
Di rumah, Angga di tidurkan dalam kamarnya dengan berpakaian kaos miliknya. Kondisinya begitu lemah, tubuh nya pucat, nafasnya Tampak sesak, dan keringat yang membanjiri sekujur tubuh nya. Keluarga bahkan kedua orang tuanya sangat mencemaskannya.
“Ya Allah nak, mengapa kamu seperti ini”. Kata sang Ibu Menangis sambil mengelap keringat putranya.
“Apa yang bisa membuat mu tersenyum Angga... Katakan sama Ibu.... Ibu hanya ingin melihat mu bahagia dan ceria seperti anak yang lain... Apa itu tak akan bisa... ”. Lanjut Ibu nya sambil menangis dan memeluk Angga.
Sedangkan, Devan telah sadar. Kepalanya agak pusing, Ia pun kembali mengingat kejadian di sekolahnya yang membuat Ia tiba di rumah.
“Alhamdulillah kamu udah sadar Devan”. Kata Ibu nya yang baru memasuki kamar anak nya dan membawakan segelas air.
“Kamu, udah baik-baik saja sekarang? ”. Tanya Ibu nya lembut.
“Ya”. Jawab Devan.
“Syukurlah, oh ini minum air nya dulu biar ngak pening”. Kata sang Ibu sambil memberikan air putih ke Devan.
Devan menerimanya, Ia melihat Ibu nya lamat-lamat.
“... Emmm... Mah”.Panggil Devan.
“Ya”.
“Apa Mama ngak marah”. Tanya Devan.
“Tidak, untuk apa mama marah?“. Balas sang Ibu lembut.
”Eeee... Apa mama ngak marah kalau Angga... “.
”Tidak“. Balas Ibu nya sambil meraih tangan Devan, Devan menatap Ibu nya.
”Mama mengerti bagaimana anak seperti Angga, bahkan Ayah mu. Memang... Mama dapat melihat keakrapan kamu, dan Dilan kepada Angga yang menunjukkan bahwa kalian peduli pada nya sebagai sahabat. Bahkan terus berusaha untuk membuat nya normal seperti anak yang lain“. Jelas sang Ibu sambil tersenyum lembut pada nya.
”Tapi, usaha kalian itu tak akan sia- sia, anak seperti Angga memang mempunyai hati yang lembut tersendiri, kamu lihat, bagaimana Ia mencemaskan Dilan yang sedang kritis di rumah sakit dan pada mu.
Mama yakin Ia berusaha menembus semua usaha sahabatnya“. Lanjut sang Ibu, Devan kembali teringat moment ketika Angga akrab dengan mereka.
”.... Terus, apa kamu marah“. Lanjut Ibu nya.
”Tidak,... Devan hanya khawatir dengan nya, Apalagi keadaannya semakin kesulitan, lagipula…kondisi Dilan juga…“. Jawab Devan dengan mukanya yang sedih.
”Jangan khawatir, Angga dan Dilan pasti akan baik-baik saja, kita berdoa semoga semua urusan dipermudahkan oleh Allah“. Kata sang Ibu, Devan pun mengangguk dan tersenyum.
”emm... Mah, ayah mana? Belum pulang? “. Tanya Devan.
”Tadikan antar kamu pulang, sekarang Ia lagi mau jenguk kondisi Angga“.
”Hah. Napa ngak bilang, Devan mau ikut“.
”Hei! Istirahat dulu“. Tegas Ibu nya.
”Tapi... “.
”Istirahat dulu... Nanti kalo udah sembuh total baru berangkat“. Kata Ibu nya sambil keluar dari kamar putranya. Devan menurut saja, lagi pula kondisinya juga masih lemah.
Sedangkan Angga, masih terbaring tak sadarkan diri. Pak ustad telah datang yang di panggil keluarga nya.
Beliau merupakan guru pengajian tempat Angga dan teman nya mengaji, beliau bernama Zulklifi Agus Salim.
Beliau datang untuk melihat dan membantu Angga, muridnya. Beliau dipersilahkan masuk, ustad Zulklifi pun mendekati Angga, beliau memegang dada dan kepala Angga.
”Ibu dan bapak nya Angga, saya memang tidak tahu tentang apa yang Ada pada Angga“. Kata ustad yang selesai memerikasa Angga, kedua orang tuanya dan ayah nya Devan hanya khawatir dan bingung.
”Tapi menurut saya, apa pun yang Ada pada Angga itu memang tak bisa dicegah atau dihilangkan. Hal ini hanya tergantung pada Angga sendiri“. Lanjut beliau.
