
"Sebaiknya kau pergi, daripada harus membuat kekacauan disini!" David menyela, pria tua itu kini sudah berdiri dari duduknya.
"Tentu saja aku akan pergi. Lagipula, aku tidak ingin berlama-lama disini."
"Baguslah. Lihat! Pintu keluar sudah terbuka lebar untukmu. Jadi, silahkan keluar dari sini." Ferry menatap Angel tajam. Namun tatapan itu Angel balas dengan sebuah seringaian.
Tanpa memperdulikan suasana di sekitarnya, wanita itu justru menghampiri Jessica dan berdiri di hadapannya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Angel. Walaupun dulu Jessica tidak pernah mendukungnya, entah mengapa dirinya tidak bisa untuk membenci wanita tersebut. Apalagi wanita di hadapannya ini adalah wanita yang adiknya cintai, simbol kebahagian Hazel.
Dahi Jessica mengernyit heran, "Aku baik. Maaf, siapa kau?"
Angel tersenyum, ternyata Jessica tidak mengenalinya. Mungkin karena penampilannya yang sekarang sangat berbeda.
"Aku... Kakak dari kekasihmu."
"Kekasihku? Siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi jika bukan Hazel."
Wajah wanita itu tampak terkejut. "Veronica, itukah kau?"
Angel menggeleng, "Apakah kakak dari kekasihmu hanya Veronica?"
"Tidak.." Jessica menundukkan pandangannya sambil berusaha mengingat. Beberapa detik kemudian, air matanya turun perlahan.
"Angel??"
Wanita di depannya mengangguk sambil tersenyum. Jessica menundukkan kepalanya karena malu, isakannya bahkan tidak dapat untuk dia tahan.
Angel tidak perduli akan hal itu, dia lalu membawa Jessica ke pelukannya. Entah kapan terakhir kali mereka berpelukan seperti ini, Angel tidak mengingatnya.
"Maafkan aku, Angel. Kumohon, maafkan aku..." lirih Jessica dengan sejuta rasa bersalah.
"Lupakan apa yang terjadi di masa lalu. Biarkan itu semua menjadi kenangan yang tidak perlu di ingat kembali." Angel mengusap punggungnya pelan. Setelahnya, dia melepaskan pelukan mereka kemudian menarik tangan Jessica untuk ikut dengannya.
Ketika mereka akan melewati Lutfi, pria itu langsung menggenggam tangan Jessica yang bebas. Sontak saja kedua wanita tersebut harus menghentikan langkahnya.
"Kau bukanlah berasal dari sini. Sebaiknya, kau jangan mengusikku, atau aku akan mendeportasimu ke negara asalmu." Bisikan Lutfi berupa ancaman. Sayangnya, itu tidak membuat Angel takut.
Dengan langkah anggun, Angel mempersempit jarak antara dirinya dengan pria itu. Bahkan, dia tidak segan-segan untuk mengancamnya balik.
"Silahkan! Namun sebelum kau melakukan itu, aku akan dengan cepat melenyapkanmu dari dunia ini."
Tidak terima dan merasa di hina, Lutfi lalu mengangkat tangannya ke udara. Tapi, sebelum tangan itu menyentuh wajahnya, Angel dengan cepat menahannya. Semua orang yang menyaksikan itu, jadi terkejut. Pria yang mereka kenal dengan kebaikkan dan kemurahan hatinya, justru berani memukul seorang wanita.
"Aku ingatkan sekali lagi padamu. Sebelum bertindak, pikirkan dulu apa yang akan terjadi. Contohnya seperti sekarang ini! Kau akan kehilangan kepercayaan dan wibawa dari semua orang yang ada disini. Bukan hanya itu, mereka tidak akan lagi menganggapmu sebagai pria panutan." Angel menghempaskan tangannya. Kemudian dia melepaskan secara kasar cengkeraman Lutfi pada tangan Jessica.
Kembali Angel melanjutkan langkahnya. Namun sebelum mereka keluar, terdengar teriakkan dari David yang membuat mereka berhenti untuk kesekian kalinya.
"Jika kau berani meninggalkan gedung ini dan membatalkan pernikahan, maka aku tidak akan pernah lagi menganggapmu sebagai putriku. Bahkan, aku tidak akan pernah menganggapmu ada."
