
Dua jam lamanya, Devan dan teman-temannya telah menghabiskan waktu dengan Dilan dan, hendak ingin pamit dan melanjutkan ke rumahnya Angga, meski, terkadang membuat mereka tegang nantinya.
“Oke Lan! Good bye! Sehat walafiat selalu yaaa”. Seru Jesika dengan pamitannya.
“Oke! Bye... Kuharap sesat dijalan”.
“Muulai lagi ni anaak~”. Gumam Jesika yang telah terbiasa dengan akal sehatnya Dilan, ya namanya aja udah terbiasa.
“Kami pamit dulu ya, Dilan, tante Om dan kak”. Kata Devan dengan bungkukan badan hormat. Keluarga Dilan membalasnya dengan senyuman.
“Ya. Jangan hati-hati dijalan”.
“Lo mulai lagi Lan, sakit gini masih aja ngusil”. Jawab Jian.
“Emang, status gue kan? Hehe. Asal tahu aja, tanpa orang sintong kayak gue hambar jadinya tahu ngak”.
“Heh, syukurlah selama berabad-abad sadar juga lo sinting”. Balas Jesika dengan angkatan dua tangannya santai.
“Apa ko bilang! Dasar Lampir! ”.
“Apa! Ih emang gue nyeremin gitu hah! ”.
“Mmmm... Kagak, lebih seram lo pada lampir sungguh! 100%”. Lanjut Dilan yang membuat amarah Jesika semakin membara. Semua kembali tersenyum melihat Dilan kembali, layaknya... Seperti mimpi.
“Terima kasih atas semua rahmat mu ya Allah... Engkau telah mendatangkan satu keajaiban ini.... Dan membuat sisi kami kembali bersinar. Tapi... Tolonglah kemudahan pada tiap tantangan, yang dialami Angga ya Allah”. Doa Devan, Dalam hatinya yang penuh harapannya.
Ia berupaya untuk tidak tumbang, walaupun ada yang berusaha ingin menjatuhkannya. Ia juga tak akan menyerah kendati kegagalannya berjaya mengalahkan semua perjuangannya. Tetap bagaimanapun, ia tak akan pernah mau berhenti sekalipun alahan malapetaka sanggup menghalanginya. Dirinya takkan mungkin lengah! Apapun yang membatasi segala kekuatan persahabatan mereka, hingga akhir waktu.
“Syukurlah, kedamaian datang pada saat yang tepat. Senang lihatnya... Melihat sepasang sahabat ini kembali ya Allah... Tapi... Tolonglah dan ringankanlah kendala pada Angga ya Allah”. Ucap Mulan dalam hati dengan rasa syukur sambil tersenyum kecil dibibirnya. Melihat senyum temannya saja telah membuat Ia melupakan masa lalunya yang kelam dan menyakitkan. Dan sekarang, Ia akan fokus pada pengalamannya yang sekarang.
“Baiklah... Kami pamit dulu. Ingat! Jangan melata lagi oke”. Kata Devan.
“Yaaeelaaah... Emang gue ular? ”. Jawab Dilan dengan mengacung bibirnya.
“Ngak sih… malah jauh beda banget, ular punya bisa, tapi lo ngak bisa”. Jawab Bagas spontan ala kepintarannya.
“Lo bilang apa sih”. Gerutu Dilan.
“Haha... Good bye Lan”.
“Bye! Ingat! Malu bertanya sesat diakhiraaat”. Seru Dilan. Haha... Emang tak habis saja akan pengusilannya, sampai-sampai membuat mereka terkekeh geli.
***********
Mereka berada ditengah perjalanan kota Bandung yang kini sepi, menuju rumahnya Angga. Memang hawa kali ini beda, hingga Devan saja tak dapat merasakan nafasnya, apalagi jika bertemu dengan Angga nanti.
Bukannya takut padanya, tapi, takut melihat keadaan sahabatnya itu semakin parah. Hal itu membuat Devan terlebih banyak melamun akhir-akhir ini.
“Eh Devan! ”. Panggil Jian yang memecah lamunan Devan dalam sekejap.
“A…pa”.
“Yang tadi... Apa emang... Kakaknya Angga ya? ”.
“Kalo ya napa? ”. Jawab Devan, mendengar hal itu membuat Jian tertawa kesaltingan dengan Jesika dan Sarah. Para temannya yang lain peka, terhadap ekspresi mereka. Udah keseringan banget pula.
“Omy god!! Jujur banget! Gue ngak pernah liat wajah asli kakaknya dan ternyata..... ”.
“GANTENG BANGEEEET!!! ”. Seru mereka kompak.
“Fuh! Keadaan udah gimana, kalian malah gimana”.
“Bukan urusan lo! ”. Jawab tiga cewe kompak yang membuat perkataan Dito patah.
“Yaaa... Menurut gue sih. Ada yang ampuh terhadap guna-guna nih”. Kata Bagas sambil memasukkan tangannya ke saku celananya.