”Jadi, ini bagaimana pak ustad“. Tanya Ayah Angga.
”Saya hanya akan membacakan surah yasin dan beberapa surah yang lain dan juga dibantu oleh bapak Ibu juga, guna menenangkannya saja“. Kata ustad, kedua orang tuanya dan ayah nya Devan menyetujui.
Sedangkan disisi lain, teman akrab nya telah pulang sekolah dengan wajah sedih dan khawatir. Hal ini karena kejadian tadi, dan juga di WC yang berupa kejadian yang sangaaaat mengerikan dan Mengkhawatir kan pada Angga. Mereka kini tak Ada yang ingin memulai pembicaraan.
Impian mereka saat Devan pulang hanya ingin melihat Angga tidak kesepian, tapi malah hal kengerian Dan kekesalan yang selalu menutupnya.
”Mulan“. Panggil Bagas dengan raut wajah yang tidak pas.
”Ya“. Jawab Mulan.
”Mau jemput adikmu dulukan“.
”emm“.
”Ya sekalian dengan adiknya Angga.Entah bagaimana dengan ekspreksinya nanti“. Balas Jesika.
”Padahal Kaila udah semangat banget loh nunggu kehadiran Devan… dan liat Ia dengan Kakaknya tapi, malah jadi gini“. Kata Sarah.
”Eeeh…Bagas!. Lo ingat pas waktu Angga mukul lo waktu itu“. Tanya Jian.
”Aha!… terus“. Balas Bagas.
”Tapi lo kan dah trauma, tapi kok tiba-tiba langsung dah hilang dan ngak peduli kalo lo takut dengan dia“. Lanjut Jian, temannya yang lain ikut memperhatikan.
”Hah… ya itu karna gue udah merasa tega banget… apalagi dengan kelakuan bapak gue“. Kata Bagas yang bercampur sedikit kesal.
”Saat itu bapak gue benci dengan bapaknya Angga. Selain dengan tindakan Angga… juga dengan urusan perusahaan“. Lanjut Bagas.
”Maksud lo, bapak lo dan bapaknya Angga, ada persaingan bisnis gitu“. Balas Jesika.
”Ya… jadi perusahaan bapak gue menurun. Jadi tiap hari bapak gue sebarin berita keji tentang Angga dan keluarganya. Saat banyak komentar yang ngak-ngak… bapak gue saat itu puas banget sampe ketawa kayak orang gila“.
”Ya Allah… ooo jadi itu alasannya lo bertengkar sama bapak lo“. Balas Sarah.
”Ya… dalam pikiran gue… kalo itu bapak gue, berarti itu gue juga dong. Gue merasa ngak tega kalo sampe-sampe keluarganya Angga dihina gitu apalagi Angga sendiri“. Lanjut Bagas, kini temannya mengerti.
”Baguslah kalo lo mengerti Angga kek mana“. Balas Mulan.
”Yaaa begitulah. Tapi, napa sih lo bisa tahu cara jinakin Angga. Lo punya indra ke enam juga“. Tanya Bagas yang membuat temannya kepo ingin tahu.
”Ngak“. Balas Mulan.
”Terus kamu ngerti benget sih sama Angga… hehehe… sehati ya haaaa“. Ganggu Jesika.
”Iiiihhh…. Ngak lah“. Balas Mulan.
”Terus, napa?“. Tanya Sarah.
”Ngak ada sih cuma,… mengingat…“.
”Mengingat apa“.
”Eh ngak ada lah, lupain aja“. Balas Mulan yang tidak ingin menceritakan masa lalunya.
Temannya tak memaksa untuk mendapat penjelasan dari Mulan, mungkin Ia akan menceritakan suatu saat nanti.
”Kakaaaaak!!!!….“. Panggil Kaila adiknya Angga sambil menghampiri mereka dan disusul oleh Zaki adiknya Mulan.
”Hai Kaila, Zaki“. Sapa Jesika.
”Hai kak. Ha? Ini siapa“. Tanya Kaila.
”Hem… perkenalkan yang mulia. Aku Bagas, ini Dobi dan Raki. Kami adalah…. Si preman pensiun“. Balas Bagas dan dua temannya dengan gaya super star. Kaila dan Zaki telah mengetahui mereka siapa, tapi, mereka senang melihat anak preman itu akrab dengan kakaknya.
”Ooooh…keren! Oh ya… kak Angga dan Devan mana? Belum keluar“. Tanya Kaila.