
Dan dengan berat hati, istrinya pun mengizinkan Angga untuk sekolah.
Lalu, jam menunjukkan pukul 07.25, inilah saatnya untuk mereka berangkat. Rangga dan Karin pergi bersama, Arga berangkat bersama ayah, Angga dan Kaila berangkat berdua.
Disetiap perjalanan, Kaila selalu memperhatikan Angga. “Kak!, kakak baik-baik saja? …apa ada yang masih sakit?”.
“Ngak ngak dan ngak, semua baik. Terima kasih telah mengkhawatirkan”. Jawab Angga sambil mencubit pipi adiknya. Meski adiknya bingung berbumbu khawatir, Ia tetap senang melihat kakaknya kembali.
“Kak! Itukan Zaki dan Kak Mulan?!, samperin yuk”. Ajak Kaila, Angga pun mengangguk menurut.
“Kak Mulaaaaan!”. Panggil Kaila, Mulan dan Zaki menoleh. Mulan kaget melihat Angga bersekolah hari ini, padahal kemarin Ia musibah.
“Pagi!”. Sapa Angga sambil melanjutkan langkah, Zaki menjawab dengan agak heran, sedangkan Mulan membisu.
“Kak kak …”. Bisik Zaki, kakaknya pun menoleh.
“Kakak bilang kak Angga kemarin pinsan?! Tapi kok kayak sehat bener?!”. Lanjut Zaki.
“Ya mana kakak tahu”. Balas Mulan.
Angga dan adiknya memperhatikan dengan bingung. Mulan dengan berani bertanya,
“Ga, bukannya seharusnya kamu ngak sekolah hari ini?”.
“Emang kenapa, ngak boleh?!”. Jawab Angga.
“Kemarin kau kan pinsan”. Balas Mulan yang membuat Angga syok dan mukanya memerah. Kaila dan Zaki hanya saling tatap.
“Darimana kau tahu”.
“Ya aku pergi ke lorong menuju rumahmu, dan kamu pinsan disitu”.
“Ngak maksud ku. Kok kamu bisa tahu kalau aku pinsan? Kan kamu dah mau pulang”. Lanjut Angga.
“Itu …ah ngak ada. Lupakan aja, mungkin memang kebetulan kan”. Jawab Mulan, Ia kembali teringat dengan sesosok Dilan yang menghampirinya dan memberitahukan tentang Angga. Angga tidak ingin memaksa akan jawabannya, jadi …yasudah.
“Yaudah lah tapi, …terima kasih untuk semuanya”. Balas Angga.
“Ah ngak kok. Hanya pertolongan sekecil jagung”. Jawab Mulan.
“Apa pun itu, tetap terima kasih”. Balas Angga, adik mereka saling tertawa kecil melihat keakrapan bicara kakak-kakaknya. Sedang orang disekitar, memperhatikan dengan sinis sifat Angga dengan temannya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai disekolah. Mereka pun masuk ke lingkungan sekolah masing-masing.
Saat tiba di coridor, Angga melihat seorang siswa berdiri di depan kantor guru sangat mirip dengan Devan.
“Devan?”.
“Itu kan Devan kan?”. Balas Angga sambil menunjuk arah yang Ia maksud. Mulan mencoba memperhatikan dengan teliti, dan ternyata …itu memang Devan.
Mulan mulai panik, Angga mencoba menghampirinya. Tapi, demi rencana yang berbuah manis, Mulan memegang lengan baju Angga guna menghentikannya. Angga kaget plus bingung, semua murid termanga dan menonton aksi keduanya.
“Apaan sih”. Kata Angga bingung dengan kelakuan Mulan yang menurutnya sudah berubah.
“Sebaiknya kita masuk kelas dulu”. Jawab Mulan.
“Emang ngak bisa pergi sendiri heh?!“. Protes Angga.
”Ayo cepat! Yang lain bakal nunggu tuh!“. Cegah Mulan.
”Nunggu apanya sih …napa tiba-tiba gini?!“. Angga semakin bingung dengan kelakuan Mulan seperti bayi yang meminta permen, janganlan Angga, murid yang lain semakin asik menonton apalagi yang cewe ikut cemburu tentang keakrapan mereka.
Devan menoleh karena mendengar adanya keributan. Devan kaget, ternyata itu Angga dan Mulan. Mulan terlihat berusaha menutupi kehadiran Mulan.
Karena Angga sibuk mengurus Mulan, jadi Ia tidak melihat kalau Devan berbalik arah. Mulan yang dapat melihat Devan, langsung memberkan kode untuk menjauh sebentar. Devan yang mengerti, langsung lari terbirit-birit bersembunyi.
”Yaudah-yaudah …bisa lepas bentar?!“. Lanjut Angga. Karena kondisi udah aman, Mulan pun melepaskannya.
”Satu pertanyaan sederhana … Ada apa?!“. Kata Angga.
”Yaaaa Ngak ada. Kan ulangan. Seharusnya kan aku yang bertanya, ada apa“.
”Huh …tadi aku liat De …van?“. Jawab Angga sambil menunjuk Devan, tapi Ia bingung kalau orang yang Ia maksud menghilang.
”Devan apa?! Ngak ada …udahlah cepat masuk“. Kata Mulan sambil berjalan menuju kelas. Angga yang merasa aneh, ya pasrah aja lah. Semua murid termanga melihat peristiwa tadi plus kecemburuan tingkat tinggi.
Mereka berjalan menaiki tangga menuju kelas. Kesibukan murid berbeda, semua murid yang ada disana fokus terhadap Angga. Ya pastinya berita tentang Angga yang membuat kakak senior karate terluka.
Angga tetap berjalan tanpa mempedulikan apa yang mereka katakan. Mulan mengerti apa yang Angga pikirkan dan perasaan yang disembunyikan.
”Wah wah wah …anak indigo ada pacar bro!“. Seru seorang murid kelas sebelah didepan Angga dan Mulan.
”Kok pilih pacar berhijab?! Ngak tren untuk pembunuh kayak lo! Hahahaha!“. Lanjutnya yang membuat Angga menggeram.
”Bisa minggir ngak! Kau menghalangi!“. Kata Mulan tidak tahan. Anak tersebut dan 4 temannya hanya tertawa, Ia lalu mendekati Mulan.
”Waaah! …galak amat. Kuat juga untuk lindungin cowo indigo batin brengsek ini heheheh …hei, ajarin dia agar ngak bunuh orang ….“.
BRUK!
”Minggir!“. Balas Mulan sambil mendorong anak kelas sebelah dan menarik lengan baju Angga untuk masuk kelas.
”Wiiih wooo Cowo gilaaa!“. Balas mereka berteriak, Mulan dan Angga yang berada dalam kelas, langsung menutup pintu.