Hati siapa yang tidak sedih mendengarnya? Air mata Jessica turun dengan derasnya, bahkan isakannya yang keluar dari mulut, sulit untuk dia kendalikan.
Pengungkapan Angel kembali membuat para hadirin disana merasakan keterkejutan yang luar biasa.
"Jika kau memang menyayanginya, kau tidak akan mungkin meninggalkannya bersama ibunya di kala susah. Tapi, saat kau mendengar bahwa Bibi Maria (Ibu Jessica) sedang mengalami popularitas dan keberhasilan dalam bisnisnya, dengan tanpa tahu malunya kau justru kembali. Lalu... Setelah Bibi Maria tiada, kau mengambil semua yang seharusnya menjadi milik putrimu. Dan saat kau sedang dalam masalah keuangan, kau justru mengorbankan anakmu sendiri hanya demi uang yang tidak seberapa yang di berikan oleh dia." Angel menunjuk Ferry. Semua pandangan kini tertuju pada pria paruh baya tersebut.
"Andai saja kau adalah ayahku, maka aku akan memilih untuk tidak pernah menganggapmu ada." Angel lalu pergi dan membawa Jessica yang semakin terisak keras.
Benar yang di katakan oleh Angel. Ayahnya hanya menganggapnya tidak lebih dari pada sebuah boneka. Namun, jika dirinya pergi dari ayahnya, harus kemana dia?
Saat itu Jessica tidak memiliki siapapun sebagai tempat pelarian.
Perlahan semua tamu meninggalkan gedung dengan perasaan marah dan kecewa. Baik terhadap keluarga Lutfi maupun kepada David. Semuanya hancur, tidak ada pernikahan yang akan gelar disana.
Lutfi yang tidak tahan dengan ucapan orang-orang kepadanya, memutuskan untuk pergi. Dirinya merasa sangat marah, sekaligus tidak tahan untuk menanggung rasa malu.
Dan untuk David, Ferry memutuskan hubungan dengan pria itu. Dia merasa begitu sangat malu atas kejadian ini. Jika bisa, dirinya tidak ingin bertemu lagi dengan mantan calon besannya itu.
...* * * ...
Melihat kedatangan istrinya, membuat Damian langsung bangkit dan hendak membuka suara. Namun langsung di suruh diam oleh Angel melalui matanya.
Di samping istrinya, terdapat seorang wanita yang mengenakan gaun pengantin. Wanita itu menatap Hazel intens. Dan tanpa di minta, dia melangkahkan kakinya kearah pria yang tengah berbaring tersebut.
Angel kemudian menarik tangan Damian untuk keluar dari ruangan itu. Biarkan Jessica menghabiskan waktu bersama Hazel, walaupun adiknya itu belum juga sadarkan diri.
Setelah di luar ruangan, Damian menghempaskan tangannya dan memasang wajah sok marah.
"Kemana kau pergi? Mengapa kau justru meninggalkan Hazel dan tidak memberitahuku sama sekali? Apakah aku tidak ada artinya di matamu?"
Satu..
Dua..
Tig...
"Hahaha..." Angel tidak bisa untuk menahan tawanya. Dia lalu mencubit kedua pipi suaminya yang sedang menekuk wajahnya saat ini.
"Kau tampak menggemaskan jika sedang marah seperti itu. Teruslah marah dan jangan pernah berhenti." Angel mengedipkan sebelah matanya.
"Kau istri yang jahat. Tapi sayangnya, aku malah mencintaimu dan tergila-gila padamu. Entah ilmu apa yang kau berikan kepadaku," sahut Damian sambil menatapnya datar.
Angel menaruh jari telunjuknya di dagu seolah tengah berpikir. Tiba-tiba saja, terdengar bunyi seperti gemuruh.
"Bunyi apa itu?" tanya Damian bingung.
Istrinya itu malah menunjukkan senyum malunya.
"Sepertinya cacing di perutku sudah lapar."
Sontak saja Damian tertawa. Pria itu kemudian merangkul bahu Angel dan mengajaknya untuk mencari makan. Inilah bahagia yang sebenarnya. Dimana kau bisa tertawa bercanda dengan orang yang kau cintai.
Namun kebahagian ini tidaklah selalu muncul di hari-hari mereka. Akan ada pada saatnya sebuah masalah dan duka datang tanpa mereka inginkan.