The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 2



“Assalamuàlaikum, warah matullahi! Wr. Wb”. Sambut kepala sekolah dan semua murid menjawab dengan kompak.


“Nah anak-anak bapak sekalian… sekolah kita dikenal akan tingkat pencapaian prestasi yang luar biasa dikota ini. Kami selaku guru, patut bangga dengan kalian”. Kata beliau dan semua siswa bertepuk tangan.


“Tapi,… atas pencapaian prestasi yang kita raih! Yang menjadikan sekolah kita yang teratas, apa dayanya kalau akhlak kita seperti sampah busuk yang terbuang!”. Lanjut beliau yang membuat ekspreksi semua murid berubah.


“Bapak bicara apasih!”. Kata seorang murid kesal. Devan dan temannya paham apa yang dimaksud oleh kepala sekolah.


“Anak-anak bapak sekalian!… apa gunanya kita berprestasi! Tapi akhlak kita seperti sampah seperti ini… merokok! Mencuri, bahkan membuli teman kalian sendiri!….. salah satunya murid kelas 2-A yang bernama Angga Fattrul Izan!…”.


“Laaaaah… masalahin dia lagi!”. Gerutuh salah satu murid yang sekelas dengan Devan yang bernama Rio. Devan dan temannya menatap tajam kearahnya.


“Apa pikir kalian hebat hah! Semua pintar! Semua hebat! Tapi apa gunanya jika kalian seperti ini…. Kita ini semua sama… bahkan Angga…”. Lanjut beliau… semua murid diam-diam meledek. Pak kepala sekolah pun langsung memberikan bimbingan untuk berperilaku yang baik terhadap Angga, meski semua murid bosan mendengarnya.


“Dan… bapak harap untuk kalian semua, silahkan pergi kerumahnya untuk segera meminta maaf kepadanya…. Hanya sampai disini saja… assalamuàlaikum warahmatullahi wr wb”. Kata beliau dan semua murid pun menjawab dengan agak kesal. Karena menurut mereka, diantara beribu-ribu siswa disekolah mereka, hanya Angga yang selalu dibela. Jadi, saat bubar pun mereka merepet.


“Halah… gitu doang… gue lebih baik pindah sekolah dari pada minta maaf sama anak itu”.


“Bener lo… enak banget anak bangsat itu dibela tiap hari…. Benci banget gue!”.


Dan berbagai hal kasar dan menyakitkan lainnya yang mereka katakan, Devan yang mendengar hanya membuang nafas kesal dan menggeram tinjunya.


“Dev, sabar ya. Biarin aja mereka”. Kata Jian.


“Huh!… kalau emang aku ngak sabar dah habis duluan tu anak”. Ucap Devan kesal. Lalu, datanglah Sidiq dan Ray menghampiri mereka.


“Devan”. Panggil Ray.


“Oh… ya kak. Pagi”. Jawab Devan sopan memberi salam dan diikuti oleh beberapa temannya.


“Bagaimana kondisi mu”. Tanya Sidiq.


“Alhamdulillah baik… terus kakak bagaimana”. Jawab Devan sambil menyakan kondisi Ray yang kamarin Ia juga korban musibah ditoilet.


“Haha… baik”.


“Oh… syukurlah… mmm Angga? Bagaimana? Ia ngak sekolah”. Tanya Sidiq.


“Ngak kak…”.


“Hei! Bagas!… udah tobat”. Panggil Ray yang melihat preman pensiun diantara mereka.


“Haha… ya kak”.


“Hem… baguslah… jadi ada lah teman yang dukung Devan”. Ucap Ray.


“ oh ya Aku dengar dari pak Ridwan kalau Angga tadi malam…”. Tanya Sidiq.


“Ya…”.


“Udahlah Diq… mending ngak perlu dibahas. Oh ya… nanti kan ada rapat OSIS, Jadi kamu ngak usah ikut rapat OK… istirahat dulu”. Kata Ray yang tak ingin membahas kejadian yang terjadi tadi malam.


“Oh… ya. Terima kasih kak”.


“Hehehe… yaudah… kami pergi dulu ya. Kalian cepatlah masuk kelas, kan ulangan”. Kata Sidiq.


“Baik kak”.


