The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Makan Malam Bersama



Yang ditunggu pun tiba. Damian baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah ibunya Angel atau calon mertuanya hehehe...


Angel hanya melihat kedatangan Damian dengan raut wajah yang tidak bersahabat sembari bersandar pada pilar pintu. Ibu Elizabeth yang melihat kelakuan anaknya itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Wanita paruh baya itupun segera menghampiri Damian untuk menyambutnya.


"Selamat datang, Mr...." Ibu Elizabeth menjeda ucapannya karena tidak tahu nama marga Damian.


"Damian. Panggil saja seperti itu, Nyonya." Damian tersenyum simpul sambil menganggukan kepalanya sopan.


"Oh, baiklah." Ibu dari Angel itu lalu mengajak Damian untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan ketika melewati Angel, bukannya menyambut Damian masuk, wanita tersebut malah pergi ke dalam lebih dulu.


Ibu Elizabeth jadi tersenyum tidak enak pada Damian, "Maafkan kelakuan Angel tadi."


"Tidak masalah, Nyonya. Aku sudah biasa dengan sikapnya yang seperti itu."


"Benarkah? Angel sering berprilaku seperti itu padamu?"


Damian tersenyum kecil, "Lupakan saja, Nyonya."


Ibu Elizabeth menarik nafasnya sejenak, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Wanita itu lalu mengajak Damian untuk kembali melanjutkan langkah mereka.


Setibanya di ruang makan, sudah terdapat Angel dan Hazel disana. Terlihat Angel telah mengambil posisi duduk, sedangkan Hazel tampak seperti sedang merapihkan meja makan itu.


Lagi-lagi ibu Elizabeth hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya tersebut. Harusnya Angel yang merapihkan meja makan, namun ini malah terbalik.


Damian hanya bisa menatap lekat sang pujaan hati, sembari menahan senyumnya melihat tingkah dari wanita itu.


"Silahkan duduk." Ibu Elizabeth mempersilahkan Damian untuk duduk disebelah putrinya. Angel yang melihat itu, jadi mendengus tidak suka.


Ibu Elizabeth lalu memperingati Angel melalui tatapannya. Namun wanita itu justru terlihat tidak perduli dan semakin menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Damian.


Karena merasa percuma memperingati putrinya itu, ibu Elizabeth akhirnya memilih untuk ikut duduk saja di samping Hazel dan berhadapan langsung dengan Damian.


Angel memang tidak memperdulikan kehadiran Damian dan memilih sibuk memakan buah anggur di depannya. Karena menurutnya, anggur yang ada dihadapannya lebih menggiurkan daripada lelaki yang duduk disampingnya.


"Berapa umurmu, Nak?" tanya Ibu Elizabeth yang mulai mewawancarai pria di hadapannya tersebut.


"30 tahun, Nyonya."


Ibu Elizabeth tertawa kecil, "Jangan panggil aku nyonya, panggil saja Ibu."


Damian mengangguk singkat sambil membalas senyuman dari wanita paruh baya itu. Lalu matanya melirik wanita muda disampingnya yang tampak sibuk dengan makanannya.


"Lalu apa pekerjaanmu?"


"Hanya seorang pengusaha, Bu."


Ibu Elizabeth mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya lalu memperhatikan wajah Damian intens, karena dirinya merasa bahwa wajah Damian seperti bukan wajah orang Amerika.


"Darimana sebenarnya kau berasal?"


Damian yang saat itu sedang menyantap makanannya, seketika terhenti kemudian fokus menatap ibu Elizabeth.


"Aku berasal dari Kota Sisilia, Italia, Bu."


"Woahh, benarkah?" Kali ini Hazel yang membuka suaranya dengan ekspresi takjub.


Damian hanya mengangguk singkat, lalu mengambil tisue untuk menyeka sisa makanan di bibirnya.


"Dulu aku memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan disana, namun Ibu tidak mengizinkannya." Hazel melanjutkan ucapannya sambil melirik ibunya yang juga tengah menatapnya.


"Ibu bukannya tidak mengizinkanmu. Jika kau melanjutkan studymu disana, lalu siapa yang akan menemani Ibumu ini?" sahut Ibunya, yang membuat Hazel seketika bungkam dan memilih untuk kembali melahap makanannya.


"Boleh aku bertanya lagi padamu?"


"Tentu saja, Bu. Tidak usah sungkan."


"Apa sebenarnya hubunganmu dengan putriku? Dan bagaimana bisa kalian saling mengenal?"


Pertanyaan yang di lontarkan oleh ibunya, membuat Angel langsung menghentikan kegiatan makannya. Kini wanita itu menatap Damian dan juga ibunya secara bergantian.


