan menikah.


Damian dan Angel lalu memeluk Ibu Elizabeth secara bersama. Air mata yang sedari tadi terbendung di pelupuk matanya, kini tak bisa Ibu Elizabeth tahan. Namun dengan cepat dia menyekanya, setelah itu Ibu Elizabeth melepaskan pelukan mereka.


"Kalian berdua, ayo ikut Ibu. Ibu akan mengukur tubuh kalian." Damian dan Angel mengangguk. Dan tanpa banyak bicara, mereka segera mengikuti langkah kaki Ibu Elizabeth.


...* * *...


"Damian, apakah kau yakin ingin menyelenggarakan pernikahan kita pada minggu depan? Bukankah semuanya butuh persiapan?" tanya Angel sambil menghadap Damian yang sedang menyetir. Sekarang mereka dalam perjalanan hendak pulang.


"Tentu saja aku yakin. Dan bukankah sudah kukatakan, bahwa semua persiapannya biar aku yang akan mengurusnya. Kau hanya tinggal menunggu hasilnya saja."


Akhirnya dengan pasrah Angel mengikuti keinginan Damian untuk menikah dalam waktu dekat. Tapi dirinya juga memiliki sebuah syarat agar pernikahan mereka bisa berlangsung sesuai dengan keinginan pria tersebut.


"Damian, aku ingin pernikahan kita di laksanakan di New York."


"Bagaimana jika kau menolaknya?"


Sontak Damian tertawa mendengar ancaman itu.


"Aku bercanda. Aku tidak masalah dimana kita akan menikah, karena bagiku itu tidak penting. Asalkan pernikahan kita bisa terlaksana dan di hadiri oleh keluarga."


Senyum Angel mengembang. Dia lalu memeluk Damian, yang membuat pria tersebut terkejut.


"Terima kasih, Masa Depanku."


Perasaan hangat menyeruak di dada Damian. Dengan penuh kasih sayang dia mengecup kening wanita yang di cintainya itu. Kebahagiannya ini tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi. Cukup orang melihatnya dan menilainya sendiri.


...* * * ...


Hari telah berganti. Dan pagi-pagi sekali, Damian sudah datang dan sarapan bersama dengan Keluarga Richie.


Bukan hanya itu. Hari ini Damian mengajak Angel untuk melakukan foto prewedding. Awalnya Angel menolak karena baginya ini terlalu cepat, namun berkat dukungan Ibu Elizabeth terhadap Damian, akhirnya Angel tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa mengalah.


Pria itu benar-benar mempersiapkan semuanya. Mulai dari gedung, dekorasi yang mewah, souvenir, undangan dan lain sebagainya. Semua itu dia lakukan dalam waktu semalam. Mungkin karena terlalu bersemangat, setibanya di apartementnya, Damian langsung menelpon pemilik gedung sekaligus memintanya untuk menyiapkan acara pernikahannya. Damian ingin pernikahannya itu di buat seistimewa mungkin, karena ini akan menjadi pertama dan terakhir baginya.


Tempat yang mereka pilih untuk sesi pemotretan adalah Long Beach. Salah satu pantai terbaik yang ada di New york. Mereka terus bergonta-ganti pakaian, namun belum ada satupun foto yang sesuai dengan inginkan Damian.


Contohnya saat ini. Untuk kesekian kalinya Damian memprotes foto mereka yang menurutnya tidak bagus. Sang juru kamera bersama asistennya hanya bisa tertunduk diam.


Dari kejauhan, Angel menatap pria itu sebal. Tak ingin ikut campur, Angel lebih baik memilih untuk bermain air di bibir pantai.


Tak berselang lama, Damian menghampirinya bersama dengan juru kamera dan asistennya. Mereka akan melakukan sesi foto kembali. Dan sama seperti tadi, Damian dengan santainya meminta ulang karena fotonya kurang bagus baginya. Padahal menurut Angel, foto tersebut sudah lebih baik dari yang tadi.


Angel yang merasa sudah lelah, memutuskan untuk meninggalkan Damian dan menuju villa yang menjadi tempat mereka beristirahat. Karena dirinya sudah terlanjur kesal dengan sikap Damian yang menurutnya kekanakan, Angel pun tidak ingin melakukan sesi pemotretan lagi. Dirinya lalu memilih untuk mengganti pakaiannya dengan dress yang dia kenakan dari rumah.


Damian yang menyadari bahwa kekasihnya sudah tidak ada lagi di pantai tersebut, segera bertanya pada salah satu rekan dari juru kamera yang bertugas menangani gaun yang mereka kenakan. Setelah tahu bahwa kekasihnya menuju ke villa, dengan cepat Damian menyusulnya.


Dilihatnya kini sang kekasih sedang memasang wajah masamnya sambil menatap hamparan laut yang luas dari balkon ruangan yang menjadi tempat mereka berganti pakaian.


Dengan langkah pelan Damian menghampiri wanitanya, kemudian memeluk tubuhnya dari arah belakang. Angel yang tahu siapa itu, segera menepis tangan Damian.


"Sayang, kenapa kau terlihat marah seperti itu? Apakah ada yang membuatmu kesal? Jika iya, cepat beritahu aku. Biar aku yang akan memberinya pelajaran karena telah membuatmu kesal."


Sejenak Angel memejamkan matanya. Wanita itu lalu berbalik kemudian mendorong tubuh Damian agar menjauh darinya.


"Kau! Kaulah yang membuatku kesal. Tidak bisakah jika kau berhenti bersikap kekanakan, Damian? Kau tahu? Aku sangat lelah menjalani kegiatan kita hari ini. Tapi kau, dengan santainya meminta untuk melakukan pemotretan lagi dan lagi."


Damian menyadari kesalahannya karena telah membuat Angelnya lelah dan Marah. Dia kemudian mendekati wanita itu dan menggenggam tangannya.


"Maafkan aku. Aku tahu jika sikapku ini membuatmu kesal. Tapi aku hanya ingin hasil dari pemotretan kita menjadi sangat indah, karena ini akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir bagi kita. Sekali lagi maafkan aku, Sayang."


Angel tahu bahwa Damian menginginkan hari spesial mereka sangatlah istimewa. Tapi haruskah mereka melakukan pemotretan prewedding sampai seharian seperti ini misalnya?