The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Kenangan Yang Menyakitkan



“Devan berusahalah”. Seru Sarah.


“Apa kita harus diam seperti ini”. Lanjut Jesika panik.


“Jika kita ikut campur, Angga semakin emosi dan kita pun dalam bahaya. Maka akan semakin sulit untuk menghadapinya”. Jawab Mulan.


“Tapi …”.


“Aku yakin, Devan mengetahui sesuatu”. Lanjut Mulan yakin. Temannya hanya menatap heran.


Keadaan semakin lama semakin tegang. Angga masih dalam keadaan yang tak terkendali. Guru yang lain membantu membawa dan mengobati anak yang terluka, kecuali, Robin. Hal ini karena Robin ada disela-sela keributan.


“Angga! Kumohon hentikan Angga!”. Teriak Devan.


“Aku tidak akan berhenti sebelum yang ada disekitarku terbunuh!”. Jawab Angga yang membuat semua menjadi merinding.


“Angga aku tahu kau disana! Sadarlah”. Kata Devan, tapi Angga tak mempedulikannya.


“Angga kumohon. Ingatlah ayah dan ibumu Angga …”. Lanjut Devan, Angga seketika teringat akan pesan keluarganya, serangannya pun mulai melemah. Semua kembali termanga melihatnya.


“Kau ingat kan …apa pesan mereka. Apa kau ingat, siapa saja yang mendukung mu …kau ingat, orang tuamu, kakak, dan adikmu, Guru, pak Ridwan”. Kata Devan yang membuat Angga seketika berhenti dan menatapnya.


“Bahkan, teman-teman …kau ingat Dilan …”.


“Di …Lan”. Kata Angga pelan yang mulai sadar, Ia menurunkan tangannya dari Devan. Seketika, Ia kembali dengan masa lalu mereka.


SD 5 Internasional


Dilan : Hei! Siapa nama mu.


Angga : ….


Dilan : Ah maaf … hei perkenalkan namaku Dilan. Ini teman ku Devan.


Devan : Hai! Siapa na…


Angga: Angga …tolong jangan mengganggu ku.


Dilan : Anggaaaa! Mau pulang bersama.


Dilan : Angga ayo main bersama kami


Dilan : Hei kau mau kue …


Devan : Kau ini! Dia bukan bayi bodo.


Dilan : Hei ayo kita kita menjadi teman dan sahabat sejati mulai sekarang.


Devan : Ingat …kita harus saling bersama. Saling menolong dan mendukung.


Angga mulai mengingat masa pertemanan mereka dulu saat SD. Nafasnya seketika tertahan, keadaan kembali lengang.


Ia melihat di sekitar, Angga melihat preman itu terluka parah dan ketakutan padanya. Angga dapat melihat kekejaman yang Ia lakukan dan tentang makhluk bayangan yang ada padanya. Ia pun menjatuhkan pisau yang ada ditangannya. Tiba-tiba, kepalanya kembali sakit, kedua tangan memegang kepalanya. Devan maju mendekati Angga.


“Angga, tenanglah …kami akan selalu berada disisimu”. Kata Devan sambil memegang bahunya dan tersenyum kecil kearah sahabatnya. Semua yang melihat ikut terharu.


“Kamu ingatkan, kata terakhir almarhum kakak mu yang Ia katakan untukmu”. Kata Devan, Angga kembali teringat moment menyenangkan yang Ia rasakan bersama sahabat dan kakak-kakaknya, terutama Ryan.


(Kejadian 3 tahun yang lalu).


Saat Angga baru berada dikelas 5 SD, Ia mengikuti acara pengujian bakat tahfis Al-Quràn, ini pun karena paksaan dari guru kelasnya. Angga bukannya tak mampu atau gugup akan penampilannya, tapi, hal yang sama yang Ia alami saat ini. Yaitu, dikagumi, tapi dibenci.


Saat pengujian bakat pun tiba, Ryan yang saat itu berusia kelas 6 SD. Ia melihat adiknya dengan kondisi tak iklas saat mengikuti pengujian bakat ini, termasuk dua sahabatnya. Ryan pun memutuskan menyemangati adiknya.


Devan : Ga, kamu ngak papa kan?.


