The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Keinginan Jessica



Seperti yang di rencanakan, mereka akan kembali pada pagi ini. Keempatnya bahkan sudah berada di dalam pesawat yang telah landas sejak beberapa jam yang lalu. Dan sejak tadi, Damian tak ingin lepas dari sang istri. Dia terus menempel layaknya sebuah lem.


Hazel dan Jessica yang memperhatikan itu, hanya bisa menggelengkan kepala. Ketahuilah, bahwa mereka bisa membuat adegan romantis bahkan lebih dari sepasang suami istri tersebut.


Jengah dengan pemandangan di depannya, membuat Hazel membawa Jessica untuk menjauh dari sana. Dirinya ingin menghabiskan waktu bersama hanya berdua.


Jessica bersandar pada bahu Hazel saat keduanya telah kembali duduk di sofa di ruang keluarga, yang dimana di depan mereka terdapat sebuah televisi yang baru saja di nyalakan.


"Hazel.."


"Hmm?" Hazel menolehkan kepalanya dan menatap wanita di sampingnya dengan tanda tanya.


"Apa yang akan kulakukan saat disana nanti?"


Sejenak Hazel terdiam sembari berpikir. Kemudian dia teringat pada ibunya.


"Kau bisa membantu Ibu di butiknya."


Jessica tersenyum kikuk, "Aku memang menyukai fashion, tapi untuk urusan butik, aku tidak memahaminya."


"Ibu pasti akan mengajarkan dan menjelaskannya kepadamu."


Hazel benar, tapi... "Bagaimana jika Ibumu tidak menyukaiku?"


Kali ini Hazel tersenyum, kemudian mengacak gemas rambut kekasihnya.


"Itu tidak mungkin. Asal kau tahu, Ibu selalu bertanya tentangmu."


"Benarkah?"


"Tentu saja." Ucapan Hazel berhasil menghilangkan kecemasan dalam dirinya. Tidak bisa di pungkiri, bahwa Jessica sangat beruntung memiliki Hazel.


Keheningan terjadi. Hazel mulai fokus pada layar kotak di depan mereka. Sedangkan Jessica, terlalu fokus menatap wajah tampan kekasihnya.


"~Bahagiaku bersamamu


Senang bila dekat denganmu


Kamu mahluk yang aku tuju


Yang lainnya ku tidak mau."


Mendengar sang kekasih bernyanyi, sontak saja membuat Hazel langsung mengalihkan pandangannya.


"~Genggam erat tanganku, Sayang


Dan jangan pernah kau lepaskan


Karena aku butuh bimbingan


Cintaku jangan kau lewatkan


~Bahagia aku bila bersamamu


Tenang hatiku dalam pelukanmu


Tetap denganku hingga kau menua


Hingga memutih rambutmu


~Senang hatiku hidup bersamamu


Belahan jiwa jagalah diriku


Karena denganmu damai lah hatiku


Menualah bersamaku."


Walaupun Hazel tidak mengerti maknanya, namun dia yakin bahwa lagu itu untuknya. Apalagi tatapan dari Jessica, penuh dengan di warnai cinta.


Sepertinya aku harus belajar bahasa Indonesia, pikir Hazel.


Di satu sisi...


"Damian, hentikan itu!" Angel menjadi kesal dengan tingkah suaminya yang mendadak menjadi sangat manja.


"Aku tidak mau," ujar Damian sambil terus mendusel di dada istrinya.


Akhirnya, Angel hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Dirinya begitu lelah pagi ini. Sebab, semalam Damian tidak membiarkannya tidur dengan nyenyak. Baru saja dirinya menutup mata, lagi-lagi Damian dengan usilnya menyentuh bagian sensitivenya.


Mengingat kejadian semalam, membuat pipinya merona. Angel lalu menepuk-nepuk pipinya untuk menghilangkan pikiran kotor itu. Sepertinya, otaknya sudah terkontaminasi oleh Damian.


Damian yang mengamati sikap istrinya sejak tadi, tiba-tiba tersenyum jahil.


"Ini masih pagi, Sayang."


"Apa maksudmu?" Angel berpura-pura polos. Dia lalu memalingkan wajahnya dari Damian.


Namun semakin Angel menghindarinya, suaminya tersebut justru semakin ingin menggodanya.


Glekk... Angel meneguk salivanya susah. Dirinya terlalu malu untuk membahas hal itu.


"Kau menginginkannya?" Kembali Damian bertanya.


"Tidak."


Suaminya tersebut tersenyum miring, "Benarkah?"


"Tentu saja."


"Bagaimana jika aku yang menginginkannya?"


Seketika Angel menatap pada suaminya. Matanya membulat, dan mulutnya terbungkam rapat. Tak memperdulikan reaksi dari istrinya, Damian justru segera berdiri kemudian menggendong tubuh Angel.


"Damian, apa yang ingin kau lakukan?" Angel memekik, tapi suaranya lebih mirip seperti bisikan.


"Mengulang kejadian semalam," jawab Damian tenang sambil mulai melangkah.


"Kau gila!!?? Kita masih di pesawat. Bagaimana jika ada yang mendengar?"