Mereka pun pergi menuju kelas. Diantara mereka, tak ada yang memulai pembicaraan, termasuk Bagas. Mereka hanya bisa melihat wajah lesu khawatir Devan.


“Mmm… Dev”. Kata Sarah.


“Ha?”.


“Jangan sedih gitu dong… senyum lah”.


“Ya loh… kalau sering murung gitu nanti keriput loh”. Jawab Jesika yang membuat temannya tertawa kecil.


Sebenarnya, mereka ingin mengetahui apa yang terjadi tadi malam pada Angga. Tapi, karena keadaan Devan pun tak mendukung… mereka hanya bisa menunggunya saja.


“Hei Devan… kalian bertiga kan OSIS, 2 kakak OSIS tadi yang akrab dengan kalian”. Tanya Bagas.


“Ya… yang lain tak mendukung karena, benci dengan Angga…”. Jawab Devan sedikit menyimpan dendam.


“Ooo… biarlah… nanti juga kapok sendiri”. Ujar Dito.


Mereka pun tiba disekolah, pak Ridwan telah masuk dan sedang membagikan kertas ulangan.


“Eh… maaf pak. Tadi… dipanggil sama kaka OSIS bentar”. Kata Devan sambil memberi salam kegurunya.


“Oh, ngak apa-apa. Napa sekolah, udah membaik”. Tanya kembali pak Ridwan.


“Ya pak… alhamdulillah”.


“Syukurlah… yaudah… semua duduk dan segera mengerjakan ulangan masing-masing”. Ucap beliau dan muridnya pun patuh.


Devan yang duduk sendiri, diperhatikan oleh temannya. Mereka dapat merasakan perasaan Devan yang kesepian. Ya… Devan hanya bisa membayangkan masa lalunya saat Angga dan Dilan masih disisinya, Ia sering diprank dan diganggu oleh Dilan, dan tingkah Ia dan Dilan yang sering meminta jawaban dan tukang bertanya kepada Angga, baik saat ulangan, ujian, atau sedang mengerjakan soal biasa.


Tapi, itu hanya bayangan kenangan yang tersisa. Rasanya hampa kali ini. Pak Ridwan yang melihat keadaan Devan langsung menyamangati.


“Devan”. Panggil Pak Ridwan dan Devan pun menoleh.


“Semangat!… ”. Kata pak Ridwan, Devan membalasnya dengan senyum kecil. Semua murid semakin jengkel melihatnya seakam-akan ingin membunuh 3 sahabat itu.


Belum puas, Bagas dan tiga anak buahnya pun duduk disampingnya. Bagas duduk disamping Devan, Dito duduk dibelakang tempat Devan duduk dan Raki duduk disebelahnya.


“Apa sih”. Kata Devan sambil menoleh dan menyingkirkan kertas ulangannya.


“Tenang…~~~~ gue kagak nyontek. Mau nompang duduk doang.


”Serahlah“.


”Bagas… jangan nyontek!“. Tegas pak Ridwan.


”Sip pak! Selalu amanah“. Jawab Devan sambil mengacungkan jempol. Temannya yang lain hanya tertawa dan menggelengkan kepala.


Beberapa menit kemudian. Si Bagas kelihatan sulit menjawab soal, kini saatnya Ia beraksi.


”Mmm… Dev!“. Panggil Bagas.


”Emm“. Jawab Devan dengan mata fokus ke soal.


”Udah nomor berapa“.


”Nomor 26, napa“.


”Wiiih… pinter banget lo!… mmmm boleh minta satu, jawaban nomor 15 ngak… hehehe!!“. Kata Bagas. Devan yang terganggu langsung menatapnya kesal.


”Apa… mau nomor 15!???“. Kata Devan sambil senyum palsu. Bagas kini tahu efek buruk meminta jawaban kepadanya…. Dan…


TRAK!!!


”AUAAAAWWWWWW…..“. Teriak Bagas kesakitan yang kakinya diinjak. Yang membuat semua mata beralih kepada mereka.


”A A A A AW AAAAA….. sakit“. Seru Bagas dan Devan pun melepaskannya.


”Heh! Rasain“. Kata Devan senang.


”Heh!… galak amat!“.


”MAU LAGI!!“. Tegas Devan.


”Eh Eh Eh… ngak-ngak“. Jawab Bagas. Semua temannya hanya tertawa dan tertawa.