The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Perginya Sang Mempelai Wanita



Seperti di hari-hari biasa, Ibu Elizabeth akan menyiapkan sarapannya sendiri tanpa di bantu oleh siapapun. Melihat kedatangan Angel dan Damian, membuat pagi harinya terasa sangat cerah.


Setelah menata makanannya dengan rapi di atas meja, Ibu Elizabeth lalu mempersilahkan mereka untuk duduk. Dirinya bisa memaklumi keterlambatan mereka yang bangun di pagi hari. Karena dulu sekali, dirinya pun pernah mengalami hal yang sama.


Mereka sarapan dalam diam hingga selesai. Angel lalu berdehem singkat, kemudian menatap ibunya ragu.


"Bu, kami ingin pergi untuk berbulan madu. Apakah boleh?"


"Kenapa secepat itu? Bukankah kemarin kau mengatakan bahwa masih memikirkan tempat yang bagus dan terbaik untuk bulan madu kalian?"


"Memang benar. Dan semalam kami telah memikirkannya. Bahkan, aku ingin memberitahumu semalam, tapi aku takut mengganggu tidurmu."


Ibu Elizabeth menampilkan senyum paksanya. Sebenarnya, dia tidak rela jika Angel dan Damian akan pergi sekarang, mengingat Hazel sudah pergi lebih dulu. Namun, bagaimana lagi? Mana mungkin dirinya melarang mereka untuk pergi.


Ibu Elizabeth akhirnya mengizinkan mereka. Dan dengan pasrah dirinya harus di tinggal sendiri oleh kedua anaknya.


...* * * ...


Angel tak sabar menunggu pesawat yang di tumpanginya mendarat. Awan-awan yang menyelimuti pesawat tersebut, membuat Angel ingin sekali untuk menggapainya.


Matanya lalu melirik kearah suaminya, tumben sekali Damian hanya diam dan duduk di hadapannya. Biasanya, pria itu gencar sekali menggoda dan mengganggu dirinya. Tapi sekarang... Mengapa tidak??


Ingin tahu jawabannya, Angel pun menghampiri Damian dan mengambil posisi duduk di sampingnya. Dengan manja, Angel memeluk lengan pria itu sambil menatapnya lekat.


"Kau kenapa? Apakah mulutmu sedang sariawan?"


Tidak ada jawaban. Damian justru fokus menatap segumpalan awan di sisi pesawatnya. Angel yang tidak ingin di abaikan, lalu dengan jahilnya menusuk-nusuk pipi Damian untuk menarik perhatian pria tersebut.


"Sayang... Hentikan!" Suara Damian terdengar seperti pria yang sedang frustasi.


"Damian, apa kau baik-baik saja?" Angel terlihat cemas. Dia lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Damian. Namun, dengan cepat suaminya itu menurunkan tangannya sambil tersenyum simpul.


"Aku baik-baik saja. So... Don't worry."


"Tapi kau terlihat..." Angel tidak menyelesaikan ucapannya, saat Damian meletakkan jari telujuknya di bibir miliknya.


"Aku hanya sedang menahan diri saat ini. Jadi, jangan mengkhawatirkan aku lagi." Entah sudah berapa lama Damian tidak menyalurkan hasratnya. Dan semenjak menikah, hasrat yang terpendam dalam dirinya justru meronta ingin di salurkan. Tapi sayangnya, sang istri sedang tidak bisa melayaninya.


Angel mengulum senyumnya saat melihat betapa besar cinta Damian untuknya. Dia lalu mencium dan mencubiti pipi Damian sambil mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Damian memilih untuk menghiraukannya dan fokus menatap awan dari balik jendela.


Akhirnya Angel merasa lelah sendiri dengan aksinya. Perlahan matanya terpejam, dan Angel pun terlelap di lengan suaminya.


Damian yang menyadari tidak ada pergerakan lagi di sampingnya, segera menoleh. Dilihatnya bahwa sang istri sudah tertidur pulas. Dengan gemas Damian menggigit hidungnya pelan.


Setelah itu, Damian menggendong Angel dan membawanya ke kamar. Di baringkannya tubuh itu di atas kasur, dan tak lupa untuk menyelimutinya.


Istrinya begitu cantik apabila sedang tertidur. Dulu, ketika dirinya masih sekolah, ada seorang guru yang mengatakan kepadanya, jika ingin melihat kecantikan yang sebenarnya dari seorang wanita, maka lihatlah ketika dia sedang tidur dan setelah bangun. Saat itu, wajah wanita benar-benar tampak polos tanpa di buat-buat.


