
“Pak! Pak! A_ada apa ini”. Tanya Devan dengan nafas yang ngos-ngosan dengan susulan beberapa temannya yang membuat segerombolan bapak-bapak itu berhenti.
“Bukan urusan Lo! Sana”. Balas mereka dan memberontak pergi, tapi Bagas dan 2 pendamping setia ini langsung menghentikan mereka untuk mendapat alasan yang lebih jelas.
“Pak, jawab dengan jujur! Mengapa bapak bawa senjata tajam itu!, mau bunuh sahabat saya?! ”. Tanya Devan tegas dan jelas.
“Ooo hahaha, jadi, elu sahabat anak Indigo ngak berguna itu ya. Hehe... Ya! Emangnya kenapa”. Jawab salah satu dari mereka, yang ternyata itu adalah ayahnya Dika.
“Apa?! Kalian jangan semberonoh mau main hakim sendiri loh pak! Dia ngak ganggu kalian kan?!! Mengapa kalian asal-asal main tangan sendiri! ”. Jawab Devan, temannya yang lain memilih untuk diam memperhatikan.
“Ngak ganggu lo bilang?! Heh! Bocah!, emang kalian tahu apa. Jelas Ia udah lakuin hal buruk terhadap seluruh orang disini! ”. Jawab mereka kasar dan keras, ya, mau bagaimana tidak, emosinya aja gimana.
“Pak! Bapak jangan asal nuduh ya! Emang apa buktinya apa! ”. Seru Devan kesal, setiap saatnya Angga, yang disalahin Angga, apalagi saat Angga mulai pembalasan malah mereka yang marah. Ini sih, sesat bangeet.
Dengan tatapan sinis, ayah Dika pun menceritakan apa yang anaknya alami sampai Ia sadar.
Ini guys, ceritanya Dika telah sadar, Ia berada dirumah sakit Takusina Bandung ya.{ Author udah rencanain untuk buat dia mati, tapi malah takut ditangkap polisi, hehe😅}
“Alhamdulillah Dika?, kamu udah sadar? ”. Seru sang ibu yang melihat kondisi putranya yang sadar dengan wajah yang cukup pucat tanpa menjawab pertanyaannya.
“Nak, apa yang terjadi? ”. Tanya sang ayah soal tentang kejadian tadi malam yang cukup mengerikan. Mendengar pertanyaan sang ayah, Tiba-tiba hal yang sama pun terjadi. Tubuh Dika gemetar kaku seperti kejang-kejang.
Ia masih dapat merasakan rasa sakit yang tak berluka dibagian perutnya. Dengan panik sekaligus bingung, beliau pun memeluk putra Dika untuk menenangkannya.
“Hah hah hah sah.__kit... Ahhk! Sakiiiiiit!!! ”. Seru Dika yang kesakitan parah. Ia tak dapat bergerak walau sesaat, serasa tubuhnya tertusuk pada besi runcing yang menjulang tinggi.
Dengan tatapan bingung, kedua orang tuanya tak dapat berbuat apa-apa. Terlihat anak mereka merintih kesakitan parah tanpa luka sedikit pun, bahkan dokter mengatakan kalau kondisi Dika dalam keadaan baik-baik saja, bahkan tak juga memiliki masalah pada bagian organ dalamnya. Hal ini juga terjadi pada yang lainnya, bahkan, ada yang sampai terbawa akan kematian.
Karna ketakutan, sang ayah pun memaksa putranya untuk menjawab kejadian sebenarnya dan apa sebab musibah mengerikan ini dapat terjadi.
“Dika! Katakan sama ayah! Siapa yang melakukan semua ini?! ”. Tanya beliau tegang, namun Dika masih dalam kondisinya yang tak stabil.
“I_ini... Sa salah Dika Ayah”. Jawab Dika dengan nafasnya yang sesak menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.
“Apa maksud mu heh?! ”.
“Hiks! Aku__hiks bersalah pada Angga.... Ini semua salah ku”. Jawab Dika yang kini ditambah dengan seruan tangisnya. Ditambah rasa sakit, kayak ditusuk ilahi nah, biarin aja tuh🙃.
“Apa?! Angga? Si__si anak batin itu? Dia yang lakuin semua ini?! Emang ngak punya otak tu anak”. Balas ayahnya yang hendak ingin keluar dari ruangan untuk menyelesaikan masalah dengan langkah kasarnya. Bahkan sang istri, sampai syok dengan suaminya.
“Ayah! I__ni salah Dika! Bu__kan Ang__ga”. Cegah Dika yang ditahan ibunya. Sedangkan sang ayah yang kesal langsung melanjutkan langkahnya dan tak mempedulikan seruan anak tunggalnya itu.
“Ayah! Tunggu Ayah! Angga tak bersalah! Itu semua salah ku sendiri! Ayah! ”.
Beliau yang benci terhadap Angga, langsung mengkabarkan hal ini kepada orang yang lain, apalagi yang anaknya telah innalillahi, ikut bergabung juga.
**********
Mendengar cerita ayahnya Dika, membuat Devan kehilangan arwahnya_eps! Maksudnya bagian dari dirinya, Ia sungguh tak dapat berkata-kata, terhadap apa yang Ia dengar memang benar seperti tanggapannya. Apalagi temannya yang lain. Mereka sungguh tak percaya jika Angga semakin lama, semakin kejam.
“Kami tak mau tahu! Anak itu harus menghilang dari dunia ini! Seperti yang Ia lakukan pada yang lain hingga tewas! ”. Seru bapak-bapak lainnya dengan amarah dan dukanya terhadap putranya yang telah tiada.
“Pak! Tunggu! Tunggu dulu. Hal-hal seperti ini jangan langsung main hakim seperti ini. Apalagi sampai bawa senjata tajam seperti, apa kalian tak punya pikiran untuk membunuh seorang anak?!, kita bisa urus semua kepolisi pak! ”. Balas Mulan panjang lebar, namun mereka hanya menatapnya dengan sinis.
“Yaelah lama banget! Udah-udah! Dia mati duluan ngak apa-apa kan! Ayo semua”.
“EH PAK! PAK! BERHENTI”. Seru mereka mencegah. Devan yang hatinya dari tadi gugur tumbang langsung memegang dan menarik tangan ayahnya Dika untuk menghentikan tindakan kejam mereka.
Namun, apa daya, ayahnya Dika mendorong Devan hingga terjatuh dan, kakinya yang terkilir kembali lagi.
Semua temannya berseru syok dan membantu Devan bangkit berdiri. Devan yang tak percaya dengan apa yang terjadi, langsung berlari menghentikan gerombolan pria itu, tak peduli dengan kakinya yang sakit, tak peduli dengan kepahitan rasa yang Ia sembunyikan, jika itu ada yang berhubungan dengan hidup dan matinya para sahabatnya. Temannya berseru kaget dan khawatir dan langsung menyusulnya.