
Angel menatap takjub bangunan yang ada di depannya. Siapa yang tidak ingin kesini? Pasti tidak ada, bukan?
"Damian, aku ingin naik itu," tunjuk Angel.
Damian menghembuskan nafasnya lelah, tapi tak urung mengikuti permintaan dari tuan puteri itu. Dia lalu menggenggam tangan Angel dan membawanya ke kincir besar tersebut.
Place De La Concorde, merupakan salah satu tempat wisata yang ada di Paris, Perancis. Tempat ini dirancang cantik dengan keberadaan ornamen taman, air mancur, hingga lampu-lampu taman yang indah, terutama saat di malam hari.
Hampir 3 jam lamanya Damian menemani Angel berkeliling sekaligus menaiki kincir besar tadi.
"Angel, ayo kita pulang!!" .
"Aku masih ingin disini."
"Tapi aku lelah, My Angel," lirih Damian, dan Angel pun langsung menatapnya. Dan dilihatnya bahwa Damian benar-benar tampak lelah.
Dengan sangat terpaksa, Angel pulang bersama Damian ke apartement. Keduanya saling diam saat di mobil. Bahkan setelah tiba di apartement pun, keduanya langsung memasuki kamar masing-masing.
Angel merebahkan tubuhnya di kasur dengan memejamkan matanya.
"Hari yang melelahkan."
Tanpa membersihkan dirinya dan berganti pakaian, Angel langsung menyelami mimipinya begitu saja. Damian pun sama. Dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan langsung tertidur, karena memang dirinya benar-benar lelah untuk saat ini.
...* * *...
Sebuah suara ketukan di pintu membuat Angel terpaksa membuka matanya. Bahkan ketukan tersebut sudah berubah menjadi suara gedoran.
"Iya, tunggu sebentar." Dengan malas, Angel melangkahkan kakinya menuju ke pintu. Dan setelah di buka, ternyata itu Damian yang berdiri disana dengan wajah masamnya.
"Kau itu tidur atau mati huh?" cerca Damian sembari berkacak pinggang. Sudah hampir setengah jam dirinya berdiri dan menggedor pintu kamar Angel, namun tak kunjung ada sahutan.
"Kenapa kau pagi-pagi berisik sekali?" gerutu Angel sambil sesekali menguap.
Damian tersenyum miring, "Apa ini masih pantas di sebut dengan pagi? Coba kau lihat jam itu!!"
Mata Angel langsung mengikuti arah tunjuk Damian. Seketika matanya membulat, ini sudah jam 11 lewat. Dan masih pantaskah di sebut dengan pagi?
"Sudah sadar sekarang, Nona?" sindir Damian, Angel pun menatapnya sebal.
"Lebih baik kau mandi sana. Kau benar-benar bau." Setelah mengatakan hal itu, Damian pergi dan meninggalkan Angel yang bertambah kesal dibuatnya.
Angel lalu mencium bau badannya sendiri. Tapi apa yang di katakan Damian tidaklah benar. Tubuhnya masih wangi, bahkan parfum yang kemarin dia pakai, masih tercium di bajunya. Merasa kesal, Angel pun masuk kembali ke kamarnya. Dan tak lupa untuk menutup pintunya dengan sangat kuat, sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.
30 menit berlalu, dan Angel keluar dari kamarnya dalam keadaan fresh. Dia lalu berjalan menuju keruang santai, kemudian mengambil posisi duduk di hadapan Damian.
"Kau sedang melakukan apa?" tanya Angel saat melihat Damian yang tampak sibuk dengan laptopnya. Sampai-sampai melirik dirinya pun tidak.
"Hanya memeriksa laporan yang diberikan oleh sekretarisku," jawab pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Angel berOh ria sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apakah kita tidak akan keluar hari ini?"
"Aku rasa tidak. Aku ingin kita menghabiskan waktu di apartement dulu, sekaligus aku ingin memeriksa semua laporan yang sekretarisku kirim lewat email-ku," terang Damian.
Jujur saja jika Angel kecewa. Dia ingin keluar dan mengunjungi tempat wisata lagi, namun apa boleh buat jika Damian sudah berbicara seperti itu. Walaupun Angel ingin mengunjunginya sendiri, pasti Damian tidak akan mengizinkannya.
"Mario," panggil Damian.
