
“Ak…. AKH!…. HA! UHUK UHUK…!”. Tiba-tiba Angga terbangun dengan terbatuk-batuk, tubuhnya pucat berkeringat, jantung berdetak kencang, dan nafas yang terengah-engah disertai dengan kepalanya yang sakit.
Hal yang terjadi tadi hanya lah mimpi, mimpi yang buruk. Angga memegang kepalanya yang sangat sakit dan berusaha mengatur nafasnya. Dan tiba-tiba… matanya berubah menjadi biru yang teralih pada perkataan seseorang yang pada saat Ia pinsan.
“Dah tahu anak kayak Iblis bukannya di didik yang bener!”.
“Dia yang salah duluan!”.
“Mengapa, mengapa begitu keji kepada kakak”. kejam! Kakak tak bersalah! Mereka yang bersalah! Mereka JAHAT!”.
“Bu, mengapa nasib kak Angga seberat ini”.
“Ya Allah nak, mengapa kamu seperti ini… Apa yang bisa membuat mu tersenyum Angga... Katakan sama Ibu.... Ibu hanya ingin melihat mu bahagia dan ceria seperti anak yang lain... Apa itu tak akan bisa... ”.
Dan… lainnya. Dan seketika matanya kembali seperti semula dengan membuang nafas yang berat. Angga memegang kepalanya dan rambutnya dengan kuat karena semakin sakit dibagian kepalanya.
“Mereka benar… aku pembawa masalah… aku hanya seorang penghianat”. Kata Angga dalam hati. Dan tiba-tiba, datanglah kembali sesosok itu dari belakangnya dan terus mengusiknya.
“Kau memang seorang penghianat! Pembunuh yang tega mensensarakan orang lain”. Kata makhluk itu.
“Apakau bisa meninggal kan ku sendiri”. Kata Angga marah. Namun, makhluk itu tetap tidak mempedulikannya dan terus mengusik Angga.
“Mengapa! … kau merasa kalau kau itu bersalah”. Balas makhluk itu yang membuat Angga terpeku.
“Kau bukan siapa-siapa lagi bagi mereka… mengapa tidak sekalian diakhiri saja”. Lanjutnya yang membuat dada dan nafasnya semakin sesak ditambah kepalanya yang semakin sakit.
Devan yang telah datang dari tadi langsung menyalami orang tuanya Angga.
“Bagaimana kabarmu Devan”. Kata ayah Angga sambil mengelusnya.
“Baik Om”. Balas Devan sambil tersenyum. Orang tua Angga begitu bersyukur atas sikap sahabat putranya yang begitu tulus.
“Bagaimana kabar mu Zam”. Sambut ayah Devan ke ayah Angga.
“Alhamdulillah baik… oh ya, silahkan duduk dulu”. Jawab ayah Angga. Mereka pun duduk dan Ibunya Angga menghidangkan kopi dan teh untuk mereka.
“Mmm… bagaimana dengan Angga”. Tanya ayah Devan
“Masih didalam. Eee… sekali lagi terima kasih karena telah banyak mempercayai dan membantu anak saya sepenuhnya… kami selaku orang tua sangat bersyukur”. Kata ayah Angga.
“Ngak apa… saya juga berterima kasih karena anda juga telah menolong bisnis keluarga saya. Kalau tidak… ya kami terpaksa harus pindah kesana. Dan… tentang Angga… Ia juga merupakan anak yang patuh dan baik terhadap anak saya… kami telah mengenalnya dengan baik”. Kata Ayah Devan tersenyum.
“Ya pak… bu… jangan khawatir. Oh ya. Yang lain mana ya… ini mau kasih beberapa oleh-oleh”. Kata ibu Devan.
“Oh didalam… eh… itu mereka”. Jawab ibu Angga yang ternyata 4 anaknya yang lain telah keluar karena mendengar orang tua Devan mampir.
“Eh Om… Tante kak Devaaaaaaaannnn!!!”. Sapa Kaila girang sambil berlari dan memeluk Devan.
“Malam…!!”. Lanjut Rangga dan yang lain sambil menyalami mereka.
“Wah… udah gede-gede, cakep-cakep pula…”. Balas Ibu Devan sambil tersenyum dan tertawa kecil.
“Hai kak Devan!”. Lanjut Kaila.
“Hai juga lalat”. Balas Devan sambil mencubit pipinya…. Kaila tertawa senang.