Setelah puas melihat wajah istrinya, Damian kemudian melangkahkan kakinya keluar. Dirinya kembali ke tempat duduknya semula. Tiba-tiba Damian berdecak. Sampai kapan dirinya harus menunggu dan tersiksa seperti ini?


Tatapannya kemudian turun ke bawah. Tangannya lalu terulur untuk mengelus adik kecilnya yang sempat menegang.


"Sabarlah. Sebentar lagi kau akan masuk ke dalam sarangmu."


...* * * ...


Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Mereka harus berada di dalam pesawat selama seharian. Berangkat pagi dan baru mendarat paginya lagi. Bahkan Angel merasakan pegal pada seluruh tubuhnya.


Sekarang dirinya bersama Damian sedang menuju ke salah satu hotel terbaik di pulau bali, yaitu Hotel Padma Resort Ubud.


Setibanya di hotel tersebut, mata Angel langsung di manjakan dengan pemandangan yang luar biasa dan menakjubkan. Pertama kalinya Angel menginjakkan kakinya ke pulau sekaligus negara ini, dan itu membuat Angel senang bukan main.


Bahkan wanita itu ingin jalan-jalan sekarang, tapi semuanya dia urungkan karena Damian tidak mengizinkannya. Suaminya tersebut justru menyuruhnya untuk beristirahat dahulu. Saat sore menjelang malam, barulah mereka akan keluar sembari melihat pemandangan sunset.


Akhirnya Angel setuju meskipun dirinya merasa kecewa. Dia lalu membaringkan tubuhnya di samping suaminya yang sudah terlelap.


Sementara di tempat lain....


Sebuah pernikahan akan segera di laksanakan. Dan hanya tinggal menunggu kedatangan dari mempelai wanita. Namun, sudah setengah jam lamanya mereka menunggu, tapi mempelai wanita tidak kunjung datang.


Salah seorang wanita lalu di minta untuk menjemput sang mempelai di kamarnya. Tapi dirinya justru tak mendapati siapapun di kamar itu. Dengan segera dia melaporkan hal tersebut kepada keluarga dari kedua belah pihak.


"Apa maksudnya ini? Bagaimana bisa putrimu pergi di acara penting seperti ini? Apa kau sengaja ingin mempermalukan keluarga kami?" Ayah dari pihak mempelai lelaki terlihat marah. Karena baginya, ini merupakan sebuah penghinaan apabila sang mempelai wanita meninggalkan acara pernikahannya.


"Aku benar-benar tidak tahu dan tidak menduga jika peristiwa ini akan terjadi. Tapi aku berjanji padamu, aku akan membawa putriku kembali. Lalu pernikahannya akan kembali di langsungkan," ujar David, ayah dari mempelai wanita.


"Lalu sekarang bagaimana? Lihatlah para tamu undangan yang telah hadir. Apa yang harus kukatakan pada mereka? Haruskah aku mengatakan bahwa mempelai wanita telah kabur di acara pernikahannya?"


David menghela nafas berat, "Maafkan aku, Ferdy. Aku berjanji padamu akan segera mencari putriku lalu membawanya kehadapanmu."


"Aku akan membantumu mencarinya, Ayah mertua," timpal pemuda yang di ketahui bernama Lutfi.


David tersenyum, kemudian memeluk pemuda tersebut yang merupakan calon menantunya. Dirinya merasa bersalah bercampur malu sekarang. Dia merasa bersalah kepada keluarga dari Lutfi, dan malu karena tidak tahu bahwa putrinya akan kabur di acara pernikahannya sendiri.


Tapi syukurlah Lutfi tidak marah dan tersulut emosi seperti ayahnya, Ferdy. David tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Lutfi ikut marah seperti ayahnya.


Dalam hatinya, David berjanji akan menemukan putrinya lalu memberikan hukuman kepadanya karena telah membuatnya merasa malu. Tapi sekarang, dirinya harus meredakan suasana tegang di gereja ini dulu. Setelah itu barulah dia bisa mencari putrinya.


Mungkin Lutfi terlihat tenang dan biasa saja. Namun siapa yang tahu di dalam lubuk hatinya yang terdalam, pria itu menyembunyikan emosinya disana. Dan akan keluar pada waktu yang tepat.


Lutfi tersenyum sinis, 'Kau membuat kesalahan yang fatal dengan lari dari pernikahan kita, Jessica.'