The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Karyawan Baru



Disana sudah ada James yang memandangnya kesal. Yang Angel balas dengan tatapan datar.


"Kau darimana?" tanya Sherly saat melihat kedatangan Angel.


"Menurutmu?" tanya Angel balik lalu membuka kaleng minuman soda yang terdapat diatas meja.


"Tentu saja dia habis olahraga, Sher. Apa kau tidak melihat pakaiannya?" timpal Vika yang sedang asik melihat Roby dan Calvin bermain catur.


"Heyy James, ada apa denganmu? Mengapa sedari tadi kau terlihat kesal?" tambah Vika saat melihat raut wajah James.


"Tidak ada," ketus James sambil memalingkan wajahnya.


Vika pun memutuskan untuk tidak bertanya lagi Dan fokus melihat Roby dan Calvin bermain.


"Ayo Rob, kalahkan Catty satu ini," ujar Vika antusias.


Sedangkan Calvin menatap tajam pada Vika yang selalu memanggilnya dengan sebutan Catty. Vika pikir dia kucing apa?


Vika tidak merasa takut sama sekali. Wanita tersebut justru membalas Calvin dengan menjulurkan lidahnya.


"Kauu," tunjuk Calvin pada Vika.


"Apa?" Vika berkacak pinggang sambil menatap Calvin galak.


"Tidak bisakah jika kau berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikan itu?"


"Kenapa memangnya? Aku rasa kau cocok dengan panggilan itu," balas Vika seolah menatang.


"Mulai lagi," gumam Sherly yang melihat percekcokan diantara dua lawan jenis ini.


Tiada hari tanpa adanya perdebatan dari kedua manusia ini. Entah Calvin ataupun Vika yang memulainya.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Vika setelah berdebat dengan Calvin.


"Entahlah, aku juga bingung." Sherly menghembuskan nafasnya bosan.


"Aaaa, aku benar-benar bosan," rengek Vika.


"Jika kau bosan, gantung diri saja." Tiba-tiba James menimpali ucapan wanita itu sambil memainkan ponselnya.


Vika pun langsung memberikan tatapan tajamnya, "Kau yang akan kugantung nanti."


"Bagaimana jika kita keluar?" usul Dave,


"Seperti liburan atau piknik," tambahnya.


"Boleh juga," sahut Sherly.


"Aku setuju," teriak Vika antusias.


"Yang lain?" tanya Dave pada para lelaki.


"Aku ikut saja," timpal Roby tanpa menoleh sedikitpun pada ketua.


"Aku juga."


"Aku ikut."


"Dan kau Angel?" tanya Sherly yang tidak mendengar suara wanita itu.


Angel terdiam sejenak, selang beberapa detik akhirnya dia membuka suara, "Sepertinya aku tidak bisa. Aku ada urusan yang harus kuselesaikan."


"Urusan apa?" Kepo James yang langsung meletakkan ponselnya ke atas meja depannya.


"Bukan urusanmu," balas Vika lalu dia tertawa setelah itu. Rasanya begitu menyenangkan jika membuat orang kesal.


"Tapi tidak seru jika kau tidak ada. Personil kita menjadi kurang tanpa kehadiranmu." Wanita itu menambahkan ucapannya tadi dengan nada sok sedih.


"Ciihh, lebay ...," cibir Calvin dengan suara pelan, namun masih dapat didengar oleh Vika.


"Kau bilang apa tadi?" Vika menatap tajam pria itu.


"Apa? Aku tidak mengatakan apapun.


Sepertinya ada yang salah dengan telingamu. Aku sarankan agar kau nanti pergi kedokter untuk memeriksa telingamu itu." Calvin menanggapinya dengan nada santai. Dan itu semakin membuat Vika menjadi kesal.


"Hey mengapa wajahmu memerah? Apa kau blushing karena aku perhatian padamu?


Jangan salah paham, okey? Aku hanya tidak mau jika harus susah mencari anggota baru," sambung Calvin tanpa beban.


"Aku marah, Bodoh. Bukan blushing," Habis sudah kesabaran Vika. Wanita itu kini melempari pria tersebut dengan bantal hingga mengenai wajahnya.


Akhirnya mereka berdebat lagi dan saling melempar bantal. Sesekali yang lain tertawa mendengar ucapan konyol dari keduanya.


Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika mereka membina rumah tangga. Akan jadi seperti apa rumah tangga mereka nanti?


Dan bagaimana pula sifat anak-anak mereka kelak?


Hanya tuhan yang tahu😁.


...* * *...


Seorang wanita sedang melangkahkan kakinya memasuki sebuah gedung perkantoran. Dia merupakan karyawan baru disana.


Dan setibanya di ruangannya, wanita itu langsung mendaratkan bokongnya ke kursi dan bersiap untuk melakukan pekerjaannya.


Kemudian dia menoleh kesamping saat melihat seorang wanita yang baru duduk di kursi sebelahnya.


"Hay," sapanya.


"Kau bicara padaku?" tanya wanita itu sambil menautkan alisnya bingung.


"Tentu saja. Aku Grace, dan siapa namamu?" ujarnya sambil menyodorkan sebelah tangannya.


"Aku Veronica," balas wanita di sampingnya itu singkat.


"Senang bertemu denganmu. Dan kuharap kita bisa menjadi teman."


"Tentu saja."


Setelah percakapan singkat tersebut, keduanya lalu larut dalam pekerjaan masing-masing. Sesekali Grace bertanya pada Veronica yang tidak dia pahami.


Dan tak mereka disadari, jam sudah menunjukan waktu istirahat. Grace pun merenggangkan badannya dan Veronica tertawa kecil melihatnya.


"Ayo ke kantin," ajak Veronica sambil berdiri dari duduknya.


Grace mengangguk kemudian mengikuti langkah Veronica yang berjalan di depannya.


Dan setibanya dikantin, mereka memilih tempat yang agak pojok agar tidak terlalu mencolok.


"Kau ingin memesan apa?" tanya Veronica.


"Sama kan saja denganmu."


Veronica mengangguk singkat lalu berjalan menuju kasir untuk memesan makanan. Sedangkan Grace tetap duduk sembari melihat-lihat keadaan sekitar.


Tak butuh waktu lama, Veronica kembali dengan membawa pesanan mereka. Keduanya menyantap makanan itu dengan sangat lahap mungkin efek kelelahan sehabis bekerja.


"Tidak," sahut Veronica singkat sambil menyeka bibirnya menggunakan tisue.


"Mengapa? Apa hanya aku yang menjadi temanmu?"


"Sepertinya begitu."


Grace akhirnya memilih untuk tidak bicara lagi. Tiba-tiba Veronica menoleh pada seseorang yang baru saja memasuki kantin.


"Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?" ujar wanita itu sambil menatap kagum pada sosok pria yang baru saja memasuki kantin.


Grace yang posisinya membelakangi pintu kantin, seketika menoleh. Dan dia pun menatap kagum pada pria itu sama seperti Veronica.


"Siapa dia?" tanya-nya dengan masih memandangi pria tersebut.


"Dia adalah manager keuangan disini," jawab Veronica tanpa mengalihkan pandangannya.


"Benarkah? Woww... bukan hanya tampan, pasti dia juga memiliki banyak uang."


"Tentu saja. Soal itu jangan ditanyakan."


"Apa dia sudah memiliki pasangan?"


Mendadak raut wajah Veronica berubah menjadi masam.


"Dia belum memiliki pasangan. Tapi yang kudengar, dia sedang mendekati seorang wanita."


"Siapa wanita beruntung itu?" tanya Grace dengan menggebu.


"Ciih, aku tidak ingin membahasnya. Ayo kembali, waktu istirahat hampir selesai." Veronica terlihat kesal. Dia lalu pergi dari situ dan ikuti oleh Grace.


"Siapa wanita yang disukai oleh manager tampan itu? Dan mengapa Veronica terlihat kesal dan tidak ingin membahasnya?" gumam Grace pelan dengan rasa penasarannya yang kian membesar.


...* * * ...


5 jam kemudian...


Tibalah waktunya pulang dan kembali kerumah masing-masing. Saat Veronica dan Grace tengah berjalan menuju keluar, mata mereka tak sengaja menangkap pemandangan seorang pria menawari seorang wanita untuk pulang.


"Ooh... jadi wanita itu yang disukai oleh manager tersebut." Grace mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham.


