
Rangga yang didalam kamar masih belum tertidur, Ia masih memikirkan kejadian yang tadi. Untuk menenangkan diri, Ia pun membuka handphonenya. Tak sengaja membuka media sosial, terlihat konten-konten dan sebagainya tentang Angga.
[Jangan main-main lagi Sama Anak Batin!!!!]
“Pengaruhnya nanti kalian akan menghilang dari muka bumi dan kena santet….!!! Hhhh kalau tidak mau menjadi seperti keluarganya sendiriiii!!!!”.
Rangga melihat video konten kaum yang tak berotak itu membuat kepala dan telinga semakin panas. Ia pun melihat orang-orang yang komen video itu.
Dir2: Aduuuh takut aku!
Silver: Wiiih…. Emang bener sih. Dengar kalian ya!! Hati-hati.
Nah!, Rangga bener-bener udah kesal. Ia pun membalas komen yang nama profilnya si Silver.
Ran4g4: Hehehe!!!… lebih baiknya hati-hati sama kakaknya deh!. Ini gua! RANGGA KAKAKNYA!! AWAS LO YA.
Balas Rangga kesal, belum puas, Ia pun komen tentang video tersebut dengan…
Ran4g4: Weh! Ini kakaknya!!… gur cuma mau komen video amatir lo ya. Gue ingetin kalau bikin video itu harus sesuai fakta… berani betul hinain adek gue!.
Beberapa detik kemudian, langsung dibalas dengan…
Seri: Ooo elo kakaknya!! Hahaha baru tahu gue! Minimalnya ajarin ye adek lo itu.
Komennya, Rangga memang sudah melewati perbatasan kesal sampai-sampai ingin melempar dan membantingnya hpnya tanpa rasa takut. Ya… untuk apa takut coba?, kalau udah rusak ya udah tinggal minta.
Tapi, tindakannya itu terhenti saat Arga mengirim pesan padanya dari grub baru yang bernama “ 3 pemain” yang dibuat oleh Arga sendiri yang hanya berisi ia, Rangga dan Karin.
Alga (Arga): Kak! Belum tidur?!.
Rangga: Belum sih! Napa.
Alga: Lagi kepikiran kejadian tadi.
Karisma Wati (Karin): Eh udah lah… jangan pikiran gitu kali lah… nanti yang ngak nyaman ke Angga.
Rangga: Ya… tapi kan kita kepikiran juga.
Karisma Wati: Ya juga sih, karna kan kejadian seperti ini tak biasa terjadi.
Alga: Eh kak. Angga seperti ini… apa ada hubungannya dengan almarhum Ryan.
Tanya Karin, Arga pun langsung menceritakannya.
Karisma Wati: Apa iya… dari mana tahu.
Alga: Emang ngak liat kesehariannya pas sebelum almarhum. Sering keluar malam, waktu diluar selalu pake masker, bahkan sama Angga kan.
Karisma Wati: Masuk akal juga… pasti ada hubungannya dengan Ryan dan pria misterius itu.
Alga: Hei serangga! Kau udah tidur apa.
Rangga: Belum… napa.
Alga: kayaknya kalau kita cari tahu sendiri sedikit kacau deh.
Karisma Wati: Ya iyalah! Meski bukti hanya segitu mana cara kalau kita ungkapin kalau pria yang kalian temuin itu salah satu pelakunya.
Alga: ya juga sih…mmmm… haaah!!! Bingung dah.
Rangga: udahlah… nanti kita pikirkan lagi… gue mau tidur.
Mereka pun memgakhiri chat dan tidur. Saat tidur terkadang mereka merenungkannya.
Devan yang sedang dalam perjalanan pulang, Ia terus memikirkan Angga dan Dilan yang sedang dalam kondisi hancur. Mereka bertiga seperti terpisah dan dibatasi oleh tembok tak ada celah. Sang ibu melihat anaknya yang melamun dibelakang.
“ Udah Devan, jangan terlalu dipikirkan. Pasti ada jalan, kita bantu doa supaya Angga dan Dilan akan baik-baik saja”.
“… ya Ma”. Jawab Devan sambil tersenyum. Ia pun mencoba melupakannya. Devan pun duduk bersandar di pintu kaca mobil. Tapi, pandangannya teralih pada sebuah bangunan seperti toko yang dimana terlihat sesosok Dilan berdarah dan memegang pisau berdiri disana.
Devan menjadi merinding dan menyingkirkan sandarannya. Ia pun mengatur nafasnya, dan saat melihat kaca spion didepannya, terlihat kembali sesosok Dilan yang pucat duduk dibalakang.
“Hah!…”. Seru Devan syok dan sesosok itu menghilang.
“Ada apa nak”. Kata sang sang ayah yang melihat putranya.
“Eh!… ngak, ngak ada”. Jawab Devan.
“Kalo ngak ada, tadi kaget sendiri gitu napa?”. Lanjut ibunya.
“Oh… mmmm tadi… a! Main hp terus kaget gitu”. Jawab Devan dengan seribu alasan. Ibunya hanya menggeleng kepala. Devan kembali heran akan kemunculan Dilan tadi.