
Damian dan Angel sudah kembali ke mansion. Kemudian Damian mengantarkan Angel kedepan kamarnya.
"Bersihkan dirimu. Lalu kita makan," ujar Damian sambil berdiri diambang pintu.
Angel hanya berdehem lalu masuk kedalam kamarnya. Begitu pun Damian kembali ke kamarnya yang bersebelahan dengan Angel.
Seusai membersihkan diri, Damian keluar lebih dulu dari kamarnya. Setelah itu dia mengetuk pintu kamar milik Angel.
"Cepatlah."
"Tunggu sebentar," sahut Angel dari dalam.
Tak berselang lama, pintu terbuka dan keluarlah Angel. Dengan rasa tak bersalah, Angel berjalan lebih dulu dan meninggalkan Damian yang menunggunya.
Damian berdecak kesal lalu mengikuti wanita tersebut dari belakang.
Sesampainya di meja makan, Angel langsung duduk dan di ikuti dengan Damian.
"Makanlah sesuka hatimu."
Lagi-lagi Angel hanya membalasnya dengan deheman. Angel mulai mengambil makanan tanpa menghiraukan Damian yang sedari tadi menatapnya.
Mereka makan dalam diam. Sampai sebuah suara ponsel menghentikan aktivitas mereka. Damian kemudian mengambil ponsel disakunya dan melihat nama Ana yang tertera di layar.
Rasa malas seketika melingkupi Damian. Pria itu lalu memilih untuk mematikan ponselnya dan memasukannya kembali kedalam saku.
"Siapa?" tanya Angel penasaran.
"Hanya dari orang yang tidak penting. Lanjutkan makanmu," balas Damian singkat nan acuh.
Angel memilih melanjutkan makannya. Lagi pula itu bukan urusannya sampai harus tahu siapa yang menelpon Damian. Dan tanpa dia sadari, Damian tengah meliriknya sambil tersenyum kecil.
Seusai makan, Angel memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya tanpa memperdulikan Damian yang akan pergi entah kemana.
Ketika tiba di kamarnya, Angel langsung menutup pintu dan tak lupa untuk menguncinya.
Wanita itu mendaratkan bokongnya ke kasur dengan kedua tangan yang menompang tubuhnya. Helaan nafas kasar keluar dari bibir Angel, tatkala ingat bahwa misinya datang kesini menjadi berantakan.
Dia pun memutuskan untuk menghubungi Dave saja. Namun bukan untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi, melainkan ketidaksanggupannya untuk menjalankan misi.
"Hallo Dev," ujarnya setelah panggilannya tersambung.
"Ada apa? Kau mengganggu tidurku saja," jawab Dave di sebrang sana dengan suara khas bangun tidur.
Angel mengatur nafasnya dahulu sebelum bicara dengan sang ketua.
"Aku rasa, aku ingin berhenti saja dalam mencari mafia itu."
Dave yang disana, seketika terkejut.
"Ada apa memangnya? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak. Hanya saja..." Angel menghela nafasnya. Dia bingung harus mengatakan apa.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Dave dapat merasakan bahwa Angel sepertinya sedang merahasiakan sesuatu darinya.
Angel semakin bingung. Haruskah dia berkata jujur? Tapi, jika dia jujur, apa yang akan di lakukan oleh Dave beserta rekannya yang lain.
"Angel?? Kau masih disana, bukan?"
"Hmm,"
"Jika kau dalam masalah, katakan saja padaku. Aku beserta yang lain, bisa datang kesana untuk membantumu."
"Terima kasih, Dave. Namun, aku benar-benar tidak bisa menemukan keberadaan mafia itu ataupun markasnya."
Disana, Dave tampak sedang berpikir. Hingga tak lama, terdengar sebuah suara yang Angel tahu, bukan Davelah pemiliknya.
"Biarkan aku yang pergi kesana."
"Kau yakin heh?"
"Tentu saja," jawab pria di samping Dave dengan mantap.
"Baiklah, jika itu mau-mu. Dan kuharap, kau berhasil menjalankan misi ini. Dan kau Angel, James akan menemuimu malam ini."
Hening. Angel tidak mampu mengatakan apa-apa lagi. Bukan ini yang dia inginkan. Lalu, bagaimana nanti jika James sudah berada disini namun tidak dapat bertemu dengannya?
"Ada yang ingin kau sampaikan lagi, Angel?" Suara Dave membuyarkan lamunannya.
"Eughh, tidak."
"Baiklah." Panggilan mereka pun terputus. Dan Angel masih sibuk memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.
...* * *...
"Ada apa, Dave?" tanya James yang melihat Dave tampak sedang berpikir setelah memutuskan panggilannya dengan Angel.
"Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan Angel."
Mendengar jawaban dari Dave, membuat James tersentak kaget.
"Kau... menyukai Angel?"
Seketika Dave melotot padanya.
"Heyy, jaga bicaramu. Aku sudah memiliki kekasih, dan aku mencintai kekasihku itu."
James bernafas lega. Dan itu di perhatikan oleh Dave.
"Sepertinya kau yang menyukai Angel, kan?" Dave tersenyum mengejek. Dan itu tidak membuat James terkejut sama sekali.
"Mungkin." James terkekeh untuk menghilangkan rasa kikuknya.
Dave tersenyum, kemudian mendekati teman serekannya itu. Lalu dia menyentuh pelan bahu James.
"Aku mendukungmu, James. Aku yakin kau bisa menaklukkan wanita setengah pria itu."