“Oh ya. Ini oleh-oleh untuk kalian, mau kasih tadi tapi ngak sempat”.
“Sama-sama”. Jawab mereka kompak dan tersenyum.
“Eh… boleh ngak Devan mau jenguk Angga”. Pinta Devan.
“Boleh”. Jawab ayah Angga.
“Kak Yuk Kaila antar”. Ajak Kaila, Devan pun mengangguk. Mereka pun menuju tangga.
Sedangkan didalam kamar Angga, Angga sedang mengendalikan emosinya yang terusik oleh makhluk itu.
“Hidupmu! Nasip mu! Seperti bangkai busuk yang terbuang!”. Kata makhluk itu yang membuat Angga tak dapat mengendalikan emosinya. Ia hanya mencengkram kepalanya sendiri dengan dua tangannya.
“Lihat sikap mu yang mulai busuk! Yang patut untuk mempermalukan dan mensensarakan keluargamu sendiri! Kau adalah manusia yang TERBURUK DARI YANG TERBURUK DARI YANG TERBURUK ANGGA!!!…. YANG TERBURUK!!!…. HAHAHAHAHHAH!!!”.
“HENTIKAAAN!!!….”.
TRAMMM!!!!… BRUK!! …. TRASH!!!…
Teriak Angga yang melepas cengkraman tangan dan menghentakannya hingga barang yang ada diatas meja yang berada didekatnya, jatuh dan pecah, bahkan lampu dimeja terjatuh dan pecah. Angga tak dapat menjaga kondisinya sehingga Ia jatuh dari kasur dan terkena kaca lampu di lengan bagian kanannya hingga mengeluarkan darah.
Yang ada diruang tamu kaget mendengar sesuatu yang jatuh dari kamar, termasuk Devan dan Kaila yang ingin menuju kesana. Karena khawatir, mereka pun bergegas berlari menuju kekamar Angga.
“Subhanallah! Suara apa tadi”. Seru Ibu Devan.
“Terdengar dikamar….”. Lanjut ayah Angga sambil bergegas dan disusul oleh yang lain.
“Darimana asal suaranya?! Dikamar mana?!”. Kata ayah Devan panik. Lalu, ayah Angga mencurigai sesuatu dikamar Angga, beliau pun hendak ingin membuka pintu, tapi…
CEKREK!!… CEKREKK!…
“Lah?!!… napa terkunci?!!!”. Kata ayah Angga syok, istrinya mulai cemas. Yang lain saling tukar pandang. Devan mulai ketakutan bercampur kegelisahan. Ibu Angga pun langsung mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil putranya.
Angga yang tadinya jatuh bangkit berdiri menahan rasa sakit sambil memegang kepalanya. Tak berhenti disitu, makhluk bayangan itu terus mengusiknya.
“apa kau memang tak tahu diri!! Namun!… Mengapa kau tak MEMBALASKAN DENDAMMU DAN MENGAKHIRI HIDUP MU!!!”.
“HENTIKAAAN….! BERHENTI… !!!”.
GEDUBRAK!!!…
Balas Angga keras yang semakin tak tahan. Saat tangannya menghentak, secara tak sengaja, Angga menggores kelopak matanya yang sebelah kiri, hingga darah segar menetes keluar. Meja yang dihadapannya pun Ia jatuhkan yang membuat orang yang diluar kamarnya syok dan panik. Kaila semakin ketakutan dan menangis.
“Angga?!!… Angga! Buka pintu ini Angga!!”. Teriak sang Ayah.
“Nak buka pintunya!… Angga ini Ibu Angga Buka!!!”. Teriak ibunya sambil memukul-mukul pintu.
Angga yang didalam kamar hanya diam dengan nafas yang sesak, jantung berdebar, badan pucat berkeringat dan darah yang terus mengalir membasahi sebagian wajah dan menetes ke kaos putihnya.
Angga tak mempedulikan orang yang diluar, Ia lalu melihat sebuah pisau miliknya yang Ia jatuhkan dari meja tadi. Dan seketika, bayangan hotam disekitarnya mulai muncul. Angga pun mengambil pisau tersebut.
Saat baru menyentuh pisau tersebut, tiba-tiba matanya berubah menjadi biru dengan nafas yang tersentak. Lalu, tangan Angga dikendalikan oleh makhluk bayangan hitam dari belakangnya dengan posisi pisau dilehernya.
Angga tak melawan, Ia hanya tampak menerima dan memang ingin mrngakhiri hidupnya.