
Darah lebih kental daripada air. Pepatah itu mengatakan hal yang benar. Mungkin karena ikatan darahlah yang membuat Jessica tidak bisa untuk membenci ayahnya.
David melepaskan pelukan mereka, lalu menghapus air mata yang membasahi pipi putrinya. Wajah Jessica sangat mirip dengan Maria, istrinya. Semakin lama dia menatapnya, maka membuatnya semakin merasa bersalah.
"Ayah harus pergi. Kau harus menjadi wanita yang baik, jangan seperti Ayahmu ini. Dan Ayah ucapkan terima kasih kepadamu, karena kau tidak membenci Ayahmu yang hina ini." David menyeka buliran air matanya sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Mungkin... Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Setelah ini Ayah tidak akan muncul lagi di hadapanmu."
Jessica menggeleng, seolah menolak pernyataan ayahnya. David hanya tersenyum, kemudian menghampiri Hazel yang duduk di ranjangnya.
"Maafkan aku atas apa yang menimpamu. Katakanlah aku tidak tahu malu, tapi aku tidak perduli. Tolong kau jaga putriku dan pastikan selalu dia bahagia."
Hanya anggukan yang dapat Hazel lakukan. Karena ini merupakan pertemuan pertamanya dengan ayah dari Jessica, dan itu membuatnya merasa canggung dan kikuk.
David kembali menghadap putrinya dan membelai kepalanya. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan tak akan pernah kembali. Jessica yang terisak makin keras, membuat Hazel menjadi tidak tega dan segera membawa kekasihnya kedalam pelukannya.
Tak ingin mengganggu suasana di ruangan itu, Angel kemudian menarik tangan suaminya untuk keluar. Biarkan Hazel menenangkan Jessica yang sedang dalam kondisi tidak baik.
...* * * ...
Sehari telah berlalu. Tepat hari ini Hazel sudah di perbolehkan untuk pulang. Jessica yang menemaninya dan merawatnya hingga membaik. Namun bukannya langsung kembali ke penginapan, kedua sepasang kekasih itu justru pergi untuk jalan-jalan.
Angel tidak mempermasalahkannya. Yang penting adik dan sahabatnya tersebut dalam keadaan yang baik-baik saja.
Saat ini wanita itu sedang malas keluar. Dirinya memilih untuk melakukan perawatan pada kukunya sambil menonton berita di televisi. Di awal berita yang di tayangkan tersebut, terdapat seorang pria yang melakukan bunuh diri dengan melompat dari atas gedung tertinggi.
Awalnya Angel terlihat tidak perduli. Namun setelah pembawa berita itu menyebutkan nama si korban, gunting kuku di tangannya langsung terlepas dan jatuh ke lantai.
Tubuh Angel mematung cukup lama dengan matanya yang mengarah ke televisi. Hingga dirinya tersadar dan segera mencari keberadaan Damian.
"Damian.. Dimana kau?" Angel mencari di setiap ruangan. Ternyata suaminya itu baru saja selesai mandi.
"Ada apa, Sayang? Mengapa kau berteriak seperti itu?" sahut Damian sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Tanpa menjelaskan apapun, Angel justru menarik tangan Damian dan buru-buru mengajaknya ke suatu tempat.
"Heyy, mau kemana?" Istrinya tidak menjawab. Akhirnya, Damian hanya bisa pasrah kemana Angel membawanya.
Dan disinilah mereka sekarang berada. Jessica menangis tersedu-sedu sambil memeluk nisan yang tertulis nama ayahnya. Kini dirinya tidak memiliki siapapun lagi. Baik ibu maupun ayahnya telah pergi meninggalkannya seorang diri.
Beberapa jam yang lalu, Angel mengajak Damian ke tempat yang menjadi lokasi kejadian meninggalnya ayah Jessica. Tapi sayangnya, jasad David sudah di bawa ke rumah sakit.
Tak banyak Angel berkata-kata. Dia lalu menghubungi Hazel yang baru saja di belikannya ponsel baru. Sepertinya kedua sejoli tersebut tidak mengetahui tentang hal ini. Karena nampaknya mereka sedang asyik bermain air di bibir pantai.
Setelah di beri tahu, Hazel dan Jessica lekas menemuinya di rumah sakit. Tak butuh waktu lama, pemakaman untuk ayahnya telah siap.
