
Pagi hari yang cerah, Angel habiskan untuk mengelilingi mansion milik Damian. Yang sekarang dia tinggali.
Awalnya Angel ingin keluar, namun baru saja melangkahkan kakinya ke teras depan, beberapa anak buah Damian langsung meliriknya, seolah dirinya adalah seorang tawanan disini. Ingin rasanya Angel memukul satu persatu wajah pria tersebut, namun di urungkannya niat itu karena sedang tidak ingin mencari masalah untuk saat ini.
Dan Damian? Jangan tanyakan lagi. Pria itu sudah pergi ke kantornya sebelum Angel keluar dari kamarnya, bahkan Damian tidak menemuinya atau mengatakan sesuatu sebelum kepergian dari pria itu.
Helaan nafas lagi-lagi keluar dari bibir Angel. Wanita itu begitu bosan dengan keterdiamannya. Hingga, dia mengingat sesuatu. Lalu dengan segera dia mendial nomor seseorang di ponselnya.
Tak lama, terdengar suara laki-laki di ujung sana.
"Kenapa kau baru menghubungiku? Aku sudah menghubungimu sejak kemarin, namun tidak aktif. Kemana kau sebenarnya?"
Mendengar gerutuan itu, membuat Angel memutar bola matanya malas.
"Yang penting saat ini aku sudah menghubungimu, bukan?"
"Tapi kau telat!!"
"Oh ayolah, Dave. Tidak usah membesar-besarkan masalah sekarang. Saat ini aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Apa? *Apakah k*au sudah tahu dan bertemu dengan mafia itu?"
"Tidak, tapi...." Angel tidak melanjutkan perkataannya. Tampak wanita itu sedang berpikir, apakah dia harus memberitahu tentang apa yang terjadi padanya saat ini kepada Dave?
"Tapi apa, Angel? Jangan membuatku bertambah kesal."
Angel mendengus, "Tidak bisakah jika kau tidak marah-marah?"
Disana, Dave terlihat santai. Bahkan pria tersebut turun dari meja yang dia duduki.
"Maka dari itu, kau jangan membuatku kesal."
"Itu siapa, Dave?" Dari balik ponselnya, Angel dapat mendengar suara James.
"*Angel."
"Benarkah*?" Kali ini Calvin yang menyaut.
Dave hanya berdehem singkat. Dan tanpa izin, Calvin mengambil alih ponsel Dave dan segera menjauh dari mereka.
"Hallo, Angel?"
"Kenapa jadi kau?" Dahi Angel jadi mengernyit heran. Namun sedetik kemudian, dia bernafas lega. Karena setidaknya, Calvin telah membantunya untuk mengakhiri obrolannya dengan Dave.
"Kau tidak merindukanku?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Angel, Calvin justru kembali bertanya.
"Kenapa aku harus merindukanmu? Daripada merindukanmu, lebih baik aku merindukan Yellows-ku." Yang dimaksud oleh Angel adalah mobil sport kuningnya. Dia memang sengaja menamai mobilnya dengan Yellows, mengingat mobil tersebut berwarna kuning.
Di sebrang sana, Calvin menghembuskan nafasnya kecewa.
"Kau benar-benar tidak merindukanku?"
"Tidak."
"Huftt..., padahal aku selalu merindukanmu."
Telinga Angel bergidik mendengarnya. Karena tidak ingin terlalu lama berbicara dengan Calvin, Angel segera memutuskan sambungannya secara sepihak.
"Rasanya aku ingin mual mendengar kata-katanya itu."
Angel sudah merasa lelah. Dan dia pun memutuskan untuk masuk, apalagi matahari sudah beranjak naik dan membuat dirinya menjadi kepanasan.
...* * * ...
Angel sudah memasuki kamarnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada beberapa pelayan didalamnya dan menunduk hormat padanya.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
"Kami diperintahkan tuan untuk membantu Nona berhias," jawab salah satu dari mereka.
Angel menaikkan sebelah alisnya bingung.
Pelayan yang melihat kebingungan dari Angel, segera menjelaskannya.
"Tuan menyuruh kami untuk membantu anda bersiap dan berhias Nona. Tuan bilang, dia ingin membawa Nona kesebuah pesta yang diadakan oleh salah satu rekan bisnisnya."
'Benarkah? Kenapa dia tidak memberitahuku?' Melihat kebingungan di wajah Angel, membuat seorang pelayan memajukan langkahnya.
"Tuan memberitahu Kepala Pelayan disini. Oleh sebab itu, Tuan tidak memberitahu Anda lebih dulu."
"Keluar!" usir Angel sambil melangkah menuju kasurnya. Karena yang dia inginkan saat ini adalah istirahat.
