The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 4



Sedangkan kondisi dirumahnya Robin juga sama. Kakaknya yang bernama Rihun hanya sendirian dirumah, hal ini dikarenakan ibunya yang berada dirumah sakit menjaga Robin dan ayahnya masih sibuk dengan pekerjaan.


(Ya… seharusnya patut ngak dipeduliin aja ya sekalian).


Rihun yang dikamarnya, masih dengan komputernya. Seperti biasa, si gila game.


Saat sedang asik bermain game multi playernya, tiba-tiba, terdengar suara yang memanggilnya. Ia seketika syok, karena, suara yang Ia dengar itu begitu dekat dengannya. Ia pun mematikan komputernya untuk membuktikan kalau yang Ia dengar itu, benar.


“….. si… siapa itu!… jangan main-main sama gue ya!”. Kata Rihun ketakutan.


“Kalau kaka mau main… tak apa juga”. Terdengar suara kembali yang menjawab perkataan Rihun.


Rihun kembali syok, Ia pun menoleh pada asal sumber suara yang tepat dicermin lemari didepannya. Tubuh Rihun mulai gemetar ketakutan disertai pucat berkeringat.


Rihun kembali syok dengan tubuhnya yang terpaku saat melihat bayangannya dicermin, ternyata itu bukan bayangannya, melainkan bayangan Angga yang menundukkan kepala dengan senyum seram yang bersenjatakan pedang.


Bayangan Angga pun keluar dari cermin dan strap melompat dan menghilang dihadapan Rihun. Rihun semakin ketakutan, tanpa Ia sadari, Angga berada dibelakangnya dan…


SRENG…


Angga menusuk Rihun dari belakang. Rihun hanya bisa mengeluarkan muntahnya dan terjatuh kejang-kejang.


Hal ini juga terjadi pada cewe dan anak-anak. Pokoknya, setiap orang yang menghinanya, akan mendapatkan balas dendam yang serupa dengan hinaan mereka.


Oke Skip!… mari beralih ke diantara 7 pria preman.


Disuatu malam ini, tiga pria dari 7 preman sedang pulang berboncengan. Mereka sedikit merasa aneh yang membuat mereka sedikit merinding, apalagi keadaan kota yang gelap, sepi dan sunyi.


“Jhon! Kek ada yang aneh ngak menurut lo!”. Kata salah satu teman mereka.


“Apa sih”.


“Menurut gua juga…. Iya sih… kayak ada yang deket-deket gitu”.


“Kita preman! Ya! Preman!… lagian takut gitu heh!”.


“Gua tahu bro! Tapi, tentang bayangan hitam anak batin itu… ngeri”.


“Oi! Kita dah kaya! Ingat ngak!… kan semua perintah udah dituruti”.


“Ya iya lah Jhon! Tapi ingat kan kata makhluk itu, kalau anak batin itu diluar kendali kita juga jadi bumerang Jhon!”.


“Bener juga lo…”.


Dan tiba-tiba,….


SRENG!!!!….


Satu serangan yang secepat kilat menghantam motor mereka. Tiga preman itu syok dan hampir terjatuh dicampur heran.


Dan…. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat sesosok Angga berdiri sejauh 3 meter dari mereka dengan memegang sebuah parang sambil tersenyum seram.


“Di di di dia…. Dia…. Anak itu kan”.


“J jhon! Jangan sampe kita jadi mangsa jhon”.


Mendengar mereka, Angga pun tertawa dengan wajah yang menunduk dengan rambut menutupi sebagian wajahnya.


“Hehehe… bukankah kalian akan membayarnya?”. Tanya Angga seram.


“L… lu mau apa hah! Lu pikir gua takut heh!”. Kata Jhon.


“Hehehe…. Hahahaha… HAHAHAHA”. Balas Angga dengan tawa seram. Jhon yang kesal bercampur takut mengambil pistol dan menembak Angga.


Angga terkena 5 tembakan hingga dada, kepalanya berdarah namun, tetap berdiri tegak dengan senyum gila.


“Mus… mustahil”. Kata mereka termangan.


“Heh! Haa! Mati kau! PEMBUNUH!!”.


POW!!!!…..


Jhon langsung menembak Angga kembali. Sesosok Angga yang tertunduk menaikkan senyum seram, meluruskan tangan dan memantulkan peluru itu kearah Jhon hingga mengenai kepalanya.