The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Tumbuh 2 Hilang 1



Didalam kamar, Angga masih duduk dikasurnya dengan keadaan diam akan trauma dan kendali, yang tak dapat dihentikan.


Sang ibu datang dengan membawakan sarapan pagi kepadanya. Beliau pun duduk disampingnya, yang pose duduk nya menghadap kedepan, dengan selimut yang menutupi sebagian kakinya.


“Angga, sarapan dulu ya Nak”. Kata sang ibu lembut sambil menyendokkan nasi pada nya.


Tapi Angga, Ia tak membuka mulutnya sedikit pun, sang ibu hanya bisa mengkhawatirkannya.


“Angga, kamu belum makan beberapa hari loh nak, nanti kamu sakit”. Kata ibunya, tapi Ia tetap diam tanpa suara sedikit pun. Beliau mengetahui, apa yang anaknya pikirkan, dan berusaha membujukanya.


“Angga, dengar. Dilan, Ia baik-baik saja... Tak Ada yang perlu kau khawatirkan nak”. Kata ibunya berharap kalau putranya mengerti.


“Aku tak perlu tahu, Dilan… Dilan telah pergi kan. Aku orang yang tak tahu apa-apa…bahkan untuk sahabat Ku sendiri”. Jawab Angga dengan nada dingin bercampur dendam. Sang ibu, tak tahu harus berkata apa, karna beliau mengetahui, kalau Angga telah kembali akan trauma nya dalam rasa bersalah yang begitu dalam.


Devan akhirnya tiba dirumah sakit. Ia langsung masuk ke kamar rawat sahabatnya dimana, para teman-temannya yang lain sedang mengobrol bersama orang tuanya Dilan.


“Assalamuàlaimkuuuuuum”. Seru Devan sambil memasuki kamar tersebut. Keluarga sahabatnya begitu senang melihat Devan yang kembali happy.


“Yaampun Dev, tahu udah masuk ke rumah sakit malah teriak segalaan”. Omel Jesika.


“Iye bawel”. Jawab Devan.


“Apa kabar mu Devan”. Sapa ayah Dilan.


“Baik kok Om. Seperti biasa”. Jawab Devan elegan.


“Ya Om seperti biasa kayak... Ada over sintingnya gitu”. Jawab Bagas ledek, Devan yang berada disampingnya langsung menarik rambut nya.


“Haha... Kalian. Oh ya... Bagaimana dengan Angga”. Tanya ibu Dilan.


“Eee... Kalau sekarang belum tahu sih tante... Tapi moga Ia baik-baik aja”. Jawab Devan dengan perasaan yang khawatir berat.


“Iya”.


“Bagaimana dengan Dilan”. Tanya Devan sambil duduk disampingnya.


“Hahaha... Masih belum sadar Van. Tapi tadi dapat kabar dari doctor kalau keadaannya semakin membaik kok”. Jawab Mawar, kakaknya Dilan.


“Alhamdulillah”. Jawab Devan dengan penuh rasa syukur, dan kembali menatap Dilan yang terbaring dengan alat pernapasan yang berbentuk selang dihidungnya. Ia pun menggenggam tangannya sebagai pertanda bukti kerinduannya.


Para temannya melihat ekspreksi Devan yang menurut mereka telah sedikit membaik.


“Ho hooo... Siapa yang mengalami penyakit kerinduan niiiih”. Ganggu Bagas yang membuat teman dan keluarganya tertawa.


“Kalo gue emangnye kenape”. Jawab Devan dengan khas Jawa asal-asalan.


“Huuuu... Jawa dadakan”. Balas Bagas dan dua anak buahnya dengan kompak.


Mereka pun saling mengobrol bersama, menanyakan bagaimana keseharian bersama, moment-moment lucu bersama, Dan berbahagai hal lainnya. Tapi... Tetap saja, Devan masih merasa cemas akan keadaan sahabatnya, apalagi Angga.


Dan... Satu hal keadaan yang ditunggu-tunggu. Disela-sela candaan, tiba-tiba, jari telunjuk Dilan menunjukkan pergerakan. Mata mereka langsung berbinar-binar dengan hati yang menyala-nyala.


Mawar langsung memanggil dokter untuk memeriksa adiknya. Devan, teman Dan sekeluarga langsung berdiri mendekat ke Dilan.


“Alhamdulillah, atas keluarga dan teman pesien. Saya kabarkan, kondisi pesien sudah semakin membaik”. Kata dokter dengan senyumnya. Tentu saja, keluarga, sahabat Dan temannya begitu bahagia, mereka berseru senang atas syukur mereka.