Dan Veronica? Jangan di tanyakan lagi. Wanita itu kini mengepalkan tangannya sembari menahan dirinya agar tidak menjambak rambut wanita tersebut.


Dulu Angel yang merebut milikku, sekarang berganti menjadi kau. Apa aku harus menyingkirkanmu sama seperti aku menyingkirkan Angel dahulu?


"Ayo pulang," ujar Veronica dengan penuh kekesalan. Grace hanya mengendikkan bahunya acuh dan mengikuti saja langkah wanita tersebut.


Dilain tempat...


"Ayolah, aku akan mengantarmu pulang," ajak Henry, yang tak lain adalah manager yang disukai oleh Veronica.


"Tidak, terima kasih, Pak. Saya bisa pulang sendiri," tolak Susan dengan halus dan sopan.


Memang Susanlah yang disukai oleh Henry. Karena menurutnya, Susan adalah wanita yang baik dan rajin. Dan itu yang membuat Veronica membencinya dan berniat menyingkirkannya sama seperti adik pungutnya terdahulu.


"Kau takut jika aku melakukan yang tidak-tidak padamu heh?" tebak Henry.


"Bu-bukan seperti itu, Pak."


Tiba-tiba Henry tertawa dan itu menambah ketampanannya. Bahkan semua wanita mendadak terdiam ketika melihat Henry tertawa.


"Kau tenang saja. Aku tidak seburuk itu.


Ayo cepat, hari sudah mulai gelap."


Susan lalu melihat ke atas. Ternyata benar, hari mulai gelap. Entah karena akan hujan atau sebentar lagi akan memasuki waktu malam.


Wanita itu kemudian menghela nafasnya. Dengan pasrah, Susan memasuki mobil milik Henry dan membiarkan pria tersebut untuk mengantarnya ke apartementnya.


"Emm, Susan?" panggil Henry kikuk sembari mengemudi.


Susan yang awalnya melihat kearah jendela, seketika menatap pria yang baru saja memanggilnya ini.


"Ada apa, Pak?"


"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Henry tanpa menatap lawan bicaranya. Tangannya sudah keringat dingin dan butuh keberanian baginya untuk bertanya itu.


"Maaf, Pak. Mengapa anda bertanya seperti itu?" balas Susan bingung bercampur heran. Sepertinya dia wanita yang tidak peka.


"Jawab saja. Dan tolong jangan memanggilku seperti itu terus. Kita tidak berada dikantor sekarang." Henry benar-benar risih mendengar Susan yang terus saja memanggilnya dengan sebutan 'Pak'.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?"


"Henry. Just Henry."


"Ba-baiklah, Henry."


"Itu lebih baik," ujar Henry puas.


"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi!" tambahnya.


"Yang mana?"


Mendengar itu, membuat Henry memutar bola matanya malas. Sepertinya Susan tipe wanita yang pelupa.


"Apa kau sudah memiliki seorang kekasih?" ulang Henry dengan menekankan kata diakhir.


"Itu privasi," jawab wanita itu tanpa menatap atasannya tersebut.


"Apakah aku tidak boleh tahu?"


"Maaf," Hanya kata itu yang dapat Susan katakan.


Henry menghembuskan nafasnya singkat.


Tipe wanita yang susah ditebak.


"Oh ya, siapa orang yang sering kau temui dimobil sport berwarna kuning itu?" tanya Henry ketika ingat saat Susan sering keluar dan masuk kedalam mobil berwarna kuning tersebut.


"Hanya temanku," Balas Susan acuh.


"Dia wanita atau lelaki?" tanya Henry lagi.


Tapi saat dia bertanya itu, mobilnya sudah berada didepan bangunan apartement yang Susan tinggali.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Henry, Susan bergegas turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena telah mengantarnya pulang. Sedangkan Henry menatap kepergian Susan sampai wanita itu benar-benar menghilang.


"Apa itu kekasihnya?" gumam Henry.


Lalu pria tersebut memutuskan untuk pergi dari sana, sebab dibelakangnya terdapat sebuah mobil yang membunyikan klaksonnya sedari tadi.


"Dasar tidak sabaran," gerutunya sambil menginjak pedal gasnya.


--------------------------------------


Sabar yoo Henry😅