
Disaat Angga masuk, semua mata munafik yang ada menoleh padanya. Angga tidak peduli, tapi kini matanya menoleh ke arah kursi bagian belakang tempat Bagas duduk. Bagas terlihat menangis dan menutupi kepalanya di atas meja. Angga melihat keadaan Bagas yang tak berdaya dengan penuh rasa bersalah. Lalu datanglah Dilan yang menyentuh bahu Angga dan berkata,” Biarin aja ….jangan khawatir“. Kata Dilan pelan sembari tersenyum. Mereka pun duduk di kursi mereka masing-masing.
Semua memperhatikan Angga, Dilan dan Devan dapat melihatnya.”Apa …kita bukan artis kok. Bisa tutup gak mata munafik kalian itu hah!“. Tegas Devan kesal.
”Dev …biarin aja!....mungkin mereka memang tak punya pemikiran“. Ledek kembali Dilan.
”Devan …Dilan ...“. Panggil Angga yang menyuruh mereka diam. Dua sahabatnya itu menanggapi.
”Bagas? …kamu baik-baik saja nak. Bapak harap kamu dapat memaafkan Angga, Bagas?“. Pak Ridwan datang menghampiri meja Bagas. Tapi setiap pertanyaan dan perkataan dari gurunya tidak Ia jawab. Kini si preman itu benar-benar diam ketakutan. Angga kembali tertunduk di bangkunya karena rasa bersalah yang tak terhingga yang Ia rasakan sekarang. Teman sependukungnya dapat merasakan apa yang dialaminya. Mulan merasa tak tega melihat seseorang mengalami masalah seperti itu, apalagi Ia murid baru, seharusnya dapat merasakan momen menyenangkan disekolah barunya, tapi malah mendapat momen yang menyedihkan yang telah terjadi di sekolahnya. Meski Mulan pernah merasakan penderitaan seperti Angga.
”Bagas …kamu mau pulang?“. Tanya pak Ridwan. Bagas hanya menggelengkan. Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Suara terdengar hanya suara ingusan hidung dan nafasnya yang tersengal karena ketakutan. Semuanya menganggap Angga sudah memang benar-benar keterlaluan.
”Baiklah kalau begitu …biarkan Ia beristirahat disini, dan karena jam bapak sudah habis ….kalian semua bersiap-siap untuk jam pelajaran berikutnya. Assalamuàlaikum“.
”waàlaikumsalam wr wb“. Jawab seluruh murid dengan kompak. Mereka pun pergi keruang loker untuk menganti pakaian olah raga mereka. Kecuali teman sependukungan dengan Angga dan Bagas yang tinggal dikela. Mereka terkadang melihat keadaan anak batin yang tertunduk di bangkunya sambil lewat.
Tiga teman cewek dan Mulan yang telah berkenalan akrab dengan mereka juga menghampiri bangku temannya itu.” Angga kau baik-baik saja?“. Tanya Jesika cemas.
”Entahlah…“. Jawab Angga singkat.
”Apakah aku memang sekejam ini….“.Balas Angga kembali dengan wajah yang tertunduk.
”Ayolah kawan …kami pikir kau tidak sekejam itu …kau hanya ingin menyadarkannya kan. Dari pada dia sendiri, sudah berapa banyak anak yang Ia buli“. Jawab Dilan.
”ya …sebaiknya kita ganti baju dulu ...“. Balas Devan.
Angga pun berdiri dan memalingkan pandangannya ke arah Bagas yang masih tertunduk diatas meja. Ia pun menghampiri meja nya dan berkata, ”Bagas ?!…“. Panggil Angga yang telah berada di sampingnya. Bagas reflek kaget tapi masih dalam posisi tertunduk dan nafasnya tertahan.
”Aku …tidak bermaksud untuk menghabisimu saat itu. Maafkan aku…“. Balas Angga sambil memegang bahunya yang gemetar ketakutan. Bagas tidak menjawab apapun, kondisi tubuhnya sekarang semakin ketakutan.
”Ga …biarlah Ia beristirahat …kita sebaiknya ganti pakaian dulu“. Kata Dilan sambil memegang bahunya. Angga menghela napas dan mengikuti perintah temannya itu.
Mereka pun pergi keruangan loker, yang cowok keruang cowok dan cewek keruang cewek.
Angga dan dua sahabatnya itu pun masuk tanpa diketahui oleh teman kelasnya yang lain, mereka dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan tentang Angga.
”Wih ngeri amat bocah batin itu. Preman terkenal kelas kita sampe nangis ketakutan gitu ya“.
”ya emang udah pantaskan si pengganggu itu takut, tapi bukankah Angga itu udah kelewatan?!“.
”Kau benar …kepalanya aja terluka tuh …pasti sakit..“
”kira-kira orang tuanya Bagas akan datang kesekolah ngak ya“.
”pastilah …tapi siapa yang akan bernasip buruk nanti, bocah batin atau orang tuanya bagas“.
”Tenang penayangan kita tunggu besok …bagaimana kelakuan anak sok cool beraura magis itu …“.
”hhhhhhhhhh! ….“.
”sstt diam mereka di belakang tuh“. Jawab salah satu siswa yang sadar kalau tiga sahabat itu sudah mendengar semuanya.
”mampus! … kita jadi apa coba …“. Bisik salah satu siswa panik.
...****************...