The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 2



Yang diluar semakin panik bercampur ketakutan. Lalu, ayah Devan membantu ayah Angga untuk mendobrak pintu, namun, sia-sia juga, pintu tertutup dengan rapat dan kuat. Sang Ibu semakin khawatir, Ibu Devan berusaha menenangkan.


Tak tinggal diam, Arga dan kakaknya membantu membuka pintu.


GEBRUK!!… GEBRUK!!… GEBRUK!!…


“ANGGA BUKA ANGGA!!!”. Teriak Rangga sambil memukul-mukul pintu.


“…. Hah! Kak!. Bantu Arga naik ke atas”. Pinta Arga yang ingin melihat kondisi Angga di kamar lewat lubang udara di atas pintu. Rangga mengerti, Ia pun membungkuk agar adiknya dapat naik di punggungnya. Arga pun naik, Rangga pun perlahan berdiri agar Arga dapat mencapai tujuannya.


Arga pun mencapainya, Ia pun melihat kondisi Angga lewat lubang diatas pintu. Arga syok dengan nafas yang tersentak saat melihat Angga ingin mengakhiri hidupnya dengan ujung mata pisau yang telah berada dilehernya.


“Ang Angga… ayah! Angga! …..Pegang pisau!!!”. Seru Arga panik. Mereka semua stok bukan main, Ibu Angga terus menangis akan kejadian pada malam yang mengerikan ini. Devan tak dapat berkata apa-apa, badannya tiba-tiba terpaku ketakutan. Rangga dan Arga bersi keras mendobrak pintu. Beberapa kali percobaan, Rangga dengan sigap melakukan tendangan dan akhirnya, pintu pun berhasil terbuka.


Mereka termanga melihat Angga berdiri dengan kepala yang agak tertunduk, darah yang terus mengalir dari matanya, dan sebuah pisau ditangannya yang siap mendarat di leher.


Kedua kakaknya berlari menghentikan perbuatan gila adiknya. Dan tiba-tiba, saat hampor mendekati adiknya, Angga balik menatap tajam kedua kakaknya yang berlari kearahnya dengan mengeluarkan warna biru menyeramkan, sehingga bayangan hitam mendorong jauh mereka berdua hingga terjatuh dan terbentur tembok.


Semua syok, terpaku, termanga dan takut. Ibunya menangis dan ingin mensekati putranya, tapi Ibu Devan mencegah beliau. Rangga dan Arga bangkit berdiri menhan sakit.


“Kalian ngak apa-apa”. Tanya ayah mereka sambil menghampirinya.


“Ngak… tapi Angga”. Jawab Arga sambil melihat kearah Angga.


“Angga sadar Nak! Istigfar”. Kata ayah Devan, tapi Angga tak mempedulikan, pisau ditangannya semakin mendekat dileher.


“Nak… ini ayah Nak… tolong sadarlah. Semua ini akan dapat kita selesaikan bersama”. Kata ayah Angga sambil berjalan pelan kearahnya.


Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba, sesosok yang menyerupai Angga berada dibelakang putranya sambil memegang tangan Angga yang bertemankan pisau, dan tersenyum seram kearah mereka. Ayah Angga memberhentikan langkah, Devan, Rangga, Arga dan yang lain ikut merinding melihatnya, sang Ibu yang tadinya menagis, kini terhenti akan kejadian yang tak terduga.


“Anak ini…. Tak akan selamat dari tangan ku. Aku akan terus mengusiknya, agar Ia menjadi bagian dari ku! wahahahahah!!!!”. Kata makhluk itu dengan suaranya yang nyaring.


“Kau menginginkan dia hidup!… hehehe tak akan! Tak akan PERNAH KUBIARKAN!… IA AKAN MATI BERSAMA JIWANYA!!… HAHAHAH”. Balas makhluk itu dan menusuk pelan leher Angga, hingga darah mulai keluar dari lehernya. Semua berseru tertahan melihatnya, sang Ibu berterusan mengeluarkan air mata hingga tubuhnya melemah semua mulai panik dalam diam. Devan benar-benar trauma dengan kejadian yang dialaminya kali ini.


Ayah Angga tak tinggal diam. Beliau pun membacakan ayat suci al-Quràn yang membuat makhluk itu kesakitan. Setiap ayat yang dilantunkan, sosok itu memutar kepalanya, mata birunya melotot sambil memutar bola matanya.


Lalu, dibantu oleh orang tuanya Devan 4 anaknya dan Devan membacakan doa. Makhluk itu semakin meronta-ronta dan berteriak histeris dan akhirnya, menghilang bersamaan bayangan hitam disekitar Angga.


Tapi, Angga masih dalam posenya dengan darah dari mata dan lehernya yang terus menjulur keluar sedikit demi sedikit. Angga memang dalam keadaan sadar, tapi, memang dirinya berniat sendiri ingin melakukan itu.


Sang ayah pun berusaha menenangkannya.


“Angga,… ini ayah Nak. Ayah mohon, jangan lakukan ini Angga, mari kita selesaikan bersama”. Kata sang ayah. Keadaan semakin lengang berbalut ketengan.


“Apa Angga akan peduli,…. Aku semakin sensara untuk hidup. Melukai dan mensensarakan orang lain… biarkan Angga untuk pergi”. Jawab Angga dengan pisau yang masih terpegang dilehernya.


“Walau kau melakukan hal seperti ini, semua tak ada gunanya!… semua mendukungmu Angga!… kami menginginkan mu hidup dengan bahagia. Kami berusaha agar kamu tersenyum nak… itu yang ibu dan ayah mau darimu”. Kata ayah Angga yang membuat Angga teringat akan ucapan sang Ibu saat Ia pinsan. Angga hanya berdiri diam dengan pikiran kosong.


Ibunya yang lemah langsung menghampiri dan langsung memeluk erat putranya. Angga masih berdiri dengan pisau yang masih ditempat.


“Angga… Ibu ngak mau kehilangan kamu lagi Nak…. Ibu mohon…. Ibu ngak kuat kalau kamu seperti ini Nak”. Kata Ibu sambil menangis dan masih memeluk Angga hingga hijabnya berlumuran darah anaknya.


Mendengar ucapan ibunya, Angga menurunkan tangan dan menjatuhkan pisau ditangannya. Dan tiba-tiba, Angga melemah dipelukan ibunya.


“Angga… Angga… kamu baik-baik saja nak”. Kata sang ibu sambil menyadarkan putranya.


“Pak…. Ayo kita bawa kerumah sakit dulu”. Kata ayah Devan.


Sang ayah pun mengendongnya dan langsung pergi kerumah sakit dengan mengenaiki mobil keluarganya Devan. Ayah Devan pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit.