The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Kepergian Calvin



Awan yang mendung, membuat suasana menjadi meredup. Bahkan terdengar suara tangisan yang saling bersahutan.


"Kenapa kau pergi secepat ini? hikss..." Vika sudah lumayan lama menangis, bahkan suaranya sudah terdengar parau.


Cukup banyak yang datang di acara pemakaman Calvin, tak terkecuali dari pihak keluarganya. Namun, pemakamannya telah usai sedari tadi, jadi keluarga Calvin sudah lebih dulu pulang. Dan hanya tersisa rekan-rekannya dan juga Mr. Robert.


Rasa bersalah Angel semakin memuncak. Apalagi Calvin kecelakaan setelah bertemu dengannya dan juga Damian. Angel menangis dalam diam, bahkan batinnya tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf.


"Ayo kita kembali," ujar Mr. Robert.


Vika menggeleng tegas, "Aku masih ingin disini."


Angel menyeka air matanya, kemudian menghampiri wanita itu.


"Vika, ayo kita pulang. Biarkan Calvin tenang disini."


"Tidak, Angel..hiksss..." Walaupun Vika menolak, tapi Angel tetap membawanya meskipun harus sedikit memaksa.


...* * * ...


Mereka telah tiba di markas sekitar 30 menit yang lalu. Namun tak ada yang kunjung membuka suaranya. Hanya terdengar suara tangisan Vika, yang sekarang sedang di tenangkan oleh Sherly.


Keheningan yang tercipta, mengingatkan mereka kepada Calvin. Sosok pria yang selalu membuat suasana menjadi ramai.


"Aku benar-benar tidak menyangka. Tadi pagi aku masih bertemu dan berbicara dengannya. Dan seperti biasa, dia membuatku kesal dengan celotehannya." Dave berbicara dengan suara pelan, bahkan di dalam kata-katanya itu, tersirat sebuah rasa kehilangan yang amat mendalam.


"Kau benar, Dave. Aku pun tidak menyangka akan hal ini. Bagiku, dia sosok pria yang kuat dan tak mengenal yang namanya kata menyerah. Namun sekarang kita benar-benar kehilangannya." Mr. Robert menimpali, sesekali pria paruh baya tersebut mengusap matanya.


Angel menggigit kuat bibirnya. Dia lalu berdiri, kemudian pergi darisana tanpa mengatakan apapun. Rekan-rekannya mengira bahwa Angel sedang mengalami kesedihan karena kehilangan Calvin, jadi mereka membiarkan wanita itu pergi tanpa mencegahnya.


Angel bersandar pada sebuah tiang besar yang berada di basement. Dirinya tidak bisa untuk menahan tangisannya, oleh sebab itu dia memilih untuk hengkang dari ruangan tersebut.


"Maafkan aku..." Bagi Angel, kata maaf yang dia lontarkan, tidak akan cukup untuk menebus kesalahannya.


"Kenapa hidupku harus seperti ini?" Wanita itu lalu menunduk, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluknya. Seketika, Angel langsung melepaskan tangannya lalu menatap orang tersebut. Dan dia adalah Damian, pria yang dicintainya.


"Menangislah! Jika itu bisa membuatmu menjadi sedikit lega," ujar pria itu sambil mengusap punggung wanitanya. Langsung saja Angel menenggelamkan wajahnya di dada Damian dan terisak disana.


Melihat wanita yang dicintainya menangis seperti ini, membuat jantung Damian merasa seperti di remas. Tapi, ada sedikit kelegaan dalam dirinya saat mengetahui bahwa saingan telah tiada. Entahlah, Damian sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Haruskah dia merasa senang? Ataukah dirinya harus merasa sedih?


"I-ini semua salahku. Aku telah menyakitinya, Damian. Sehingga dia marah lalu lepas kendali seperti ini."


"Tidak, Sayang. Ini semua bukan kesalahanmu. Mungkin memang takdirnya jika Calvin harus meninggal dengan cara seperti itu."


"Tapi, Damian..." Damian meletakkan telunjuknya di bibir wanita itu. Lalu secara perlahan dia menghapus jejak air mata yang berada di pipi kekasihnya.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi. Lagipula, ini bukanlah keinginan kita. Namun jika Tuhan sudah berkehendak, kita bisa apa?" Angel mengangguk pelan, dia lalu kembali memeluk Damian. Tapi kali ini pelukannya menjadi lebih erat.


Damian tersenyum, namun senyumannya langsung pudar, saat matanya bertemu dengan mata milik seorang pria yang sedang menatap kearahnya dan juga Angel. Sepertinya pria itu sudah lama berada disana, tapi Damian tidak menyadari.


Damian salah! Saingannya masih ada. Bahkan, jika dirinya tidak membuntuti Angel sedari pemakaman, mungkin posisinya ini sudah tergantikan oleh pria yang sedang menatapnya saat ini.


Pria di ujung sana memalingkan wajahnya, kemudian dia segera melangkah menjauh dari kedua pasangan tersebut.


...* * * ...


Setelah mengajak Angel untuk makan malam bersamanya, akhirnya Damian mengantarkannya pulang karena malam sudah hampir larut.


Hari ini Angel lebih banyak diam, dan Damian memaklumi itu. Dirinya tahu bahwa sikap diam dari kekasihnya tersebut karena merasa bersalah atas kepergian dari rekannya.


"Kau masuklah, diluar dingin!" ujar Damian sambil mengusap rambut milik Angel. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, wanita itu berjalan hendak memasuki rumah ibunya dengan langkah tertatih. Seolah-olah tubuhnya tidak memiliki tenaga lagi.


"My Angel..." Damian langsung berlari kemudian berjongkok di sampingnya.


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?"


Angel menampilkan senyum tipisnya, "Aku baik-baik saja, Damian. Lebih baik kau pulanglah."


"Bagaimana bisa aku pulang dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini?" Damian lalu mengetuk pintu di depannya. Cukup lama menunggu, hingga akhirnya ada seseorang yang membukanya.


"Angel, apa yang terjadi?" Hazel tampak khawatir saat melihat Angel yang terduduk di lantai dengan di temani oleh Damian.


"Tidak ada yang terjadi kepadaku. Oh ya, apakah ibu sudah tidur?" Hazel mengangguk singkat.


Kemudian tanpa mengatakan apapun, Damian malah menggendong tubuhnya.


"Damian, apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!"


"Bagaimana bisa aku menurunkanmu? Disaat kau sendiri kesulitan untuk berjalan." Melihat Damian yang akan melangkah masuk, Hazel dengan cepat menggeser tubuhnya sembari membukakan pintu lebih lebar.


Damian mengantarkan Angel ke kamarnya yang berada di lantai atas, sedangkan Hazel memilih untuk menunggu di ruang tamu.


Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Damian menurunkan wanitanya di atas kasur. Setelah itu Damian menegakkan kembali tubuhnya sambil memperhatikan di sekeliling kamar itu. Ini pertama kalinya Damian memasuki kamar milik Angel, wajar saja jika dirinya memperhatikan benda-benda disana dengan intens.


"Kenapa kau masih disini?" tanya Angel.


"Memangnya salah jika aku berada di kamar kekasihku? Lagipula, aku tidak melakukan apapun."


Bukan tanpa alasan mengapa Angel bertanya seperti tadi, itu semua karena dirinya merasa malu. Di kamarnya ini, terdapat banyak foto tentang masa kecilnya hingga dewasa. Apalagi di dalam foto tersebut, dia tampak konyol dengan pose seperti itu.


Damian tersenyum, dia lalu menjangkau sebuah foto yang tertempel di dinding. Di dalam foto tersebut, terdapat gambar Angel yang sedang bermain air di bibir pantai. Foto itu di ambil saat Angel masih kecil, lebih tepatnya ketika untuk pertama kalinya mereka bertemu di pulau yang menjadi tempat persembunyiannya dengan daddy-nya dahulu.


Secara diam-diam Damian memasukkan foto itu ke saku jaketnya. Dia kemudian berbalik dan menghampiri Angel.


"Aku pulang dulu. Besok aku akan kembali."


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk melihatmu. Sembari... memastikan bahwa kekasihku ini sudah membaik."


Angel mendengus, "Memangnya aku sakit?"


"Bukankah seperti itu? Buktinya kau tidak mampu untuk berjalan."


"Oh ayolah, Damian. Aku hanya lelah! Dan berhentilah bersikap seolah-olah aku ini adalah anak kecil."


Damian tertawa, "Baiklah-baiklah. Aku pulang sekarang. Tapi jika kau mengizinkanku, aku ingin menginap disini."


"Jangan macam-macam!" seru Angel sambil memelototkan matanya. Pria itu justru kembali tertawa, kemudian dia segera keluar dari kamar tersebut.


Sesampainya di ruang tamu, Damian terkejut saat mendapati Hazel yang tertidur disana. Dia pun lekas membangunkan adik dari kekasihnya itu.


"Mengapa kau tertidur disini? Mengapa tidak di kamarmu?"


Hazel mengucek matanya sambil menguap lebar, "Aku menunggumu pulang. Jika aku kembali ke kamarku lalu tertidur, siapa yang akan mengunci pintunya?"


Benar juga, pikir Damian.


"Baiklah, kalau begitu aku akan segera pulang, agar kau bisa mengunci pintunya." Damian lalu melangkah keluar. Namun saat dirinya hendak berbalik dan mengatakan sesuatu, Hazel justru sudah menutup pintunya begitu saja. Hampir saja pintu itu mengenai hidung mancungnya.


"Aku merasa seperti tengah di usir," gumam Damian sambil menggaruk tengkuknya.