
Sinar mentari dan hembusan angin pagi menerpa wajah Angel yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Mungkin saat ini dirinya terlihat tenang, namun tidak dengan hatinya. Lamaran Damian semalam, masing terngiang-ngiang di pikirannya.
Angel menghela nafasnya. Kebimbangan tengah melanda dirinya. Haruskah dia menerima Damian, atau... tidak??
"Terima saja!" Tiba-tiba Hazel sudah berdiri di sampingnya tanpa ia sadari.
"Kau... Kapan masuk ke kamarku?" tunjuk Angel dengan wajah bingung.
"Saat kau tengah sibuk memikirkan lamaran Damian yang semalam."
Angel bergeming. Wanita itu lalu kembali menatap ke depan dengan pikirannya yang masih memikirkan Damian.
"Aku tidak tahu mengapa kau begitu acuh kepadanya. Padahal jelas terlihat bahwa kalian saling menyukai. Eh ralat, maksudku saling mencintai."
"Sok tahu," cibir Angel.
"Aku bukannya sok tahu, Angel. Tapi itu memang benar adanya. Saat pandangan kalian bertemu, aku dapat melihat benih-benih cinta di mata kalian berdua."
Mata Angel berputar karena jengah dengan perkataan adiknya itu.
"Apakah semenjak Jessica meninggalkanmu, kau berubah menjadi seorang motivator masalah cinta?"
"Kumohon, jangan bahas dia." Hazel menatap ke depan. Terlihat mimik wajahnya yang berubah setelah mendengar nama mantan kekasihnya tersebut.
"Kenapa? Apakah kau belum bisa melupakannya?"
"Menurutmu?"
Angel menatap adiknya iba. Dia lalu menyentuh bahu Hazel sambil tersenyum tipis.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membahasnya."
"Tidak masalah. Harusnya aku tidak berlebihan seperti tadi."
'Apakah begitu sulit untuk melupakannya, Hazel? Kau benar-benar mencintainya sehingga kau membuat dirimu sendiri menjadi kacau dan berantakan,' batin Angel bergumam, namun dia hanya berani mengatakannya di dalam hati. Dirinya sudah merasa bersalah atas ucapannya tadi. Angel tahu bahwa maksud Hazel baik ketika datang menemuinya. Tapi dirinya justru membuat Hazel menjadi murung karena membahas tentang mantan kekasihnya.
"Tumben dia tidak datang hari ini. Apa jangan-jangan dia kecewa padamu?" Ucapan Hazel benar-benar mengenai hatinya. Melihat keterdiaman dari saudarinya tersebut, membuat Hazel menambahkan kata-katanya.
"Aku hanya sekedar mengingatkan. Zaman sekarang, susah mencari orang yang tulus seperti Damian. Jangan sampai ketika Damian telah pergi, kau baru menyesalinya."
Mulut Angel membisu. Bahkan setelah pria itu sudah tidak berada lagi di sampingnya. Kata-kata yang Hazel keluarkan, membuat dirinya merasa tertampar. Angel kemudian bergegas masuk ke kamarnya untuk mencari ponselnya. Setelah ketemu, dia segera menghubungi Damian.
Panggilan pertamanya tidak tersambung, namun itu tidak membuat Angel menjadi putus asa. Dia terus menghubungi pria tersebut. Hingga, setelah empat panggilannya tidak tersambung atau tidak aktif, Angel menyerah.
"Apakah yang Hazel katakan tadi benar? Bahwa Damian kecewa kepadaku dan sengaja mematikan ponselnya agar aku tidak dapat menghubunginya?"
Tidak! Dirinya tidak boleh lemah. Angel lalu memutuskan untuk berpamitan keluar sekedar mencari Damian. Namun setelah berada di dalam taksi, Angel justru terlihat bingung karena dia tidak tahu harus kemana.
'Aku melupakan satu hal! Aku tidak tahu dimana Damian tinggal!' Angel menggigit bibirnya cemas. Di dalam kecemasannya itu, tiba-tiba ponselnya berdering.
Nomor tidak di kenal. Angel hendak menolak panggilan itu, tapi hatinya mengatakan untuk menjawab saja. Dengan ragu, wanita itu menscroll tombol hijau. Terdengar suara bising dari balik teleponnya.
"Hallo, Nona. Ini aku, Mario." Suara Mario terdengar seperti kelelahan. Dan itu membuat Angel jadi mengerutkan dahinya.
"Ada apa, Mario?"
