
Alunan irama dari piano perlahan berhenti, begitupun dengan lagu yang di nyanyikan James. Tepukan dari orang-orang disana langsung terdengar sesaat James berdiri. Pria itu tersenyum lega, akhirnya kegugupan yang melanda sedari tadi telah berakhir.
James belum kunjung turun, dia justru meminta sebuah mikrofon kepada MC atau pembawa acara. Dirinya berdehem sejenak, sebelum akhirnya mendekatkan microfon tersebut ke bibirnya.
Tatapannya hanya terfokus pada satu orang, yaitu wanita yang menjelma menjadi istrinya.
"Terima kasih, karena kau telah hadir di dalam hidupku. Kau mewarnai hidupku yang kelabu ini. Bersama, kita akan membuat sebuah kisah cinta yang abadi. Kau, aku dan juga anak-anak kita nantinya. Aku mencintaimu, Istriku."
Senyuman bahagia langsung terukir di bibir Vika. Dia pun berlari menuju ke atas panggung lalu menabrakkan tubuhnya ke dalam pelukan James. Sorak seramai kembali terdengar, bahkan semua orang yang berada disana ikut tersentuh dengan perkataan dan tindakkan James untuk istrinya.
Kisah cinta keduanya benar-benar istimewa. Mereka adalah sepasang sejoli yang menjadi korban dari cinta sepihak. Dan pada akhirnya, mereka bahagia dan akan menjalani hidup bersama.
Para tamu sudah mulai pulang secara bergantian, di karenakan resepsinya hanya sampai pada waktu sore. Namun mendadak ada seseorang yang menyita perhatian dari tamu disana, hingga mereka menghentikan langkahnya dan menatap kagum pada sosok pria yang baru saja datang.
Wajah tampan dengan bulu-bulu tipis di area rahangnya, menambah kesan seksi bagi para kaum wanita. Sampai-sampai ada yang tidak mengedip karena sangking terpesonanya. Belum lagi langkahnya yang lebar, membuat pria itu terlihat keren dan berwibawa.
Sosok tampan tersebut mendekat kearah pengantin yang juga terdapat Angel dan Damian yang belum kunjung pulang. Dilihatnya bahwa satu-persatu manusia disana mulai mengosongkan tempat itu.
"Apa aku melewatkan acaranya?" tanya-nya yang membuat keempat pasang itu beralih menatapnya.
Wajah ketiga insan itu nampak terkejut saat melihat siapa yang datang. Sedangkan Damian menghela nafasnya bosan, dia ingin secepatnya pergi darisini, namun istrinya masih ingin berbicara dengan mantan rekannya itu. Belum lagi sekarang nambah satu, membuat Damian hanya akan menjadi pendengar.
Melihat sang istri yang terus-menerus menatap pria yang baru datang itu, membuat Damian menjadi jengkel. Dia lalu menutup kedua mata Angel di barengi dengusan.
"Jangan menatapnya seperti itu! Aku tidak suka."
Angel segera melepaskan tangan Damian di matanya, dan menatap suaminya itu sebal. Sementara ketiga temannya tersebut malah tertawa melihat Damian yang sedang termakan cemburu.
"Kau mengundangnya, James?" tanya Angel sambil melirik Dave.
"Tentu saja. Tapi aku tidak percaya jika dia akan datang."
Dave terkekeh, "Awalnya aku tidak ingin datang, tapi aku merindukan seseorang."
"Siapa?" tanya Vika penasaran.
"Siapalagi jika bukan Angel." Dave mengedipkan sebelah matanya kepada Angel, kemudian dia menatap Damian yang sedang menatapnya tajam.
"Jaga sikapmu, Clayton." Damian mendesis tidak suka. Saat ini wajahnya sudah memerah karena menahan emosi, jangan sampai dia memukul Dave disini.
Dave tertawa renyah, di detik berikutnya dia menyeringai. Sepertinya, menggoda Damian akan menjadi hobi barunya.
"Kenapa aku harus menjaga sikapku? Aku 'kan hanya mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku merindukan Angel. Apakah itu salah?"
"Sangat salah. Tidak pantas bagi seorang pria merindukan istri dari pria lain."
"Benarkah?" Dave lalu menatap Angel, "Salahkah jika aku merindukanmu?"
Angel tampak melirik Damian sejenak, suaminya tersebut sedang menatap datar kearahnya. Dan itu semua gara-gara pria di hadapannya ini. Angel kini mengerti, bahwa Dave sengaja ingin membuat Damian merasa cemburu dan kesal.