Tak berapa lama kemudian, tangan Dilan mulai menggeram selimut disampingnya, matanya perlahan terbuka. Semua yang Ada diruangan begitu bahagia melihat Dilan yang kembali.


“Kalau begitu, saya pamit dulu”. Kata dokter.


“I ya dok. Sekali lagi terima kasih dok”. Ucap ibu Dilan yang dibalas dengan anggukan sang dokter.


“Alhamdulillah Dilan”. Seru mereka yang penuh haru. Sang ibu langsung memegang hangat tangan putranya.


Dilan perlahan membuka matanya. Matanya berbinar-binar saat melihat keluarga, sahabat Dan teman yang setia berada disampingnya.


“Masyaallah Dilan... Kamu udah sadar nak”. Seru sang ibu lembut. Devan terlihat segar meski badannya masih sedikit pucat, tapi masih tersenyum seperti biasanya.


“Bagaimana keadaanmu Dilan”. Tanya sang ayah yang penuh haru.


“Alhamdulillah... Baik... Terima... Kasih”. Jawab Dilan dengan senyumannya, meski nafasnya yang belum teratur, dan matanya yang masih layu. Meski begitu, mereka senang melihat Dilan yang kembali, apa lagi Devan.


“Sykurlah Dilan kamu udah sadar! Kami senang banget!!! Apa lagi sahabatmu,.. Hehe ya kan Dev! ”. Seru Jesika senang. Dilan kembali membalas senyum dan memalingkan pandangan ke sahabat tercintanya dengan senyumannya setia.


Devan melihat sahabat nya, begitu senang sehingga tak dapat mengeluarkan kata apa-apa. Matanya kembali berair atas keajaiban dari kesabaran mereka.


“Devan”. Panggil Dilan yang membuat jantung Devan berdetak kencang. Air matanya pun langsung turun deras melewati pipinya. Semua yang melihat hanya bisa menampilkan senyum haru mereka.


“Di... Dilan”. Seru Devan Dan langsung membungkukkan badan untuk memeluk sahabatnya, yang lain auto ikutan nangis dong.


Dilan yang dipeluk Devan, langsung membalas pelukannya. Ia dapat merasa kan pelukan akan kerinduan Dan ketakutan sehabatnya jika Ia akan pergi untuk selamanya.


Devan semakin erat memeluk Dilan akan kerinduannya selama ini, air matanya tak berhenti turun dan terus menangis, Dilan kembali menenangkannya.


“Hei... Kau nangis lagi”. Kata Dilan dan kembali memegang bahu Devan. Devan berusaha memberhentikan tangisnya dan menghapus air matanya.


Sang ibu membantu anaknya untuk duduk. Dilan memegang bahu Devan dan tersenyum kearah nya.


“Dev... ”. Kata Dilan. Devan hanya bisa menunduk menenangkan diri. Dan... Temannya yang lain kembali berpikir kalau Dilan akan mengatakan kata-kata yang indah Dan lembut, tapi...


“Kau... Cengeng juga ya”. Lanjut Dilan mengeledek. Devan memalingkan wajahnya ke Dilan dengan ekspreksi tak percaya, apa lagi temannya. Tentu saja... Orang seperti Dilan memang harus tertera yang namanya usil.


“Hehe... anak mamy jangan nangis dong hahaha”. Lanjut Dilan sambil memeluk Devan. Menurut kalian, ini menenangkan apa mengesalkan ya.


“Emph....! Dasar kau ya! Sakit-sakitan masih juga ngusilin orang”. Balas Devan yang kini ekspreksi nya kesal setengah mati. Dari keluarga, dan teman, mebuat mereka kembali bahagia karna kehidupan sedikit-demi sedikit mulai berubah, walau sisi keburukannya masih berada dibelakang.


Asal tahu saja, Devan juga senang sekaligus sangat bersyukur karna telah mendapat ledekan yang berharga dari sahabatnya ini, tapi... Ia masih mencemaskan Angga yang telah tak terkendali akan trauma yang Ia alami.


“Emmm... Oh ya. Angga Mana? Ngak datang?”. Tanya Dilan yang dari tadi melihat keadaan seminar yang tanpa dihadiri oleh Angga. Mendengar pertanyaannya, membuat Devan, teman bahkan keluarga nya hanya bisa saling tukar pandang kearah Devan.


Devan yang tadi nya 59% ekspreksi nya berubah kini menurun men jadi 10%. Ekspreksinya bercampur antara takut dan khawatir. Dilan yang melihat ekspreksi sahabatnya disamping sudah merasa bahwa keadaan Angga memburuk.


“Dev?... Angga baik-baik saja kan? ”. Tanya Dilan kembali, seketika mata sahabatnya kembali berair mengingat keadaan Angga.