
Paginya menunjukkan pukul 7.15, seperti biasa Devan pergi barengan bersama Kaila. Satu hal yang membuat mereka bersyukur, yaitu tentang kepulihan Dilan.
“Alhamdulillah ya kak, Kak Dilan udah sembuh”. Kata Kaila semberi melanjutkan langkah.
“Ya…”. Jawab Devan dengan senyumannya.
“Tapi kak”. Kata Kaila yang ekspreksinya berubah.
“Em?… ada apa?”. Tanya Devan khawatir.
“Kak Angga…. Mulai lagi tadi malam”. Jawab Kaila.
“Mulai? Lagi?”.
“Ya… kakak tahu, sepertinya kakak mengalami penglihatan saat kejadian meninggalnya kak Dilan… jadi… Kak Angga nganggap kalau kak Dilan udah tiada”.
“A apa?!!”.
“Iya, hingga tadi tengah malam, kak Angga sampe ketawa sendiri dan Ia bilang…. Ia puas akan pembalasan dendamnya”. Lanjut Kaila, Devan tak tahu jawaban apa yang harus Ia keluarkan.
“Kaila cemas kak… nanti kalo kak Angga kenapa-napa kek mana”.
“Kaila, jangan khawatir, pasti ada cara dan jalan yang baik dibalik semua ini, kamu lihat keajaiban dari doa, dan kesabaran, selalu ada kabar baik yang datang kan. Contohnya, kak Bagas yang udah temenan sama kita, dan…. Kak Dilan yang udah baikan kan sekarang. Dan, begitu juga dengan kak Angga, kita bantu doa dan dukungan bersama, pasti… Ia baik-baik, oke”. Nasehat Devan sambil tersenyum, dan mengusap kepala adik sahabatnya dengan lembut.
“Iya kak, Kaila akan selalu ingat nasehat kakak”. Jawab Kaila semberi tersenyum lembut.
“Gitu dong, yaudah… kita kesekolah dulu. Nanti keburu telat lagi”.
“Oke kak ayo”.
“Eps! Bentar… mau naik ngak”. Ajak Devan sambil jongkok memberi tumpangan, yang berupa gendongan. Supaya Kaila tidak merasa tegang walau keadaan yang tertekan.
“Eh kak, Kaila udah besar loh kak, untuk apa digendong begituan”. Balas Kaila.
“Yaelah,… masih kelas 3 SD udah bilangin gede”. Ledek Devan.
“Ih… ibu bilang mana makin taon, umur seseorang bertambah loh kak”. Jawab Kaila dengan bibir yang mengecut.
“Iya iya, pinter ceramah juga kau, jadi ni mau apa ngak”.
“Ngak”.
“Yaudah kalau ngak mau”. Jawab Devan sambil bangkit berdiri. Belum berdiri dengan sempurna, Kaila tertawa dan…
SPLASH….
“Innalillahi! Ya Allah! LA!”. Seru Devan syok yang badannya hampir mencium aspal.
“Haha… sorry… kan kakak yang nawar”. Jawab Kaila yang telah naik kepunggung Devan.
“Tadi bilangnya kagak!… minimal jangan kayak disambar petir lah La! Auto pinggang kakak ni jadi korban!”. Kata Devan sebal, menurutnya… beginilah kalau punya adik.
“Hahaha… ya ya ya maaf maaf, oke kak GOOOO!!!”. Seru Kaila semangat, melihatnya yang gembira, Devan pun mengendong Kaila dan…
ZUING!!!…
Devan berlari dengan Kaila yang dibelakang punggungnya. Kaila tertawa lepas, dan melupakan kekhawatirannya. Hingga, sampailah mereka diarea lingkungan sekolah masing-masing.
Devan dan Kaila yang baru berdiri didepan gerbang, hanya bingung-bingung sendiri. Kaena, Terlihat suasana begitu senyap dan sepi, tak ada murid yang berlalu lalang diantara sekolah mereka berdua.
“Permisi pak”. Panggi Devan yang melihat seorang satpam yang baru melintas.
“Ada apa dek”. Balas pak satpam sambil mendekati mereka.
“Maaf pak mau nanyak, hari ini,… ada sekolah ngak. Kok sepi bener”. Tanya Devan.
“Oh, ada dek, tapi… keliatannya hanya beberapa orang saja. Karna banyak murid yang lain terkena penyakit aneh”. Jelas pak satpam dengan nada ketakutan.
“Huh?!… penyakit? Aneh?…”. Seru Devan dan Kaila syok.
“Iya tadi malem… wah ngeri banget dek, seperti keponakan saya terjadi tadi malem. Tiba-tiba dia teriak ketakutan tak jelas terus kejang kejang sendiri”. Lanjut satpam yang membuat Devan dan Kaila ngeri sendiri.
“Mmm… emang kalau murid yang datang hari ini… masuk teros kan”. Tanya Devan yang beralih ketopik yang lain.
“Oh… yang pastinya masoklah…”. Jawab Satpam.
“Oh ya Kaila… kamu masuk aja ya, ya mungkin memang ada pelajaran”. Perintah Devan.
“Oke doki Kak… Kaila masuk dulu! Assalmuàlaikum!”. Seru Kaila sambil masuk kelingkungan sekolahnya.
“Oke pak, saya juga mau masok ke habitat saya dulu ya pak. Ntar kena kutuk lagi ni aku”. Celoteh Devan.
“Oke dek!”.
Devan pun berbalik dan pergi ke sekolahnya dengan perasaan heran yang muncul tiba-tiba. “Penyakit aneh?… kok sampe satu lingkungan sekolah kena”. Tanya Devan dalam hati sambil melihat keadaan sekelilingnya yang sepi. Tanpa ada kesibukan murid atau manusia lainnya.
“Ni kota Megah apa kota mati sih… sepi bener”. Tanya Devan sambil menggaruk-kepalanya yang tak gatal.