The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Siapkah Ku Tuk Jatuh Cinta Lagi??



Saat ini Hazel berada dikantor tempat Susan bekerja. Karena sudah waktunya istirahat, Hazel melihat Susan berjalan kearah kantin.


"Susan," panggilnya dengan suara keras.


Susan pun menoleh ketika ada yang memanggil namanya.


"Hazel.. Untuk apa dia kemari?" gumamnya bingung melihat kedatangan Hazel.


Hazel sedikit berlari, lalu tanpa permisi dia menarik tangan Susan untuk mengikutinya.


"Hazel kau mau bawa aku kemana?"


"Sudah, ikut saja." Pria itu membawa Susan ke area parkir.


"Dimana Angel?" tanya nya to the point setelah melepaskan tangan Susan.


Susan tersenyum sinis lalu melipat tangannya di dada.


"Sudah kuduga. Kau pasti datang menemuiku karena menginginkan suatu hal."


"Mengapa kau ingin tahu dimana keberadaan Angel? Bukankah kau tidak pernah peduli padanya?" sambung Susan karena Hazel tidak membalas ucapannya.


"Aku memang tidak pernah peduli padanya. Ini bukan keinginanku untuk mencarinya, tapi ibu yang menginginkannya kembali." bohong Hazel.


Susan menatap Hazel dengan penuh selidik.


"Aku tidak percaya padamu."


"Oh ayolah, beritahu saja." tambah Hazel malas.


Susan memilih untuk tidak memperdulikannya dan berlalu dari hadapan Hazel. Tapi Hazel tidak menyerah, dia mengejar Susan dan menarik tangannya kembali.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Susan saat Hazel mencengkram tangannya kuat.


"Jangan buat aku bertindak kasar padamu." balas Hazel dengan tatapan dinginnya.


"Lepaskan tanganku!!" teriak Susan sambil memukul-mukul tangan Hazel yang mencengkram tangannya.


Hazel menulikan pendengarannya dan segera menarik tangan wanita tersebut agar mengikutinya. Tapi baru saja beberapa langkah, Hazel terjatuh karena dibogem oleh seseorang.


"Henry," ujar Susan terkejut dengan kedatangan pria yang baru saja memukul wajah Hazel itu.


Henry menatap Hazel datar dan tajam, "Jangan pernah mengganggunya lagi."


Setelah mengatakan itu, Henry membawa Susan agar segera pergi dari sana.


Sedangkan Hazel hanya bisa diam tak berkutik. Pria itu lalu bangkit dan menyentuh wajahnya yang memar akibat pukulan Henry.


"Shitt," umpatnya, dia pun memutuskan untuk enyah dari tempat tersebut.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Henry khawatir. Kini kedua lawan jenis itu sudah berada di dalam kantor mereka.


Susan hanya diam sembari menunduk. Dan itu membuat Henry menghela nafasnya, lalu mata pria itu beralih pada tangan Susan yang terlihat memerah karena ulah Hazel tadi.


Henry segera membawa Susan keruangannya dan mengobatinya menggunakan salep. Karena waktu sedang istirahat, jadi semua karyawan ada di kantin dan tidak melihat Susan yang dibawa Henry masuk ke ruangannya. Karena jika ada yang melihat, tentulah akan menjadi gosip nantinya. Dan itu akan membuat Susan menjauh darinya.


"Mengapa kau ada disana tadi?" lirih Susan yang masih dengan menunduk, namun sudah duduk di sofa ruangan pria tersebut.


Henry berhenti mengoleskan salep ditangan Susan saat mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir wanita itu.


"Aku melihatmu seperti ditarik paksa oleh seseorang lalu aku mengikutinya."


Susan lalu menatap Henry yang sudah fokus kembali mengoleskan salep pada tangannya.


'Mengapa kau begitu baik padaku Hen? Bagaimana jika aku jatuh hati padamu nanti?'


