
Angel menelusuri jalan dengan perasaan campur aduk. Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama ibunya, namun tidak bisa karena harus mencari keberadaan Veronica sebelum ada lagi yang menjadi korban berikutnya.
Setelah dilihat-lihat, sepertinya Veronica mengalami gangguan kejiwaan setelah dia diberhentikan dari pekerjaannya. Angel masih tak menyangka dengan semua yang terjadi. Ini bagaikan mimpi baginya.
Kehilangan Susan dan mendapatkan kembali ibunya. Bagaimana bisa terjadi dalam waktu yang sama. Entahlah, Angel pusing memikirkannya.
Malam telah tiba dan Angel memutuskan untuk kembali ke apartementnya yang berada disini. Namun sebelum itu, dia menghubungi Calvin agar mengantarkan mobilnya yang berada dimarkas ke apartementnya.
Hanya membutuhkan waktu satu jam, Calvin sudah berdiri didepan apartement Angel dengan senyum manisnya. Saat hendak mengetuk pintu, Angel sudah membukanya lebih dulu kemudian meminta kunci mobilnya langsung.
"Apa kau tidak menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu?" gerutu Calvin.
Angel menghela nafasnya, "Aku lelah, Calv. Lebih baik kau pulang sekarang, karena aku ingin istirahat."
"Baiklah. Tapi bisa kau jelaskan padaku terlebih dahulu, mengapa kau tiba-tiba pulang secara mendadak seperti ini?" Calvin menaikkan sebelah alisnya bingung sambil menatap intens wanita di depannya ini.
Angel memang tidak memberitahu siapa pun tentang kematian Susan. Karena memang mereka tidak ada yang mengenal Susan. Bahkan dia lupa untuk memberitahu Dave atas kepulangannya yang mendadak ini.
Calvin melambaikan tangannya di depan wajah Angel, saat melihat wanita tersebut hanya terdiam termenung.
"Angel, Kau baik-baik saja?"
Angel tersentak kemudian menggeleng pelan, "Pulanglah!"
Tanpa mendengarkan jawaban dari Calvin, Angel langsung masuk kembali ke dalam, dan tak lupa untuk menutup pintunya.
Calvin berdecak sebal, "Bahkan dia tidak mengucapkan terima kasih atau selamat malam padaku."
Pria itupun memutuskan untuk kembali pulang karena memang kehadirannya tidak dibutuhkan disini. Calvin pulang menggunakan taksi karena tadi dia kesini menggunakan mobil milik Angel.
Sementara di apartementnya, Angel tak henti-hentinya berpikir dengan apa yang terjadi.
Bagaimana caranya dia memberitahu kepada orangtua Susan tentang ini?
Bagaimana jika orangtua Susan tidak terima?
Bagaimana dan Bagaimana, yang kini memenuhi kepala Angel.
Hingga dirinya lelah berpikir lalu terlelap dengan sendirinya.
...* * * ...
Matahari telah menyingsing. Dan sekarang waktunya untuk menggantikan bulan. Dan pagi ini, Angel telah siap kembali untuk mencari keberadaan Veronica. Dia tidak akan bisa tenang jika Veronica belum ditemukan.
Angel meengendarai mobilnya seperti biasa. Dan tujuannya saat ini adalah kantor polisi. Angel ingin mencari tahu, apakah Veronica meninggalkan jejak disana.
Setibanya di tempat itu, Angel segera menemui Kepala Polisi. Namun dia mendapatkan hasil yang mengecewakan. Ternyata Veronica benar-benar lihai bahkan jejaknya tidak dapat ditemukan.
Angel segera pergi dari sana dan memilih singgah di café yang terdekat untuk sarapan terlebih dahulu. Ketika dirinya sudah memasuki Café dan telah duduk disalah satu kursi, mata Angel tak sengaja melihat Roby yang sedang duduk di kursi pojok sendirian dengan melihat kearah luar jendela.
Angel lalu segera berdiri dan mendekat ke arah posisi Roby sekarang.
"Boleh aku duduk disini?"
Roby yang masih melihat kearah luar dan belum menyadari kehadiran Angel, hanya mengangguk singkat.
Angel pun duduk di depan Roby dan melihat pria itu yang tampak murung.
"Roby??"
Merasa dipanggil, Roby kemudian segera menoleh. Dan dilihatnya saat ini, seorang rekan kerjanya sedang duduk dihadapannya.
"Angel, ini benar kau?" tanya Roby yang masih tidak percaya dengan kehadiran Angel saat ini.
Angel hanya tersenyum tipis kemudian mengangguk kecil. Pria itu lalu kembali menatap keluar jendela dengan wajah yang tampak seperti tadi.
"Emm..Roby. Apa kau memiliki masalah?"
Nampak Roby menampilkan senyum tipisnya. Namun tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.
"Kau bisa memberitahuku, mungkin aku bisa membantumu."
Walaupun hanya sebagai rekan kerja, Angel sudah menganggap mereka sebagai teman. Dan saat salah satu di antara mereka mendapatkan masalah, Angel akan dengan sigap membantunya.
"Tidak, Angel. Kau tidak akan dapat membantuku." Roby berujar lirih dengan pandangan sendu.
"Kenapa? Apakah masalahmu serumit itu?"
"Sangat. Karena ini melibatkan sebuah perasaan."
Tanpa di beritahu, Angel mengerti maksud dari ucapan Roby.
"Kalau boleh aku tahu, siapa wanita yang kau sukai?"