Dave tertawa sendiri atas ucapannya tersebut. Begitupun dengan James yang ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
...* * * ...
Hazel berlari memasuki rumahnya sambil berteriak memanggil Veronica.
"Tidak bisakah jika kau tidak teriak?" ketus Veronica setelah muncul dari arah dapur.
Hazel mendekatinya lalu menarik tangan Veronica untuk membawanya duduk di sofa.
"Kau tahu? Aku mendapatkan informasi yang kita cari selama ini."
Veronica yang tadinya kesal berubah menatap adiknya berbinar.
"Benarkah? Dimana Grace?"
"Bukan Grace. Tapi Angelina."
"Oh ya? Dimana dia?" Veronica tampak terkejut. Apalagi selama ini Angel bagaikan hilang di telan bumi.
"Untuk apa dia disana?" tanya Veronica bingung.
"Entahlah, aku juga bingung. Aku mendapatkan informasinya dari Chris."
"Chris?"
"Ya. Dan kau tahu apa yang Angel lakukan pada Chris?"
Veronica menggeleng. Dan Hazel pun menceritakan yang diceritakan Chris padanya tanpa dia tambah atau kurangi sedikit pun.
Mata Veronica langsung terbelalak. "Kau bercanda, kan?"
Mendengar itu, membuat Hazel menjadi kesal.
"Bagaimana bisa aku bercanda di waktu yang tidak tepat seperti ini?"
Veronica pun terdiam dan di ikuti oleh Hazel.
"Bagaimana jika dia membalas kita juga?" ujar Hazel pelan.
"Itu tidak akan terjadi."
"Kau yakin?"
Veronica mengangguk mantap lalu tersenyum angkuh.
"Kita memiliki Ibu. Pasti dia menurut padanya."
Hazel menghembuskan nafasnya kasar setelah mendengar ucapan dari kakaknya ini. Veronica memang dikenal sebagai wanita yang tidak takut pada apapun.
"Terserah kau saja. Aku ingin ke kamar."
Hazel berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
"Apakah dia akan kembali kesini?" tanya Veronica.
Hazel menghentikan langkahnya, namun tidak membalikkan tubuhnya.
"Tanya sendiri padanya."
Veronica memandang adiknya kesal.
Lalu berpikir, apa yang akan dia lakukan saat Angel kembali nanti.
...* * *...
Angel hendak keluar dari kamarnya. Saat dia hendak membuka pintu, dia terkejut melihat Damian disana.
'Sejak kapan dia disini? Apakah dia mendengar ucapanku saat ditelpon?'
Angel berdehem pelan, kemudian mengubah ekpresinya menjadi datar.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Sepertinya Damian sudah kebal dengan sikap Angel, bahkan pria itu kini malah menunjukkan senyumnya.
"Aku ingin dinner denganmu malam ini."
Wanita itu memutar bola matanya malas.
"Kita baru saja makan."
"Tentu saja beda. Itu makan sore dan nanti malam beda lagi," sahut Damian santai.
"Aku tidak tertarik."
Damian tersenyum miring, "Itu bukan ajakan tapi perintah"
"Tidak bisakah jika kau tidak mengaturku?" Angel menatapnya kesal, namun di balas dengan kekehan oleh pria tersebut.
"Tidak bisa. Itulah tugasku, yaitu mengaturmu."
"Terserah kau saja," ketus Angel sambil membuang wajahnya ke samping.
"Nahh, jika kau menurut seperti ini, 'kan aku tidak perlu harus membuang-buang tenaga untuk menyeretmu." Damian berujar enteng sambil mengelus pelan kepala Angel.
Angel menatapnya horor, kemudian menepis tangan Damian yang berada di kepalanya.
"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, silahkan pergi."
"Memang aku ingin pergi, My Angel." Lagi-lagi Damian terkekeh.
"Ingat Malam ini. Mario akan menjemputmu," tambahnya lalu segera pergi keruang kerjanya.
Angel memandang kepergiaannya heran.
"Mengapa Mario yang menjemputku?"
Untuk persekian detik Angel termenung, hingga akhirnya dia memukul kepalanya pelan.
"Memangnya kau mengharapkan siapa yang menjemputmu, bodoh?"
"Nona," panggil Mia yang membuat Angel terkejut.
"Ma-maaf nona, jika kehadiran saya membuat nona menjadi terkejut," sambung Mia yang merasa bersalah ketika melihat Angel hampir terjungkal ke belakang.
"Tidak apa-apa. Apa yang kau lakukan disini?"
"Saya diperintahkan tuan untuk membantu Nona bersiap-siap."
"Kemana?" Angel menaikan sebelah alisnya.
Dan itu membuat Mia mengulas senyumnya, "Tentu saja untuk dinner tuan dan Nona malam ini."
Angel berOh ria sejenak, kemudian dia menatap Mia serius.
"Apakah kau tahu dimana kami akan dinner?"
"Maaf nona, tidak ada yang tahu dimana.
Termasuk saya."
Angel menghembuskan nafasnya pelan, lalu melihat kearah ruang kerja Damian sebentar.
"Ya sudah, ayo masuk."
Angel kira hanya Mia yang akan membantunya bersiap, tapi ternyata tidak. Sekitar ada enam pelayan yang masuk ke dalam kamarnya, termasuk Mia.
Dan Angel hanya bisa pasrah saat mereka mengutak-atik tubuhnya.
'Bisakah aku membuka hatiku untukmu?
Bagaimana jika kau membuatku kecewa?' tanya Angel dalam hati sambil menikmati perawatan untuk dirinya.