"Aku sendiri juga tidak tahu, apa sebenarnya hubungan kami ini. Aku menganggapnya sebagai kekasih, sedangkan dia? Jangankan menganggapku sebagai kekasih, menganggap keberadaanku saja tidak---Aww..." Damian mengaduh kesakitan saat merasakan ada seseorang yang menginjak kakinya di bawah meja.


Pria itupun lalu menatap wanita di sampingnya. Yang dimana wanita tersebut sedang menatapnya dengan sangat tajam.


"Ada apa, Damian?" tanya ibu Elizabeth yang terlihat bingung.


Damian menggeleng pelan sambil tersenyum sopan.


"Tidak apa-apa, Bu. Kaki-ku tidak sengaja menginjak kaki-ku yang lain."


Ibu Elizabeth mengangguk singkat.


"Berarti kau benar-benar serius dengan Angel, kan?"


"Tentu saja," jawab Damian mantap sambil melirik Angel yang kini menatapnya sebal.


"Dan kau, Angel. Apa kau yakin ingin menolak seorang pria yang benar-benar tulus padamu ini?"


"Oh, Ibu. Aku sedang tidak ingin membahas itu. Lagipula, Damian dan aku tidak memiliki hubungan apapun," sahut Angel dengan nada malas.


"Jika aku jadi dirimu, aku akan langsung menerima Damian. Jelas-jelas pria itu sudah jauh-jauh dari Sisilia ke New York untuk bertemu denganmu. Dan kau menolaknya tanpa mempertimbangkannya lebih dulu? Awas kau akan menyesal nanti, Angel." Si Hazel ikut membela Damian. Dan Angel merasa tidak memiliki teman yang akan membela dirinya.


"Kalau begitu, kau saja yang menjalin hubungan dengan Damian." Selepas mengatakan hal itu, Angel langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya di lantai atas.


Ketiga orang yang berada di meja tersebut, tertawa melihat tingkah Angel yang seperti anak kecil.


"Kau benar-benar sopan dan menyenangkan, Nak. Aku menyukaimu dan merestui hubungan kalian berdua." Tiba-tiba Ibu Elizabeth berkata seperti itu yang membuat Damian tidak dapat untuk menahan senyum bahagianya.


Karena dirinya sudah mendapatkan lampu hijau dari wanita yang telah melahirkan pujaan hatinya ini, dengan begitu tinggal satu langkah lagi. Yaitu mengambil hati Angel agar bisa mencintainya juga, sama seperti dirinya yang begitu mencintai wanita tersebut.


Setelah itu mereka membicarakan keluarga masing-masing. Sebenarnya Damian sudah tahu semua tentang keluarga ini, namun dia memilih untuk pura-pura tidak tahu.


Dan Damian menceritakan tentang keluarganya pada Ibu Elizabeth bahwa dia yatim piatu saat ini. Dan ibu Elizabeth mengatakan padanya, jika Damian bisa menganggapnya seperti ibunya sendiri, yang tentu saja dibalas dengan anggukan antusias oleh Damian.


Seusai makan malam dan kegiatan wawancara, Damian lalu berpamitan untuk pulang.


"Terima kasih sudah mengajakku untuk makan malam bersama," ujar Damian sambil tersenyum simpul.


Ibu Elizabeth membalas senyuman dari pria tersebut.


"Jika kau punya waktu, sering-seringlah datang kemari."


Damian menganggukkan kepalanya singkat, lalu berjalan menuju mobilnya. Yang mana terdapat Mario yang sedari tadi menunggunya.


Namun ketika dirinya hendak memasuki mobil, Damian mendongakkan kepalanya saat menyadari ada seseorang disana. Dan benar saja, terdapat Angel yang sedang menatapnya dengan wajah masam sambil melipat kedua tangannya di dada.


Damian tidak bisa untuk menahan tawa kecilnya ketika melihat tingkah menggemaskan wanita itu. Andai saja saat ini Angel berada di sampingnya, mungkin Damian sudah mencium habis pipi wanita tersebut.


Tak tahan terlalu lama bersitatap dengan Damian, Angel pun segera memalingkan wajahnya. Damian tersenyum tipis, kemudian segera masuk ke dalam mobilnya.


Dan mobil Damian pun menjauh dari perkarangan rumah. Ibu Elizabeth melihat putrinya sejenak yang berada di atas balkon, lalu bergegas masuk kedalam saat merasakan udara dingin yang menusuk tulangnya.


Begitupun dengan Angel. Selepas kepergian dari Damian, dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya saat merasakan udara malam yang semakin dingin.