"Tuan, Nona.. Tuan mengalami kecelakaan. Dan baru saja dokter yang menanganinya keluar dan mengatakan bahwa kondisi Tuan kritis." Dari ujung sana, Mario seperti tengah menahan tangisnya. Sementara Angel hanya bisa terdiam dengan pikirannya yang kacau.
"Dimana dia sekarang?" tanya Angel dengan suaranya yang lemah.
"Tuan berada di Rumah Sakit Kota."
Tak ingin membuang waktunya lagi, Angel segera mematikan panggilannya lalu memberitahu supir taksi tersebut untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit Kota.
Air matanya mengenang di pelupuk mata. Tak henti-hentinya Angel berdoa dan berharap bahwa Damian baik-baik saja dan membuka matanya.
Setibanya di lokasi, Angel langsung berlari menuju keruangan yang Mario kirim lewat pesan. Setelah menemukan ruangan itu, Angel lalu membuka pintunya secara perlahan. Dirinya dapat melihat Damian yang terbaring dengan selang infus dan perban di kepalanya.
Angel menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya keluar juga. Dirinya tidak percaya ini. Ini bagaikan mimpi untuknya. Baru semalam Damian melamarnya, dan sekarang pria itu sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
"Damian..." Tangannya terulur untuk menyentuh wajah pria yang di cintainya tersebut. Sedetik kemudian, Angel memeluknya sambil terisak tiada henti.
"Ka-kau harus bangun. Kau tidak boleh meninggalkanku..hikss.. Aku tahu kau pria yang kuat, dan kau tidak boleh menyerah!!"
"Memangnya kenapa jika aku mati?"
Untuk sejenak Angel terdiam. Merasa tidak asing dengan suaranya, Angel pun menjauh dari tubuh Damian. Dilihatnya bahwa pria tersebut tengah tersenyum namun masih dengan mata terpejam.
"Ba-bagaimana bisa? Bukankah kau kritis?"
Seketika Damian membuka matanya.
"Siapa yang mengatakan itu? Aku hanya luka ringan, bahkan di keningku ini hanya terdapat dua jahitan."
"Tunggu sebentar, jadi kau baik-baik saja dan tidak kritis?" Damian mengangguk polos.
Wajah Angel berubah menjadi kesal. Dia tahu harus menemui siapa sekarang. Berani-beraninya Mario membohonginya hingga membuat dirinya menjadi cemas dan berlebihan seperti ini.
Di saat dirinya hendak pergi, tiba-tiba Damian menahan tangannya. Sontak Angel menatap pria tersebut dengan tanda tanya.
"Tetaplah disini!!" Tatapan Damian begitu memohon. Angel yang melihatnya menjadi kasihan, apalagi Damian tidak memiliki siapapun lagi untuk menemaninya disini. Akhirnya dia mengalah lalu mengambil posisi duduk di samping pria itu.
"Sekarang, ceritakan kepadaku apa yang terjadi."
Damian tersenyum sembari mengangguk singkat. Dia lalu berdehem pelan, kemudian memulai ceritanya.
"Pagi ini, aku hendak kerumah ibumu untuk menemuimu. Aku bangun lebih awal, lalu mandi, sarapan dan tak lupa untuk meminum kop---"
"Tidak bisakah jika kau langsung ke intinya saja?" potong Angel sambil berdecak sebal.
Damian justru terkekeh, "Baiklah-baiklah. Tadi pagi, aku ingin menemuimu. Namun saat di jalan, aku melihat ada yang menjual bunga. Aku pun turun dari mobil untuk membelikanmu beberapa bunga . Tapi, ketika aku sedang menyebrang, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor dari arah kiriku. Secara refleks aku menghindarinya, namun kakiku justru tersandung lalu kepalaku membentur trotoar. Tapi kau tenang saja, kepalaku tidak terbentur dengan kuat."
Pria tersebut tiba-tiba memeluknya. "Kau tahu? Aku tadi sangat takut sekali."
"Kenapa kau takut? Bukankah dokter mengatakan bahwa kau tidak apa-apa."
"Memang benar. Namun aku membayangkan, bagaimana jika aku mengalami amnesia lalu melupakanmu? Aku benar-benar takut sekali, My Angel."
Tadinya air mata Angel sudah kering, tapi sekarang kembali keluar setelah mendengar ucapan dari Damian.
'Kau membuatku dilema, Damian. Kau berhasil mengobrak-abrik perasaanku.'