"Dave, kenapa kau hanya merindukanku? Apakah kau tidak merindukan Vika dan juga James?" Angel berbalik tanya, tanpa menjawab pertanyaan dari Dave terlebih dahulu.
Dave menggeleng, "Aku sering berkomunikasi dengan mereka, jadi untuk apa aku merindukannya?"
"Kami permisi, karena kami masih ada urusan. Dan untuk kau, sebaiknya mencarilah pasangan hidup, agar kau berhenti menggoda istri orang lain."
Semuanya terdiam mendengar kalimat sarkasme Damian. Setelah kepergian Damian dan Angel, barulah Dave memegangi dadanya.
"Ada apa, Dave?" tanya Vika sedikit khawatir.
"Ucapan Damian benar-benar menusuk dada. Aku.. Aku merasa tersakiti."
James memutar bola matanya malas melihat temannya itu yang sedang mendrama.
"Berhentilah mengganggu Damian."
Dave menggeleng cepat, "Tidak, James. Mengganggu Damian sangatlah menyenangkan. Mana mungkin aku akan berhenti disini."
James dan istrinya menatap Dave aneh. Semenjak di tinggal Sherly, sepertinya Dave agak kehilangan akalnya.
"Aku masih waras dan tidak gila. Jadi berhentilah menatapku seperti itu." Dave lalu pergi begitu saja dari hadapan mereka setelah mengatakan itu.
Kedua sejoli tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka takut jika Dave benar-benar menyukai Angel, lalu merusak kehidupan bahagia yang wanita itu miliki bersama suaminya.
...* * * ...
Setelah tiba di kediaman Ibu Elizabeth, Damian masih menekuk wajahnya. Bahkan dia langsung menuju ke kamar tanpa mengatakan sesuatu kepada Jessica yang membukakan pintu.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, sepertinya Ibunya sudah berada di kamar. Untung saja jika Jessica yang membukakan pintu, jika ibunya... Mereka pasti akan di renteti dengan sejumlah pertanyaan.
"Apa semuanya baik-baik saja?" ujar Jessica yang melihat kepergian Damian begitu saja.
Angel tersenyum, lalu mengangguk. "Aku ke kamar dulu. Kau kembalilah ke kamarmu juga."
Jessica hanya mengangguk singkat. Angel lalu melanjutkan langkahnya untuk mengejar suaminya. Di dalam kamar, Angel dapat melihat bahwa suaminya sudah melepaskan jasnya dan hanya tersisa kemeja dan celana bahannya.
Dengan langkah pelan Angel menghampiri Damian kemudian duduk di sampingnya. Tangannya terulur untuk menggapai tangan Damian yang berada di lutut pria tersebut. Suaminya itu tidak menolak sentuhannya, walaupun saat ini Damian tengah kesal terhadap dirinya.
"Aku minta maaf jika membuatmu sudah marah. Tapi itu semua bukanlah atas kehendakku, Damian. Aku bahkan tadi terkejut dengan kehadiran Dave disana. Kumohon, maafkan aku."
Sulit bagi Damian untuk mengabaikan istrinya. Dia kemudian menghela nafas berat, setelah itu membalas sentuhan Angel di tangannya.
"Kau tahu, bukan? Bahwa suamimu ini tidak suka jika istrinya berdekatan dengan pria lain, apalagi pria tadi sempat-sempatnya menggodamu. Aku tidak menyukai, Sayang. Hatiku panas saat melihat dan mendengarnya. Ingin rasanya aku memukul wajah Clayton tadi."
"Dave tadi hanya menggodamu. Dia sengaja ingin membuatmu cemburu, bukan berarti dia benar-benar menyukaiku."
"Aku tidak perduli jika dia menyukaimu atau tidak. Yang jelas, aku tidak suka kepadanya sama sekali. Jadi, jangan dekat-dekat dengannya lagi. Atau kau akan melihatku mengamuk kepadanya."
Hanya anggukan yang dapat Angel lakukan. Tiba-tiba suaminya semakin merapatkan tubuh mereka.
"Sayang..." Damian memeluknya dari samping, dengan kepalanya yang ia jatuhkan ke bahu istrinya.
Angel mendesah pelan. Dia tahu apa yang suaminya inginkan jika bertingkah manja seperti ini. Siap-siap dirinya tidak akan di biarkan tidur oleh Damian malam ini.