"Itulah yang tidak kau tahu. Pertama, aku ingin merasakan bercinta di atas ketinggian ribuan kaki bersamamu. Kedua, kamarku yang ada di pesawat ini di desain dengan kedap suara. Jadi kau tidak perlu khawatir jika ada orang yang akan mendengar jeritan suaramu nanti."


Kesal dengan jawaban suaminya, Angel pun menarik rambut Damian. Bukannya merasakan kesakitan, Damian justru tertawa sambil terus melangkah menuju ke kamar.


Untuk kesekian kalinya Angel hanya bisa pasrah. Sakit yang di timbulkan semalam oleh suaminya, belum juga membaik. Tapi sekarang, suaminya itu ingin melakukannya lagi. Ingin rasanya Angel menolak, namun tubuhnya tidak sinkron dengan kata-kata yang ingin di keluarkan oleh mulutnya.


"Oh, God. Sampai kapan aku harus melihat pemandangan ini?"


Jessica tertawa mendengar gumaman Hazel. Mereka berdua yang ingin kembali duduk bersama Angel dan Damian, malah di perlihatkan dengan adegan suami yang menggendong istrinya menuju ke kamar.


"Biarkan saja, Hazel. Mereka hanya ingin memadu kasih, apa salahnya?"


"Tapi tidak perlu di hadapan kita, bukan?"


Jessica kembali tertawa, "Kenapa? Apakah kau iri?"


"Tidak. Untuk apa aku iri? Lagipula aku memilikimu." Hazel lalu merangkul Jessica, dan mereka melanjutkan kembali langkahnya.


Mereka duduk di tempat Angel dan Damian tadi. Darisana, mereka bisa melihat gumpalan awan yang mengeliling pesawat tersebut.


Jessica tersenyum melihatnya. Namun di detik berikutnya, senyuman itu memudar dan bergantikan dengan kesedihan. Hazel yang menyadarinya, segera menarik dagu wanita itu agar menatap dirinya.


"Ada apa, hmm? Apa yang sedang kau pikirkan hingga membuatmu bersedih seperti ini?"


Jessica menggeleng, "Aku hanya merindukan negaraku, itu saja."


"Kita baru beberapa jam meninggalkannya, tapi kau sudah merindukannya?"


Wanita itu tidak menjawab. Dia malah menunduk dan mulai mengeluarkan air matanya.


"Kau tidak tahu. Disanalah kenangan terbanyak yang kumiliki bersama kedua orangtuaku. Dan bukan hanya itu. Aku mencintai negaraku. Di saat negara-negara lain tidak menyukaiku, namun negaraku lah yang menyambutku dengan tangan terbuka. Kau pasti tidak tahu, bukan? Bahwa di setiap negara yang ku kunjungi, sulit bagiku untuk beradaptasi. Ada saja orang-orang yang ingin mencari masalah hingga melukaiku. Alasannya sepele, hanya karena kekasih mereka melirikku."


Hazel tidak mengetahui tentang itu. Yang dirinya tahu, Jessica adalah wanita yang ceria dan selalu menunjukkan kebahagian. Namun di balik itu semua, ada kesedihan di dalamnya.


"Maafkan aku... Aku tidak tahu akan tentang penderitaanmu selama ini." Hazel meraih kedua tangan kekasihnya kemudian menciuminya.


"Maafkan aku... Maafkan aku..."


Jessica menatapnya, "Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?"


"Katakan saja, Sayang. Apapun itu, pasti akan kupenuhi."


"Aku tinggal di Indonesia."


Hazel bergeming. Dia masih mencerna sekaligus menimang ucapan wanita tersebut. Tinggal di Indonesia? Lalu bagaimana dengan ibunya?


"Aku tahu, akan sulit bagimu untuk menyetujuinya. Oleh sebab itu..." Jessica menarik nafasnya dalam.


"Lebih baik kau melepaskanku."


Sulit memang mengatakannya. Namun, mungkin itulah yang terbaik. Dirinya tidak ingin selalu menyusahkan Hazel. Apalagi pria itu masih dalam masa pendidikannya. Hazel saja belum bekerja, bagaimana bisa pria itu akan memenuhi segala kebutuhannya?


"Apa maksud dari perkataanmu? Kenapa kau memintaku untuk melepaskanmu? Apakah kau ingin menyudahi hubungan kita?" Hazel meruntutinya dengan berbagai macam pertanyaan.


Jessica kembali menunduk, "Aku akan selalu menyusahkanmu jika masih berada di dekatmu."


"Apa aku mempermasalahkan itu?" Hazel mulai terlihat marah. Dirinya tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Jessica.


"Jangan katakan itu lagi. Aku tidak ingin mendengarnya."


"Tapi, Hazel..."


Pria itu lekas mengarahkan jari telunjuknya kepada bibir Jessica. Hazel menggeleng, seolah memintanya untuk berhenti membahas ini.


"Aku tidak pernah merasa di susahkan oleh dirimu. Kumohon, jangan mengatakannya lagi. Kau menyakitiku dengan hanya mengatakan itu."


Jessica terenyuh. Dia lalu memeluk Hazel sembari menggumamkan kata maaf. Begitupun sebaliknya, Hazel membalas pelukan itu tak kalah erat. Dirinya hanya mencintai Jessica. Jika dia tidak bisa bersama dan bersatu dengan wanita itu, maka sampai kapanpun dirinya tidak ingin menikah.