The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 2



“Hih!… kok ngak nungguin kami sih”. Repet Zaki yang tak terima kalau kakaknya tak menjemputnya.


“Ups!.. ma… maaf. Kelupaan kalian tadi”. Kata Mulan.


“Seenak bicara aja ya”. Jawab Mulan sambil mengangkat tangan yang berpegang sepatunya dengan tatapan kesal.


“Ehehehe… sory sory..”. Ucap Bagas.


“Yaudah yok. Nanti kelamaan lagi”. Ajak Sarah. Semua temannya pun setuju dan langsung menuju kerumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, mereka pun langsung pergi kekamar Dilan. Mereka melihat pintu kamarnya tertutup yang membuat mereka agak ragu kalau masuk.


“Kok, pintunya ditutup ya?”. Tanya Sarah.


“Yaudah, siapa yang masuk duluan”. Perintah Bagas.


“Yaudah, kau aja”. Balas Jesika.


“Eh ngak bisa gitu dong, seharusnya yang cewe dulu lah!”. Protes tim Bagas.


“Seenaknya nyuruh orang, pokoknya kalian duluan”. Balas tim Jesika.


Mulan, Zaki dan Kaila hanya tepuk jidat melihat kelakuan mereka. Karna tak tahan melihat mereka bertengkar, Mulan pun berkata…


“Udah-udah stop”. Perintah Mulan dengan pelan. Temannya pun berhenti bertengkar.


“Udah pertengkarannya. Ini tu rumah sakit! Bukan rumah tangga ngerti”. Sambung Mulan yang membuat temannya garuk-garuk kepala.


“Jadi ni ngak ada yang mau masuk duluan gitu”. Lanjut Mulan, temannya hanya menggeleng.


“Kalau seperti itu, bagaimana kalau Kaila aja yang duluan”. Perintah Mulan.


“Oke kak”. Jawab Kaila setuju. Ia pun masuk duluan, memberi dalam dan disusul oleh Mulan dan temannya.


Saat masuk kedalam, terlihat 2 kaka OSIS yang tadi, yaitu, Ray dan Sidiq. Dan terlihat juga ibunya Dilan sedang menangis, namun beliau menghapus air matanya saat melihat Kaila dan beberapa teman putranya datang.


“Eh, waàlaikum salam, silahkan masuk anak-anak”. Sambut ibu Mulan sambil menghapus air matanya.


Mereka pun masuk dan mencium tangan orang tua Dilan. Terlihat juga dua kakaknya Dilan yang bernama Mawar dan Usman.


Mereka memyambut Mulan dan yang lain dengan ramah.


“Om mana”. Tanya kembali Kaila.


“Tadi balik kerja, lagi ada meeting soalnya”. Jelas ibu Dilan.


“OOo.. yang penting tante jangan sedih lagi ya”. Kata Kaila menenangkan. Keluarga Dilan ikut tersenyum mendengarnya.


Mulan dan temannya melihat Dilan yang belum mengalami perkembangan apa-apa. Mereka hanya bisa berharap kalau Ia akan baik-baik saja.


“Mmm… kakak udah berapa lama disini”. Tanya Bagas kepada Ray dan Sidiq.


“Dari tadi”. Jawab Sidiq, mereka pun mengangguk mengerti.


“Huh… apa memang ngak ada perkembangan apa-apa”. Tanya Jesika pelan.


“Masih belum… paling lambat nanti malam”. Jawab Ray, raut wajah mereka berubah total.


“Kita, hanya bisa berharap saja”. Kata Sidiq.


“Terima kasih ya, kalian memang teman yang setia untuk Dilan”. Kata ibu Dilan. Mereka pun tersenyum.


Setelah mengobrol, mereka pun memutuskan untuk pulang dan kembali menjenguk Angga. Mereka pun langsung pamit ke pada keluarga Dilan.


“Kita pulang kerumah dulu ya”. Kata Sarah.


“Lah, tadi bilang mau kerumah Angga”. Jawab Jesika.


“Soalnya hampir lewat Zuhur nih”.


“Sarah benar, nanti ganti baju dulu terus langsung berangkat”. Kata Mulan.


“Oh ya, baiklah. Nanti pasti Devan juga udah pulang”. Jawab Jesika.


“Oke, terserah kalian….. ya astagfirullah!… Ray! Gue lupa shalat!”. Kata Sidiq.


“Ya ampun Diq Diq!… yaudah gue temanin..kalian yang udah tobat sekalian aja sama Sidiq”. Kata Ray.


“Yaudah”.


Mereka pun memutuskan berangkat nanti saja.