
“Istigfar Angga, istigfar”. Kata ayahnya.
“Apa harus istigfar kalau Dilan harus tiada hah!”. Balas Angga sambil tertawa bercampur tangis. Kedua orang tuanya bingung akan sepengetahuan Angga kalau Dilan tiada.
“Bukankah dendam yang ada harus dibalaskan secara adiil heh!…. Hehe hahaha”. Lanjut Angga sambil tertawa dengan air mata yang terus mengalir.
Ayahnya pun langsung mendekatinya dan memegang bahu putranya. Beliau membisikkan bacaan istigfar kepada Angga.
Seketika, Angga tercengang dengan tawanya yang terhenti. Melihat kondisi putranya, beliau kembali membacakan surah An-nas kepada Angga. Dan secara tiba-tiba, kepala Angga terasa sakit diseratai tubuhnya yang kembali pucat.
Angga berseru kesakitan sambil menggeram kepalanya. Semua yang melihat ikut merinding ketakutan, Kaila menutup mukanya, Ia tak kuat melihat Angga.
Mata biru Angga pun perlahan menghilang namun, bayangan hitam disekitar Angga masih membara. Ayahnya pun langsung menutup mata Angga hingga membacakan ayat terakhir dan…
ZAP!…
Bayangan hitam menghilang. Tubuh Angga pun melemah dan terbatuk-batuk mengeluarkan muntahnya. Sang ayah pun membawa Angga yang kehilangan kesadarannya menuju kasurnya untuk beristirahat.
Karin tanpa aba-aba telah membawakan air putih untuk adiknya. Ia pun memberikannya kepada ibu.
Sang ayah pun membacakan istigfar kepada Angga. Ibunya mengelap mulut Angga yang terkena muntahannya tadi dan meminumkannya segelas air sambil membacakan bismillah.
Saat baru minum, Angga tiba-tiba muntah kembali. Tubuhnya lemah total seakan-akan terasa berat dan terjepit. Kepalanya terasa sangat sakit karna pengeluaran aura yang tak biasa.
“Astagfirullah nak….”. Kata ibunya sambil mengelus putranya. Rangga dan adiknya mendekat melihat kondisi Angga. Ia pun memberikan sebuah handuk kecil kepada ibunya.
Ia melihat kondisi Angga yang menahan sakitnya dengan nafas yang terengah-engah. Rangga kembali terfikirkan akan ucapan Angga saat tadi tentang, kepuasan adiknya untuk balas dendam.
“Apa yang Angga balaskan…. Apa sampai Ia seperti ini”. Kata Rangga dalam hati.
“Nak”. Panggil ayahnya yang menyadarkannya dari lamunan.
“Ha!… i iya Ayah”. Jawab Rangga.
“Bisakah kalian keluar sebentar”. Kata Ayahnya. Rangga dan ketiga adiknya pun mengannguk. Mereka hanya berdiri diluar kamar, sedangkan kedua orang tuanya sedang menenangkan Angga.
“Huaaaahhm…”. Nguap Arga menutup mulutnya menahan kantuk.
“Kak”. Ia lanjut memanggil Rangga yang bengong.
“Oi kak”.
“Ha!”.
“Ngak ada lah… cuma terpikirkan yang tadi”. Jawab Rangga sambik bersandar didinding dan melipat tangannya.
“Udahlah… jangan bahas lagi”. Kata Karin.
“…. Kepikiran ngak tentang ucapannya Angga”. Lanjut Rangga.
“Tentang…. Dilan”. Jawab Karin.
“Bukan… tentang pembalasan dendamnya”.
“Maksud kakak?”. Tanya Arga. Saat ingin menjelaskan, Rangga memperhatikan adik kecilnya, Kaila sedang ketakutan.
“Mmm… kaila”. Panggil Rangga lembut.
“Ya kak”.
“Bagaimana kamu tidur dulu”. Kata Rangga, adiknya yang mengerti Ia pun langsung masuk kekamarnya.
“Jadi, apa maksud kakak”. Tanya Arga kembali.
“Ah! Gini. Tidakkah tadi Angga bilang tentang pembalasan dendam?…. Nah!…. Bagaimana Ia membalasnya”. Jelas Rangga.
“Oh, tapi… iya iya… tapi…. Angga kan punya aura mata batin!… jangan-jangan… ngak-ngak…. Ngak mungkin”. Kata Karin.
Tak berapa lama kemudian, kedua orang tua mereka pun keluar dari kamar meninggalkan Angga yang beristirahat.
“Ada yang ingin ibu tanyakan”. Kata sang ibu kepada 3 anaknya.
“Darimana Angga tahu kalau Dilan telah tiada”. Tanya ibu.
“Sebenarnya…. Kami juga ngak yakin bu. Tapi… saat tadi Angga berteriak menyebutkan kalau Dilan tiada…. Tapi sepertinya…. Melalui penglihatannya”. Jawab Arga.
“Iya… dan sepertinya, Angga tak mengetahui kalau kondisi Dilan telah berubah menjadi baik… sepertinya karna itu”. Lanjut Karin.
“Yaudah… kalian tidur dulu, besok harus sekolah”. Kata ayahnya. Rangga dan adiknya pun menurut.
“Aduh yah, bagaimana dengan Angga nanti… mana makin hari makin, berat keadaannya”. Kata ibu mereka cemas.
“Bu, jangan khawatir ya, Angga, pasti baik-baik aja. Kita bantu doa yang baik untuknya ya”. Jawab sang suaminya menenangkan. Istrinya mencoba tidak terlalu cemas dan khawatir.