
Sesampainya dirumah sakit, mereka pergi ke kamar khusus nomor 060, keluarga Dilan yang ada disana menyambut mereka dengan baik, selain keluarganya, juga ada Ibunya Angga. Dilan terlihat terbaring lemah dengan tabung oksigen dan beberapa alat yang ada disekelilingnya.
Angga mendekati Dilan yang terbaring lemah dengan wajah yang penuh penyesalan lalu, datanglah ayah Dilan dan memegang bahunya.
“Bagaimana dengan keadaan Dilan?…”. Tanya Angga.
“….Ia …koma, kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan 4 kantung darah lagi. Tapi, sayangnya persediaan darah disini kurang”. Jelas ayah Dilan.
“Tapi, Dilan darahnya golongan apa Om?”. Tanya Jesika.
“A …”. Jawab ayah Dilan, Angga sangat benci pada dirinya sendiri, Ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi menyumbangkan darah ke Dilan, golongan darahnya saja “O”, hal ini membuat Angga dibutakan oleh kesedihannya.
“Akan sangat sulit mencari orang yang golongan ”A“ ya …”. Kata Jian kecewa.
“Andai Angga tidak telat waktu itu ….Angga tidak sempat melakukan apa-apa, maaf …”. Balas Angga yang sedih.
“Nak …ini bukan karena mu, semua sudah ada yang atur, kita bantu doa bersama supaya Dilan cepat sembuh, oke”. Kata ayah Dilan menyemangati dan tersenyum.
“Wah …Angga udah semakin besar dan semakin ganteng lagi ya …”. Kata Ibu Dilan menyapa Angga.
“Iya serasi benget sama si siapa ya seorang lagi …oh ya Devan ya yang tadi”. Seru tante Dilan.
“Loh …Devan juga datang kemari? …”. Tanya Jesika.
“Ngak …Ia video call tadi …kan Ia di Jakarta. Emang sahabat tak ada ujung mereka bertiga, dimana pun selalu bersama …hahaha”. Kata Kakak Dilan kagum yang membuat semua ikut tertawa dan tersenyum.
Mereka pun mengobrol, Angga duduk di samping Dilan dan memegang tangannya.
“Lan …tenanglah kami akan selalu ada untuk mu, sadarlah … dan, aku akan berusaha akan menemukan pelaku yang sebenarnya”. Katanya dalam hati, tak lama kemudian Ia menerima pesan dari Devan, Ia pun membalasnya. Angga selalu peduli, tangan kanannya membalas pesan dari Devan dan tangan kirinya tetap memegang tangan Dilan. Teman ceweknya terharu dan merasa iri akan persahabatan mereka.
Beberapa menit kemudian, Angga, Ibu, Kaila, Zaki dan temannya pun pulang.
“Dilan …aku akan merindukanmu ya kawan …sampai nanti assalamuàlaikum”. Kata Angga berbisik padanya, semua yang melihat ikut terharu. Lalu mereka pamit dan pulang.
Di tengah perjalanan, mereka melewati tempat terbunuhnya Dilan. Angga berhenti sebentar dengan penyesalan dan dendam.
“Ah ..ya bu”. Kata Angga keluar dari lamunannya.
“Jangan khawatir Nak …jangan terlalu memikirkannya terlalu dalam”. Kata Ibunya, Angga paham, tapi Ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Jadi, tim cewek menghiburnya dengan, “Ayo Angga Ayo Semangat!…
Senyummu Harus terlihat …
Karena Tampan Mu Slalu Memikat …!”. Sorak mereka menyemangati, kecuali Mulan, Ia hanya tersenyum dan tertawa termasuk adik, Kaila dan Ibunya Angga.
“Emmm …siapa ni yang udah jadi crushnya …”. Ledek sang Ibu.
“Buuu …”. Balas Angga tidak terima
“Hehe …aku ragu kalau jadi salah satunya”. Kata Jesika.
“Ya elah Kepala mukali!! ”. Ledek Jian yang membuat semua tertawa.
Dalam keceriaan itu, Angga tetap pada pemikirannya, yaitu, akan mencari pelakunya sampai tertangkap.
Sehingga, pada malam harinya. Setelah shalat, Ia berdoa untuk memberi kemudahan dan kesehatan untuk Dilan dan juga Devan. Sang ayah menghampiri, “Insyaallah nak”. Kata sang Ayah yang membuat putranya tersenyum.
“Ayah …bisakah Angga mohon izin keluar sebentar?”. Minta Angga.
“Mau kemana, ini dah malam loh”.
“Angga …mau beli perlengkapan sekolah untuk besok, boleh ya”. Jawab Angga dengan alasannya.
“Jangan pergi sendiri …suruh antar sama kakak mu aja sana”.
“Tidak apa, Angga beli sendiri saja sambil cari udara segar”.
Setelah bersi keras meminta, ayahnya pun mengizinkannya. Lalu, Angga pun berangkat tapi, bukan untuk membeli perlengkapannya, Ia malah pergi ke TKP tempat kejadian terlukanya Dilan.