"Kau tahu wanita itu. Bahkan kalian begitu dekat."
Dahi Angel langsung mengkerut bingung, "Benarkah? Siapa?"
"Sherly..."
Seketika Angel terdiam dengan matanya yang membulat. Bagaimana bisa Roby menyukai Sherly yang merupakan kekasih dari Dave? Namun, ini semua bukanlah kesalahan dari Roby. Karena perasaan itu datang tanpa dia minta.
"Apakah kau akan memberitahu semua orang?" tanya Roby pelan.
Angel menaikkan sebelah alisnya sembari menatap Roby heran.
"Apa untungnya aku memberitahu semua orang?"
Roby tersenyum tipis kemudian menggeleng. Pria itu lalu kembali menatap keluar jendela. Dan Angel, dia tampak sedang menikmati sarapannya. Sesekali mereka berbicara mengenai apa yang terjadi di markas selama Angel tidak ada, begitupun Roby yang bertanya mengenai misi Angel dan juga James di Sisilia.
Angel mungkin menceritakannya. Namun tidak semuanya dapat dia ceritakan kepada Roby, contohnya tentang Damian. Mana mungkin Angel berani menceritakannya. Cukup James yang mengetahui tentang dirinya dengan Damian.
Membicarakan tentang Sisilia, Angel lalu teringat dengan Damian. Bagaimana bisa dia melupakan pria itu? Pasti saat ini Damian tengah mencari keberadaannya.
'*Maafkan aku, Damian. Aku akan menghubungimu setelah urusanku disini selesa*i,' batin Angel berucap.
Setelah sarapannya habis, Angel langsung berpamitan kepada Roby. Karena urusannya belum selesai.
Namun saat Angel hendak membayar pesanannya pada waittres, Roby justru mencegahnya dan mengatakan bahwa biar dia saja yang membayarnya beserta pesanannya.
Karena tak ingin membuang waktu, akhirnya Angel mengangguk kemudian segera keluar dari cafe tersebut.
Saat dirinya tengah berjalan menuju ke mobil, Angel melirik sejenak jam di pergelangan tangannya. Yang dimana masih menunjukkan pukul 10 pagi.
"Kemana aku harus mencarinya?"
...* * *...
"Tuan," panggil Mario.
Damian yang sedang melihat photo Angel diatas nakas yang ada dikamarnya, segera menoleh saat dipanggil oleh tangan kanannya itu.
Mario membungkukkan badannya sejenak. Kemudian menatap tuannya tersebut. Karena jarak yang cukup dekat, Mario dapat melihat dengan jelas guratan lelah dan kecewa pada wajah tuannya itu.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Damian datar.
"Iya, Tuan. Saat ini nona Angel berada di New York. Dan mobil Tuan yang saat itu di pakai oleh nona Angel untuk ke bandara, sudah berada disini," jelas Mario.
"Dan..." Mario menggantungkan ucapannya, dan itu membuat Damian langsung melemparkan tatapan tajamnya pada pria tersebut.
"Dan apa? Jangan bermain-main denganku, Mario."
Mario menundukkan kepalanya tanpa mau berani menatap tuannya itu.
"Dan nona Angel kembali ke negaranya karena temannya yang bernama Susan telah tewas karena di bunuh, Tuan."
Damian terkejut dengan penuturan Mario. Pria itu lalu terduduk di tepi kasurnya sambil memijat pelipisnya.
"Mengapa kau tidak memberitahuku, My Angel? Bahkan aku sampai berpikir negative tentang dirimu."
"Mungkin saat itu nona Angel benar-benar panik sekaligus terpukul, Tuan. Oleh sebab itu, dia tidak sempat untuk mengabari Anda," sahut Mario yang mendengar gumaman dari tuannya itu.
Damian menghela nafasnya panjang, "Apakah pelakunya sudah di tangkap?"
"Awalnya sudah, Tuan. Namun si pelaku itu berhasil melarikan diri. Mungkin itulah yang membuat nona Angel tidak sempat mengabarimu. Bisa jadi nona Angel sibuk mencari kakaknya itu."
"Kakaknya? Apa maksudmu, Mario?" Damian menatap bingung pada pria yang lebih tua di bandingkan dirinya tersebut.
"Veronica Richie, dialah pelaku yang menghabisi nyawa dari nona Susan, Tuan. Apa motifnya, tidak ada yang tahu. Yang jelas saat ini, anggota kepolisian New York sedang mencari wanita itu, tak terkecuali nona Angel yang juga sibuk mencarinya."
"Dan ada berbagai sumber yang mengatakan bahwa, Veronica Richie mengalami gangguan kejiwaan. Bahkan saat ini, orang-orang disana menyebutnya dengan Psychopath Girl."
Damian menatap kembali photo Angel yang berada di atas nakasnya. Photo yang tidak menunjukkan senyuman sama sekali.
"Mario..."
"Iya, Tuan?"
"Siapkan keberangkatanku segera kesana. Aku akan membantunya untuk mencari wanita itu. Jika perlu, aku yang akan memberinya hukuman, karena telah membuat Angelku bersedih," perintah Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari photo itu.
'Sudah kuduga,' batin Mario.
"Baik, Tuan. Saya akan segera menyiapkannya." Pria itu lalu membungkuk sejenak kemudian segera berlalu dari hadapan tuannya tersebut.
"Harusnya kau memberitahuku lebih awal, Sayang," gumam Damian sambil mengusap photo Angel tersebut.