"Tapi nona, tuan menyuruh kami untuk--"
"Aku bilang keluar!" potong Angel dengan menatap tajam mereka satu-persatu. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengikuti ucapannya.
'Sepertinya mereka lebih takut pada pria itu dibandingkan aku. Tentu saja, lagi pula siapa aku disini?'
Angel menghembuskan nafasnya sambil memijat pelipisnya.
Baru kali ini aku benar-benar tidak bisa berkutik, pikirnya.
Wanita itu lalu memilih untuk beralih duduk ke kursi rias disana.
"Cepatlah," perintahnya.
Para pelayan segera mendekatinya dan mulai meriasnya. Ada yang membantunya bermake up dan ada pula yang menata rambutnya. Bahkan ada juga yang sibuk dengan kuku dan gaun yang akan dia kenakan nanti.
"Jangan terlalu tebal, aku tidak suka!" peringat Angel yang langsung di angguki oleh penata rias disana.
"Baik, Nona."
Tak terasa, sudah tiga jam berlalu. Dan akhirnya kegiatan merias Angel telah selesai.
Dan sedari tadi Angel belum bergerak sedikitpun. Wanita itu tampak merasa aneh dengan sosok yang ada di dalam kaca. Mau percaya atau tidak, bayangan di kaca itu adalah dirinya.
"Mengapa aku merasa bahwa wajahku seperti berubah?"
Mendengar gumaman dari Angel, pelayan yang ada disana menjadi menahan tawanya.
Tak lama, terdengar seseorang yang mengetuk pintu kamar tersebut. Dan saat dibuka oleh salah satu pelayan di ruangan itu, ternyata di balik pintu tersebut terdapat pengawalnya Damian. Dan dia mengatakan jika Damian sudah menunggunya.
Setelah pengawal tadi pergi, Angel beserta yang lain keluar. Seorang pelayan yang lumayan tua, mungkin sudah memasuki setengah abad datang menjemput Angel.
Awalnya dia terpesona ketika melihat Angel. Namun segera dienyahkannya karena tuannya sudah menunggu. Dia adalah Mia, kepala pelayan di mansion itu.
Mia pun memperkenalkan dirinya kepada Angel yang hanya dibalas dengan anggukan singkat oleh wanita tersebut.
"Ayo Nona, tuan sudah menunggu," ujar Mia sopan.
Angel mengikuti langkah kaki Mia. Saat melewati beberapa ruangan, semua orang menatapnya kagum. Bahkan ada yang memujinya secara terang-terangan.
"Tuan," panggil Mia.
Damian yang saat itu sedang membelakangi Mia, segera berbalik setelah merasa dirinya di panggil.
"Mengapa lama sekali?" Tanya-nya geram.
Pasalnya, Damian tidak suka menunggu. Biasanya, orang-oranglah yang sering menunggu dirinya.
Damian belum menyadari kehadiran Angel karena Angel berdiri dibelakangi Mia. Mia pun menggeser sedikit tubuhnya dan membiarkan tuannya melihat Angel.
Seketika Damian terpaku ditempat, begitupun dengan para pengawal yang berada disana. Melihat itu, membuat Angel langsung mendekati Damian lalu mendorong kening pria itu menggunakan jari telunjuknya.
Seketika Damian tersadar lalu menatap tajam wanita tersebut.
"Beraninya kau!!"
"Kaki ku pegal," balas Angel acuh tanpa memperdulikan tatapan tajam dari Damian.
Semua pelayan dan pengawal disana bertambah kagum melihat keberanian Angel kepada tuan mereka.
Damian memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan emosinya. Kemudian menyuruh Angel untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil dan disusul oleh dirinya.
Selama di dalam perjalanan, tak henti-hentinya Damian menatap kagum pada Angel. Dan Angel yang menyadari tatapan itu, menjadi risih.
"Berhenti menatapku seperti itu," ujar Angel datar tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kenapa? Apa kau merasa malu di tatap olehku?" Damian tersenyum miring. Karena baginya, tidak ada satupun wanita yang tidak ingin di perhatikan atau di tatap oleh dirinya.
"Malu?" Kini Angel tersenyum sinis. Wanita itu lalu menatap pria di sampingnya tersebut.
"Kau pikir aku tertarik padamu, hmm? Jangankan tertarik, melirikmu saja aku tidak berminat."
Selepas mengatakan hal menyakitkan tersebut, Angel kembali menatap ke depan. Dan tidak memperdulikan wajah Damian yang merah padam. Entah karena malu, atau karena menahan emosinya.
Dan Mario yang sedari tadi mendengar pembicaraan dari area belakang, memilih untuk merapatkan bibirnya. Jangankan untuk bicara, melirik keduanya saja dari kaca spion, Mario tidak berani.