Angel segera menghampirinya kemudian berjongkok di samping Jessica.
"Sampai kapan kau akan tetap disini? Ayolah, pulang bersama kami."
Hening... Hanya semilir angin yang terdengar. Akhirnya Angel mengalah, dan membiarkan Hazel yang membujuknya.
"Jika kau tidak ingin pulang, maka aku juga tidak ingin pulang. Bila perlu, kini akan menginap disini."
Jessica menolehkan kepalanya perlahan, "Kemana aku harus pulang, Hazel? Aku tidak memiliki apapun lagi, termasuk rumah."
Hazel membuang nafasnya panjang, kemudian menggenggam tangan kekasihnya.
"Bukankah kau masih memiliki aku? Jika kau tidak tahu harus kemana, maka datanglah kepadaku. Karena aku bukan hanya sebagai kekasihmu, melainkan juga sebagai rumahmu."
Angel mendekatkan bibirnya pada telinga Damian yang berdiri di sampingnya.
"Kau tahu? Aku iri melihatnya. Suamiku tidak pernah mengatakan hal yang romantis seperti itu."
Damian berdecak. Bisa-bisanya Angel berkata demikian. Apalagi suasananya sedang tidak mendukung sekarang. Tak ingin berdebat di pemakaman itu, membuat Damian mengalah dan tak ingin menimpalinya.
Jessica bergeming. Sedetik kemudian dia mengangguk pelan. Hazel pun tersenyum, lalu membantunya untuk bangkit. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang. Tepatnya ke hotel yang Damian dan Angel tempati.
Usut punya usut, kematian David di sebabkan oleh depresi berat yang di alaminya. Ternyata pria itu memiliki hutang dengan jumlah besar pada lintah darat. David mengharapkan uang dari Ferry, namun sayangnya gagal karena anaknya tidak jadi menikah dengan Lutfi.
Oleh sebab itu, David tidak bisa untuk membayarnya. Sedangkan Rentenir itu selalu datang untuk menagih bahkan sampai mengancam dirinya.
Tidak sampai disitu. David mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup untuk menanggung malu. Kegagalan pernikahan putrinya dan pengungkapan yang Angel jabarkan, membuat dirinya hidup dengan tidak tenang.
Setiap detik, menit, bahkan jam, ada saja yang mencela dan menghina dirinya. Maka dari itu, David mengambil jalan ini. Mungkin ini yang terbaik baginya maupun putrinya. Harapannya adalah, semua penderitaan Jessica sirna setelah kepergiannya.
Sebagian orang mungkin mengira bahwa mengakhiri hidup atau bunuh diri adalah jalan terbaik. Tapi, tidak tahukah kau? Bahwa dengan mengakhiri nyawamu, masalah tidak akan terselesaikan.
Jika saja dirimu tiada, bisa jadi masalah yang kau buat akan berimbas pada keluargamu. Jika tidak pada suami/istri, anak, orangtua maupun kerabat.
So... Jangan menyerah!! Coba sekali lagi, karena hidup adalah tentang belajar dari kesalahan.
Jessica yang masih berada dalam suasana duka, langsung menempati kamar yang telah di siapkan oleh Angel. Wanita itu duduk di tepi kasur dan melamun. Dirinya ingin mengingat kenangan bersama kedua orangtuanya. Namun sayangnya, kenangan manis hanya dirinya miliki bersama ibunya. Jessica tidak memiliki kenangan manis maupun indah ketika bersama ayahnya.
Walaupun begitu, Jessica tidak akan membenci sosok pria yang tinggal bersamanya sejak beberapa tahun belakangan ini. Tanpa ayahnya, mungkin dia tidak bisa tidur dengan nyaman dan makan-makanan yang enak.
'Ayah... Kau tahu, bukan? Bahwa kita tidak memiliki kenangan yang indah. Tapi tidak masalah. Bersamamu, membuatku belajar banyak hal. Mulai dari kemandirian, hingga menjadi wanita yang kuat. Dari sekarang, aku harus hidup tanpamu. Aku akan menjadi putrimu yang kuat dan berusaha menggapai kebahagianku. I Love You Ayah, Ibu. Tunggu aku bersama kalian.'