The MAFIA And His Angel

The MAFIA And His Angel
Bonus Part : Seuntai Cerita Dari Si Kembar



"Paman...." teriak Naura antusias, dia lalu berlari kencang kearah pria yang di panggilnya dengan sebutan paman tersebut.


Dave yang semula sedang berbicara dengan salah satu karyawannya, segera menangkap tubuh Naura. Jika tidak, mungkin Naura sudah terjengkang ke depan.


"Apa yang kau lakukan disini? Apakah kau tidak ke sekolah?"


"Tentu saja aku akan ke sekolah. Tapi aku ingin menemui paman lebih dulu."


Pria itu mendesah pelan, "Naura, kau tahu sendiri 'bukan jika jarak antara sekolahmu dengan kantorku lumayan jauh?"


Gadis tersebut mengangguk polos, "Lalu?"


"Kau bisa terlambat."


"Tidak masalah. Jika guruku menghukumku, aku akan mengadu pada daddy."


Itulah jurus andalan Naura. Sedikit-sedikit mengadu. Tak jarang Damian salah sangka padanya. Damian mengira bahwa apa yang Naura lakukan adalah ajarannya. Padahal dia tidak pernah mengajarkan itu sama sekali.


"Sebaiknya kau berangkat sekarang. Jika daddymu tahu, dia pasti akan marah lagi kepadaku."


"Siap, Kapten." Naura menyahutinya sambil memperagakan gaya hormat.


Dave menampilkan senyum simpulnya, kemudian mengecup kening wanita itu. Sebelum Naura pergi dari sana, dia memberikan kecupan ringan di pipi Paman tercintanya tersebut.


Mengatur Naura, susah-sudah mudah. Kadang dia menurut, kadang dia keras kepala seperti orangtuanya.


Disaat Dave masih memandangi kepergian Naura, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tanpa melihat siapa penelponnya, dia langsung menjawab panggilan itu.


"Kau mau mati, hah? Kenapa kau meminta putriku untuk menemuimu? Apa kau tidak tahu jika dia bisa terlambat karena ulahmu?"


Dave menghembuskan nafasnya jengah. Dia selalu mendapatkan hardikkan dari pria yang tak lain adalah Daddy dari Naura. Mengingat di sekitarnya terdapat banyak mata-mata dari Damian, Dave pun tidak heran lagi darimana pria itu mengetahui segala pertemuannya dengan putrinya.


Tak ingin berdebat dengan Damian untuk saat ini, membuat Dave langsung memutuskan panggilannya. Dia kemudian memasukkan ponsel itu ke saku balik jasnya, sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya untuk menuju ke ruangannya.


...* * * ...


"APA!!???" teriakkan itu menggema di seluruh ruangan.


"Noah... Tidak perlu berteriak seperti itu," ujar Mommy-nya, Angel.


"Bagaimana bisa aku tidak berteriak kaget, Moms? Mommy ingin menjodohkanku dengan gadis ceroboh itu. Tidak, aku tidak ingin menikah dengannya."


Raut wajah Angel berubah menjadi sedih. "Ya, sudah. Mommy tidak bisa memaksamu."


Wanita yang sudah memasuki kepala empat tersebut, segera berdiri dari duduknya kemudian melangkah pelan untuk menjauhi putranya.


Noah terlihat tidak berdaya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, dan akhirnya menyetujui ucapan Mommy-nya itu.


"Baiklah. Aku menyetujuinya, Moms."


Angel mengulum senyumnya, dia lalu berbalik dan menatap Noah yang masih duduk di sofa.


"Kau tidak bercanda, bukan? Kau benar-benar menerimanya?"


"Iya," jawab Noah sambil menganggukkan kepalanya pelan.


Seketika Angel berlari kearahnya kemudian memeluk tubuh Noah.


Hanya senyuman tipis yang Noah berikan. Dirinya benar-benar tidak berdaya jika Mommy-nya sudah menunjukkan raut wajah sedih.


Di satu sisi...


"APA!!??" Sama halnya dengan Noah. Seorang wanita berteriak kaget setelah Mommy-nya mengatakan keinginannya untuk menjodohkannya dengan anak dari temannya.


Mulutnya menganga lebar, dengan isengnya sang adik memasukkan roti ke dalam mulutnya. Setelah itu dia menaikkan dagu kakaknya agar mulutnya tertutup rapat.


"Mommy yakin ingin menjodohkannya dengan Noah?" tanya Jack sambil menyantap makanannya.


"Tentu saja."


Jack tampak berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.


"Noah pasti tidak ingin menikah dengannya. Mommy 'kan tahu sendiri jika Noah tampan, keren dan berprestasi, sedangkan dia?"


Sierra langsung mendelik tajam kearah adiknya.


"Kau ingin mengataiku bodoh?"


"Aku tidak mengatakannya, tapi kau sendiri," jawab Jack acuh.


Saat ini Sierra sedang tidak ingin bertengkar dengan adiknya. Dia pun segera mengalihkan pandangannya kearah Mommy-nya. Sedetik kemudian,


"Huwaaa... Mommy tidak menyayangiku lagi. Mangkanya Mommy ingin menjodohkanku agar aku segera pergi dari rumah ini."


Tukk!!!


Sebuah sendok mendarat di keningnya, Sierra pun meringis sambil memajukan bibirnya beberapa centi.


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Harusnya kau bersyukur bisa menikah dengan pria yang sangat sempurna seperti Noah. Mommy tidak ingin mendengar penolakanmu." Selepas mengatakan itu, Vika segera melenggang pergi dari sana.


"Mommy jahat," lirih Sierra sambil menatap kepergian Mommy-nya.


"Ck..ck... Harusnya kau bersyukur bisa menikah dengan Noah. Jika kau tidak mau, biar aku saja yang menikah."


Mata Sierra membulat, "Kau menyukai Noah?"


"Tidak. Tapi aku menyukai adiknya," kekeh Jack.


Mendadak Sierra menjadi kesal. Dia lalu memukul kepala adiknya menggunakan garpu di tangannya, setelah itu dia berlalu dari ruangan tersebut.


...* * * ...


Malam yang begitu hening, dengan angin sepoi-sepoi yang menemaninya. Sudah 17 tahun lamanya dia mencari, tapi tak juga menemukan cintanya. Yaa, dia adalah Dave. Pria yang sudah berumur kurang lebih 44 tahun itu, belum kunjung menemukan Sherly. Entah kemana wanita tersebut bersembunyi.


"Dimana kau sekarang? Aku sudah mencarimu kesana dan kemari, namun belum membuahkan hasil." Dave memandangi selembar foto Sherly yang sengaja dia cetak.


Buliran-buliran air mata perlahan turun membasahi pipinya. Kenangan itu masih ada, dan melekat sangat nyata di dalam pikirannya.


"Aku merindukanmu. Kumohon kembalilah, Sayang."


Pria itu lalu mencium foto tersebut, sebelum akhirnya dia memejamkan matanya dan menikmati sapuan angin menerpa wajahnya.