Dilan : kamu ngak demam panggungkan? …


Angga : …..


Devan : Ayolah! Jangan pikirkan mereka. Kami yakin!, kau pasti bisa.


Dilan : hem! Kami mendukungmu.


Angga tak menjawab apa-apa, Ia menunduk dengan muka kesal. Lalu, datanglah Ryan.


Angga : Ya kek mana ngak mau kesal. Ikut aja dipaksa.


Ryan : Hei jangan begitu. Kan bagus ikut Tahfis. Ibu sama Ayah aja setuju.


Kata Ryan sambil duduk disebelahnya.


Angga : Heh …


Ryan : Hem …ayolah jangan kesal gitu napa. Kami tahu kok, semua memandangmu rendah dan tak berguna. Tapi, bukan berarti kamu itu pecundang, tapi, kamu adik kakak yang paling hebat. Dan lihat, kau mempunyai dua sahabat yang luar biasa yang selalu mendukungmu.


Kata Ryan, Dilan dan Devan pun tersenyum.


Ryan : Ingat kata kakak. Meski banyak orang yang menganggapmu seperti itu, jangan pedulikan. Tetaplah pada pendirianmu. Karena kamu tidak sendiri Angga.


Itulah nasehat yang Angga ingat dari kakaknya. Ia pun mengingat saat kejadian Ryan terbunuh yang mencoba melindunginya.


Angga : Kak! Kakak …


Seru Angga saat baru saja menewaskan pembunuh itu. Ia pun menghampiri Ryan yang tengah menahan sakit karena pisau yang tertusuk padanya.


Angga : Kak! Bantuan segera datang bertahanlah …


Seru Angga, air mata tak berhenti mengalir dan jatuh menetes pada Ryan yang ada dipangkuannya.


Ryan : Ang ….ga ….


Angga : Kak??! …


Ryan : Kamu …mena …ngis? …


Angga : …


Ryan pun tersenyum menahan sakit. Ia pun menghapus air mata yang mengalir di wajah adiknya danmengusap-ngusap rambut nya.


Ryan : Adik lelaki ku tak boleh menangiskan?.


Angga : …


Ryan hanya bisa menampilkan senyumnya. Tiba-tiba, dadanya makin sesak, dan semakin melemah. Angga semakin panik.


Angga : Kak, kak bertahanlah.


Ryan : ….kakak tidak mungkin bisa bertahan lama Ga, ini mungkin untuk terakhir kalinya kakak melihat wajahmu.


Angga : Kakak jangan bicara seperti itu. Aku tidak ingin kakak pergi!.


Ryan : Semua orang hidup ada batasnya Ga …begitu juga dengan kakak.


Kata Ryan. Angga tak bisa menahan tangisnya. Ryan kembali tersenyum dan memegang pipi Angga.


Ryan : Jangan menangis seperti itu. Ingat, kamu tak sendirian. Percayalah, ….kau memiliki 2 sahabat yang baik. Dan keluarga. Mereka akan selalu bersama mu.


Angga : …. Aku tahu ….


Ryan : Baiklah …Angga, disinilah saatnya kita berpisah. Sampaikan pada kakak dan semua. Aku mencintai kalian.


Angga : Kak …


Ryan : Berjanjilah, kau akan tetap tersenyum …jangan ….


Dan akhirnya, pegangan Ryan terlepas, dan pergi untuk selamanya.


Angga : Kak, kakak! Bangun kak! Bangun!. …… KAKAK! ….


Angga pun sadar dari ingatannya. Ia pun mengeluarkan air matanya. Kepalanya kembali sakit, dadanya pun sesak. Semua ikit terharu.


“Ga …ingatlah kau tidak sendirian”. Kata Devan dan langsung memeluk sahabatnya.


Tiba-tiba, bayangan yang ada disekitar Angga pelan-pelan menghilang, matanya kembali normal. Dan tubuh Angga pun melemah total dan alhirnya Ia pinsan.


Sang Guru pun membawanya ke UKS. Guru yang lain membawa yang terlibat dalam perkelahian menyuruh keruang BK termasuk Mulan. Dan sambil mengobati luka mereka. Dan pastinya sekumpulan orang tua akan memanas.


Bagaimana kelanjutannya ….