
“Tolong jangan apa apakan Angga pak! Kumohon”. Seru Karin yang berusaha menerobos para pria itu bersama Laila.
“Pak jangan bunuh kakak saya hiks! Jangan bunuh kakak saya! Pak! Haaa! Hiks”. Seru Laila dengan isak tangis yang tanpa henti, namun....
“AWAS! ”.
“AKH! “.
”KARIN! KAILA! “.
”ANAK INI, HARUS DIBUNUH DAN MATI DITANGAN KAMI JUGA! IA TAK PANTAS UNTUK HIDUP! “.
Dengan apa yang Angga dengar, membuat dirinya semakin sesak, nafasnya tak teratur disertai kepala yang mulai sakit kembali.
Ia memegang kepalanya yang menutup sebagian mata kanan yang tatapannya gelap.
”KAMI! NGAK AKAN SUDI MEMBIARKAN ANAK INI HIDUP! WALAUPUN! KALIAN MEMBAYAR KAMI! BERAPA PUN! DIA HARUS TETAP DIBUNUH! HAAAA! “.
BUGH!....
”AAKH....!!! “.
”Jangan pernah! Menyakiti sahabatku kalian mengerti! “. Balas Devan dengan serangan yang mem bersenjatakan kursi dengan pukulan yang cukup keras hingga membuat tiga pria ambruk, satu dari mereka pingsan.
”Kau pergilah sebelum kau yang targetnya! “. Kata ayah Dika dingin.
”Heh! Apa?! Hahaha... Coba aja coba, kalian bapak-bapak sama aja ya kayak anak! Terus kalian mau apa hah! Bunuh gue ?!yaudah gue Terima asalkan… kalian tak menyentuh ANGGA! “. Jawab Devan santai dengan tawa yang salah tingkah.
PAM!.....
Satu serangan yang membuat Devan terjatuh yang tak lain ayahnya Dika. Angga tentu dapat melihat sahabatnya dengan tangan yang masih menutup sebagian mata kanannya.
Sedangkan ayah Dika, layaknya seperti orang gila yang stres. Tanpa melihat siapa yang Ia sakiti. Devan yang tercekik hanya bisa menggerakkan kakinya dan mencoba menjauhi tangan pria diatasnya. Namun, power orang dewasa lebih besar, jadi Devan hanya dapat menerima antara hidup atau matinya.
”Hik! Hen___tikan.... Akh! “. Seru Devan. Angga melihat sahabatnya yang disiksa lamat-lamat dengan mata kanannya. Tubuhnya pun semakin gemetar, berkeringat dan pucat disertai nafasnya yang sesak. Angga tak dapat bergerak menghentikan perbuatan mereka bahkan memanggil nama sahabatnya saja tak bisa.
”HENTIKAN DENGAN APA YANG KALIAN LAKUKAN! SEBELUM KALIAN MENERIMA AKIBAT YANG LEBIH BESAR! “. Teriak ayah Angga, namun, pria ini hanya mementingkan dirinya.
”He?! Bagaimana?! He?! Bagaimana menurutmu! Bukankah sahabatmu akan mati... Apa kau menginginkannya juga kan“. Kata ayah Dika kejam dengan cekikan pada Devan yang semakin kuat.
Devan mulai pucat, liur dan air matanya mulai keluar. Ia tak dapat bernafas, hentakan kakinya bahkan hampir melemah.
”De... Van... “. Seru Angga dalam hatinya. Kepalanya semakin sakit seperti masih tertancap pisau dikepalanya. Ditambah, bisikan yang mengusik jiwa Angga tanpa henti.
”Oooh~~~ apakah sahabatmu yang taruhannya?.... Hahaha... Ini kematian Angga, kematian. Penyiksaan ini.... Begitu kejam kan... Huwa hahaha! “.
”Heeeh!.... Kalian akan membayarnya! Kalian akan membayarnya! “. Teriak Angga dengan geraman tangan yang semakin mencengkram kepalanya sendiri.
Seketika, bayangan hitam disekitarnya kembali muncul yang menyelimuti tubuhnya. Nafas Angga semakin berat. Dan...
Bagian Sklera/bagian mata putih muncul menjadi hitam. Cahaya biru mulai muncul dan menyebar dari bagian iris sampai kornea mata yang menatap tajam kearah para pria ngak tahu diri itu.
Angga bangkit berdiri dengan bayangan hitam yang menyelimutinya, Ia terlihat mengerikan dan menyeramkan. Mana tubuh yang dipenuhi luka, mata kiri yang terperban ditambah dengan mata kanannya yang kini cukup menyeramkan.
Matanya menatap tajam kearah para pria yang membuat mereka harus menelan ludah dan menjaga diri mereka.
Ayah Dika terlihat setengah takut, beliau bukannya menjauh dan menghentikan cekikan pada Devan tapi malah....
”Hehe haha... Lihatlah dirimu! Seperti iblis pembunuh! He?! Lihat?! Lihat! Sahabat mu akan MATI! “.
”AAAAAAAAAAAKH! “.