"Iya, Tuan?" jawab Mario yang sudah berada di samping tuannya.
"Bawakan sarapan untuknya." Damian melirik Angel sejenak, kemudian kembali menatap benda pipih yang berukuran besar di pangkuannya.
"Emm, Tuan, ini sudah siang. Dan namanya bukan sarapan lagi, melainkan makan siang," jelas Mario pelan, takut jika tuannya akan tersinggung atau tidak suka.
"Aku tahu. Bawakan dua porsi makanan untuknya, satu untuk sarapannya dan satunya lagi untuk makan siangnya ini."
"Kau pikir aku bisa menghabiskan semuanya?" protes Angel.
Angel tak menghiraukan Damian, dan beralih menatap Mario.
"Bawakan saja makan siangku."
"Sarapan dan makan siangnya," sela Damian.
"Jangan dengarkan dia!!" Angel melirik Damian sinis.
"Aku tuannya, dan sudah sewajarnya dia mendengarkanku."
Habis sudah kesabaran Angel.
"Kalau begitu, kau saja yang makan sarapanku."
"Aku sudah makan."
Wajah wanita itu benar-benar sudah memerah sekarang. Ingin sekali dia melemparkan sesuatu ke wajah pria yang ada di hadapannya ini. Dan tanpa mengatakan apapun, Angel lalu memilih untuk masuk kembali ke kamarnya.
Damian yang melihat kepergian Angel, segera bangkit dari duduknya.
"Bawakan makan siangnya ke kamarnya."
"Baik, Tuan." Mario kemudian menyingkir dari hadapan tuannya. Sedangkan Damian menyusul Angel ke kamarnya, namun pintunya justru di kunci dari dalam.
Damian mencoba mengetuk pintunya sembari memanggil wanita itu, tapi tak ada respon. Melihat sikap Angel yang kekanakan ini, membuat Damian menarik nafasnya dalam-dalam.
"Angel, buka pintunya atau aku akan mendobraknya."
Tidak ada jawaban.
"Baiklah, jika itu mau-mu." Damian bersiap-siap untuk mendobrak pintu kamar Angel sembari berhitung di dalam hati.
*Satu...
Dua...
Tiga*...
BRUKK
Bukannya mendobrak pintu, Damian malah tersungkur ke bawah karena Angel tiba-tiba membuka pintunya tanpa bicara. Melihat Damian yang sengsara seperti itu, membuat Angel tidak bisa untuk menahan tawanya. Sampai-sampai dirinya harus memegangi perutnya karena merasakan kram akibat tertawa berlebihan.
"Tuan, aku..." Mario yang baru datang, hanya bisa melongo melihat tuannya yang merintih kesakitan. Dia pun segera berjongkok di samping tuannya itu.
"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?"
Damian tidak menjawabnya. Dia lalu bangkit dan berdiri seperti semula.
"Berhenti tertawa."
Tatapan Damian begitu tajam kearah Angel. Namun bukannya merasa takut dan menyudahi tawanya, Angel justru semakin tertawa dan tidak bisa untuk menghentikannya.
"Angel..." Damian memanggilnya dengan nada dingin.
"Oke, oke..aku berhenti tertawa." Tawanya berhenti, tak lama..
"Hahaha...maafkan aku, Damian. Aku tidak bisa untuk berhenti tertawa. Kau itu sangat lucu."
Damian menatapnya datar, kemudian melangkahkan kakinya untuk duduk di sofa yang tadi lalu kembali fokus memeriksa Email-nya tanpa perduli dengan tawa wanita itu.
"Apa tuanmu marah?" tanya Angel pada Mario.
"Sepertinya Anda tahu jawabannya, Nona."
Angel mengangguk singkat, dia lalu meminta makan siangnya kepada Mario. Setelah itu dia melangkah dan duduk di hadapan Damian seperti tadi. Kini, kedua lawan jenis itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sesekali Angel melirik Damian yang begitu fokus pada laptopnya, sampai-sampai pria itu tidak memperdulikan kehadirannya.
'Rupanya dia benar-benar marah padamu, Angel. Its okey!! Habiskan makananmu lalu kau bujuk singa jantan yang sedang marah itu.' Angel mengangguk iyakan apa yang batinnya katakan. Dia lalu menyantap makanannya kembali, dengan matanya yang menatap kearah Damian.