“Njir... Omongin kita yang ngak-ngak... Jangankan guna-guna susuk aja ngak pernah”. Balas Jesika dengan tatapan amukan.
“Trus, kalian cantik emang kenapa kalau bukan susuk”. Tanya Bagas balik.
“Omy god! Yang bener... Aaaa ngak rugi gue beli skincare”. Jawab Jian.
“Waah! Pantes kayak itik”. Balas Bagas ledek hingga Jesika siap melayangkan tinju andalannya.
👊👊👊👊👊
“Sst... Aw aw aw sakit woi! ”. Seru Bagas saat Jesika memukulnya dengan tenaga cewe.
“Elu yang minta”.
“Heh... Lama-lama jadi idaman ngak tuh”. Kata Devan yang seketika perkelahian dua makhluk beda dimensi itu menatap tajam kearahnya.
“...... ”. Daaan... Devan diam seketika.
“Emang ye. Diantara kalian emang ada yang imunnya kuat banget”. Lanjut Bagas.
“Oh ya! Siapa! ”.
“Tuuu.... Si Mulan”. Jawab Bagas yang membuat Mulan mengerutkan alisnya.
“Ya, bos bener, kuat banget dengan aura cowo”. Balas Dito.
“Mmm kalo boleh tahu... Lo suka cowo yang tipenya gimana sih, terus, napa anti cowo banget, sampai-sampai ngak tergila-gila dengan cowo spesial kayak Angga”. Tanya Bagas.
“Ya, kayak tiga temen lo itu. Mereka bukan tergila-gila lagi sih, tapi emang udah gila”.
“Lima menit lagi tu mulutku pelintir ya Ki! ”. Seru Jesika kearah Zaki yang meledek mereka.
“Mmm... Ngak tuh. Menurutku sama aja”. Jawab Mulan.
“Lo kayaknya mempunyai masalah dimata lo tu. Coba dikucek pake molto dulu biar glow gitu”. Balas Devan.
“iya memang bener kok”.
“Tipe lo aja, gimana? ”. Tambah Zaki yang membuat yang lain semakin penasaran.
“.... Mmm... Sukanya, 85%dingin, seorang hafiz, perhatian baik dan peduli. Selesai dan yang pasti… Mmm..anti cewe sih”. Jawab Mulan dengan penyebutan ciri-ciri tipe lelaki hayalannya. Dan tentu, semua termanga karna tipenya begitu pas dengan sifat karakteristiknya Angga.
“E e elu yang bener La!? Tipe Angga cuy”. Seru Jesika.
“Angga lagi Angga lagi... Mmm... Dia hafiz ya? ”.
“Ya iyalah, gue inget pas Ia ikut lomba tahfiz Al-quran dan menang sampai tingkat... Provinsi”. Jelas Jesika kagum.
“Aha, kalau ngak percaya, tanya saja sama si Dove eh! Devan maksudnya”.
“Njir! nama gue yang udah ganteng indah menawan and elegan gini malah dijadiin deodoran! Kejam ya ukhti! ”.Oceh Devan panjang lebar, kini, Ia mencoba untuk tidak terlalu cemas, ya... Demi temannya juga. Ia tak mau temannya yang lain ikut berubah kondisi karnanya.
#Wkwkwkw*.
“Berarti... Kalau Angga sepenuhnya gitu... Berarti kau suka dong”. Tanya Sarah.
“Bukan masalah suka untuk pacaran, tapi intinya, dia harus perhatian dan jujur, cuma itu”. Jawab Mulan dengan khas anak sholehahnya.
“Waaah... Berarti kalo gue nembak lo Terima dong”. Seru Bagas menguji.
“Mmm... Minimalnya bawa ke dukun dulu untuk menjalani beberapa santet”. Jawab Mulan kocak yang membuat temannya yang lain tertawa mendengarnya.
Namun, disel-sela candaan mereka, terlihat segerombooan beberapa bapak-bapak yang terlihat dengan ekspresi marah mereka sambil pergi kesuatu tempat membawa senjata tajam mereka ditangan.
Hal itu sekilas membuat 8 teman ini syok dan bingung. Mereka panik yang mempertanyakan ada apa dan mengapa.
“Bu buset! Napa tu bapak-bapak woi! Tawuran?! ”. Seru Bagas yang syok.
“Cepat! Bunuh pembunuh batin itu cepat! ”.
“Beraninya Ia melakukan pada anak kita yang tak bersalah! ”.
“Ayo semua cepat! Bunuh anak batin itu CEPAT! ”.
Seru bapak-bapak itu dengan amarah yang menggelora sambil mengangkat senjata mereka. Mendengar itu, tentunya membuat Devan dan rekannya yang lain syok mendengar seruan mereka yang berniat membunuh Angga, si pemilik mata batin.
“Me mereka bilang apa?! ”. Seru mereka panik, Devan pun langsung berlari menghampiri bapak-bapak itu, ya... Meski mereka terlihat menyeramkan layaknya psikopat, tapi.... Untuk melindungi sahabat sejatinya mengapa tidak.