The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 2



Saat dalam perjalanan pulang, Angga sedang membalas pesan dari Devan. Ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun bahkan ekspreksinya tidak pernah berubah, inilah yang membuat temannya menjadi canggung berbicara dengannya.


“Lo ngak pusing lagi?… kalo masih, napa natap handphone”. Tanya Raki kepada Angga, Angga hanya diam.


“Ga …lo besok sekolah”. Lanjut Dito, Angga tetap diam. Terkadang anak cewek juga tertawa liat mereka seperti lagi bercanda.


“Kan udah gue udah bilang, gue dah lupain itu. Gue kagak peduli kalian mau apa …”. Kata Angga, mukanya tetap tidak memalingkan kemana-mana.


“Berarti kita udah jadi temankan?!”. Balas Dito dengan mata berbinar-binar didepan Angga.


“Serah!, dan tolong singkirkan muka mu dariku!”. Kata Angga sambil menatap layar ponsel.


“Heh …singkirkan apa?!, liat aja ngak!”. Balas Dito. Kini temannya mulai lega melihat Angga yang mulai jinak.


Akhirnya, Dito dan Raki tiba diapartemen mereka, yaitu apartemen Kota Sejahtera. Mereka tinggal disatu apartemen, mereka pun pamit. Kini tinggal Angga dan teman cewek. Mereka masih canggung untuk berbicara dengan Angga, dan tiba-tiba tersampaikan pesan dari Devan.


Ia menyampaikan, bahwa Ia akan pulang nanti malam karena pekerjaan ayahnya sudah lancar. Jadi, otomatis Ia sekolah besok. Tapi, Ia hanya menyampaikannya kepada teman dekatnya saja kecuali, Angga. Itu berguna sebagai kejutan untuknya. Teman cewek yang mendengar juga ikut senang dan setuju dengan rencana Devan.


“Oppa …besok sekolah kan??? …”. Tanya Jesika.


“Harus ya, kalo ngak ….awas!”. Balas Jian.


“Tenang …besokkan ulangan”. Jawab Sarah.


“Ya …Angga pasti pergi!. Ya kan Oppa~~~”. Jawab Jesika. Angga hanya menatap sekilas yang membuat mereka ikut tertawa.


Akhirnya, Sarah, Jian, dan Jesika talah kembali kerumah mereka. Sarah rumahnya tepat disamping toko ditepi jalan, Jian dan Jesika masuk di satu lorong Jalan “Megah 7”. Dan kini, hanya tinggal, Mulan dan Angga.


“Dadah Mulan …dan hati-hati kalian berdua! Hahahaha!!”. Ledek Jesika sambil berlari dan tertawa bersama Jian.


“KALIAN…!”. Balas Mulan kesal.


Angga kembali teringat dan terpikirkan dengan keadaan Mulan yang dulu saat Ia mendapat penglihatan dan sekarang.


“Eee …Mulan …?”. Tanya Angga dengan merasa agak canggung.


“Emm …ada apa?”.


“Eh …ngak ada ngak jadi”. Balas Angga yang membuat Mulan bingung.


“Kau merasa baikan sekarang?”. Tanya Mulan.


“Entahlah …”. Jawab Angga sambil mengusap-ngusap rambutnya.


“Ayolah, jangan pikirkan soal tadi. Ohya …besok kamu harus sekolah ya …harus!”. Kata Mulan.


“He …napa …”.


“Ngak ada sih …besok juga ulangan. Baiklah sampai jumpa …!”. Balas Mulan dan pamit, karena Ia telah sampai di lorong rumahnya. Angga yang melihat kelakuan Mulan mulai tersenyum kecil, meski itu tidak terlihat.


Angga pun melanjutkan perjalanannya. Ada hal yang tidak mengenakan yang Ia rasakan sekarang. Tiba-tiba, sang Ibu menelponya, untuk segara pulang kerumah. Angga pun mengatakan kalau Ia akan segera pulang.


Saat tiba dilorong rumahnya, ternyata Ia dikepung oleh 7 pria preman. Salah satu dari mereka yang merupakan bos, terdapat luka goresan pada bagian kiri mata, dan terluka dibibirnya, terlihat, beberapa anak buahnya juga terluka. Pikiran dan dugaannya tidak salah lagi, merekalah yang telah membunuh Dilan. Si bos pun mendekat, Angga reflek mundur.


“Apa yang kalian lakukan!!!?”. Tanya Angga.


“Heh …untuk apa di perkenalkan lagi, kau mengenal kami kan?!!”. Balas pria tersebut. Angga mulai tidak bisa mengendalikan emosinya, Ia menatap tajam ke arah pria itu.


“Apa maksud kalian, kalian telah membunuh temanku!!!? …mengapa kalian melakukannya!!!?”. Kata Angga marah menatap tajam.


“Heh …”. Pria tersebut pun memegang baju Angga dan melemparnya. Angga pun terjatuh dan dikerumuni para preman tersebut. Lorong tersebut selalu sepi, apalagi saat senja seperti ini, jadi tidak ada yang dapat menolongnya.