"Kau belum makan, bukan? Aku akan memesankan sesuatu." tambah Henry dan hendak berdiri tapi ditahan oleh Susan.


Henry menaikkan sebelah alisnya, seolah mengatakan 'ada apa?'.


Susan menggeleng pelan, "Aku tidak lapar. Aku hanya ingin kembali keruanganku." Tanpa melihat wajah pria di depannya itu, Susan segera bangkit dan menuju keluar.


Henry menatap punggungnya lekat, "Kau ingin menjauhiku?"


Susan yang saat itu hendak membuka pintu, seketika terhenti setelah mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh pria di belakangnya.


Untuk sejenak wanita tersebut terdiam. Hingga...


"Aku tidak ada alasan untuk menjauhimu."


Tanpa membalikkan tubuhnya, Susan memilih untuk segera keluar dari ruangan pria itu.


Henry hanya bisa menatap kepergian wanita yang di kaguminya tersebut dengan pandangan nanar.


...* * *...


Waktu menunjukan pukul 5 sore. Dan itu berarti saatnya untuk pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Susan sedang menunggu taksi yang lewat. Tapi sudah setengah jam dirinya menunggu, namun taksi tak kunjung ada yang lewat satu pun.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat didepannya. Dan Susan sudah hafal siapa pemilik dari mobil ini.


"Ayo, kuantar pulang!" ajak pria didalam mobil setelah kaca jendelanya terbuka.


"Tidak, Pak. Terima kasih. Saya menunggu taksi saja," balas Susan dengan formal.


Henry berdecak singkat, kemudian keluar dari mobilnya.


"Sepertinya aku harus memaksamu agar kau mau kuantar pulang."


Tanpa permisi, pria itu menarik tangan Susan dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Karyawan yang belum pulang melihat hal itu. Ada yang berbisik menghujat Susan tapi ada juga yang mendoakan mereka agar bersama karena mereka memang cocok.


Henry segera menjalankan mobilnya dan meninggalkan bisik-bisik tetangga. Di dalam perjalanan, tak ada yang memulai untuk bicara. Henry yang sibuk mengemudi, sesekali melirik ke arah Susan yang terus-menerus menatap keluar jendela.


'Apa wajahku kurang menarik? Sehingga dia selalu menatap ke arah jendela.' Henry mendengus pelan, kemudian kembali fokus mengemudi.


Setelah sampai di apartement Susan, Henry tidak membiarkan Susan untuk turun terlebih dahulu. Pria itu justru menggenggam tangannya yang membuat Susan tersentak.


"Kumohon, jangan menjauhiku!" pinta Henry dengan wajah melas.


Susan menatap Henry yang kini juga tengah menatapnya. Wanita itu lalu mengangguk singkat kemudian keluar dari mobil Henry setelah mengucapkan terima kasih.


Henry menatap sendu kepergian Susan. Kemudian pria tersebut memutuskan untuk kembali ke apartementnya juga.


Setelah sampai di pintu apartementnya, Susan segera membukanya lalu berjalan kearah sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana. Dia menatap langit-langit apartementnya lalu mengingat kembali ke masa lalu.


Dimana dulu Susan dicampakkan oleh kekasihnya, karena kekasihnya lebih memilih wanita yang lebih modis dan kaya darinya.


Mulai hari itu Susan menutup hatinya untuk pria manapun akibat traumanya dikhianati.


Karena menurutnya pria sama saja. Tak ada yang mencintai dengan tulus. Jika pria tidak mencintai wanita karena uang, pasti karena nafsu belaka.


Susan memejamkan matanya sejenak, lalu bergegas masuk kedalam kamar mandinya untuk berendam dalam bathup dan menjernihkan pikirannya. Sembari bertanya pada hatinya, siapkah untuk jatuh cinta lagi?


Jika Susan siap untuk jatuh cinta lagi, maka Susan juga harus siap untuk disakiti jika nantinya pria yang bersamanya kini mengkhianatinya kembali.