The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 3



Yang tinggal dirumah hanya lah 4 adik kakak ini. Mereka pun membersihkan kamar Angga. Kaila masuk kekamarnya karna ketakutan, tubuhnya gemetar.


“Loh… Kaila mana?”. Tanya Karin sambil mengelap darah yang bercecer dilantai.


“Tadi disini….”. Jawab Arga sambil mengangkut kaca yang berserakan.


“Kayaknya di kamar… ”. Jawab Rangga.


“Rin!”.


“Ya kak”.


“Urus Kaila aja, biar kami yang urus disini”. Perintah Rangga. Karin pun menurut dan pergi menuju ke kamar adik kecilnya.


Karin pun membuka pintu, Ia melihat Kaila yang duduk diatas kasur sambil memeluk kedua lututnya. Karin pun mrndekati dan menenangkan adiknya.


“Kaila… ngapain”. Kata Karin yang telah berada disamping Kaila. Tapi, Kaila hanya diam membatasi ketakutannya.


“La?… ”.


“Kaila takut kak”. Jawab Kaila.


“Kaila takut kalau kak Angga jadi seperti ini,… nanti kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana”. Lanjut Kaila.


“Jangan khawatir,… kak Angga pasti baik-baik aja kok. Kita hanya bisa mendukungnya saja… dah… tak perlu takut. Kak Angga pasti mengerti…”. Jelas Karin, Kaila mengangguk dan berusaha menenangkan adiknya.


“Yaudah, Kaila tidur dulu ya. Besok kan sekolah”.


“Baik kak”. Jawab Kaila dan menurut untuk tidur.


Sedangkan Rangga dan adiknya, Arga, telah selesai dengan pekerjaan mereka. Mereka berdua masih teringat akan kejadian mengerikan yang mereka lihat, apa lagi tentang makhluk hitam yang menyerupai Angga itu.


“Kak… kepikiran ngak sih sama makhluk tadi”. Tanya Arga sambil membuang kaca lampu.


“…. Ya juga lah… napa emangnya”. Jawab Rangga sambil membersihkan kain bekas lap darah tadi.


“Apa makhluk itu yang ada di diri Angga…. Yang menjiwai dalam penglihatan batin Angga kan”. Lanjut Arga, Rangga pun teringat apa yang dikatakan makhluk bayangan itu.


“Anak ini…. Tak akan selamat dari tangan ku. Aku akan terus mengusiknya, agar Ia menjadi bagian dari ku!”.


“Kau menginginkan dia hidup!… hehehe tak akan! Tak akan PERNAH KUBIARKAN!… IA AKAN MATI BERSAMA JIWANYA!!… HAHAHAH”. Kata makhluk itu saat kejadian beberapa menit yang lain.


“Sepertinya…. Tidak”. Jawab Rangga.


“Ha?!”.


“Makhluk itu cuma mau jiwanya Angga kan”. Kata Rangga.


“Ya!… maksud kakak… makhluk itu terus memengaruhi Angga hanya untuk jiwanya”. Tanggap Arga.


“Bisa jadi seperti itu…. Angga dalam bahaya, Ia sedang dalam genggaman makhluk aneh itu”.


“Kakak benar… tapi, kita mau buat bagaimana lagi. Ini semua tergantung pada Angga kan”. Kata Arga, mereka tetap tidak akan mengerti akan hal ini.


Angga pun tiba di rumah sakit. Sang ayah pun langsung mengendongnya menuju ruang tindakan dan di susul oleh ibunya, orang tua Devan dan juga Devan.


Disana, perawat langsung memberi pertolongan. Angga pun dibiarkan duduk diatas ranjang disana dengan sang ibu duduk disamping dan memegang tangannya. Angga dari tadi tak mengeluarkan suara atau pergerakan apapun bagai boneka yang terbengkalai.


Dua perawat langsung membantunya. Angga mengalami luka di kedua tangannya, sebelah kiri dibagian telapak dan kanan lukanya sampai ke seluruh lengan karena kaca. Luka di bagian mata yang tak terlalu parah, dan untunglah luka dibagian leher tidak menjadi sebuah perkara… hanya saja nanti cuma berbekas.


Para perawat pun langung mengobatinya. Mereka memberikan obat. Dibagian mata, mereka perlu membersihkan darah yang masuk kematanya. Angga terlihat menahan rasa sakit, Ia hanya mengeram tangannya. Devan dapat melihat sahabatnya yang semakin serius.


Seorang perawat yang sedang membersihkan alat, bertanya kepada ayah Angga tentang kejadian yang terjadi.


Ibunya menjawab itu hanya karna untuk menutupi Angga. Sang perawat pun langsung mengangguk.


Setelah pengobatan, mereka pun langsung pulang. Sang ayah memegang dan menuntun putranya berjalan, Angga berjalan bagai robot yang kehabisan dayanya dengan rambut yang menutupi sebagian wajah yang membuat semua orang memerhatikan dan berbisik.


Mereka tak peduli apa yang mereka katakan, dan langsung berjalan pulang. Mereka langsung masuk ke mobil. Angga duduk yang paling belakang dengan Ibunya, Devan duduk dengan ayah Angga di tengah. Devan melihat kondisi Angga yang diam menunduk, tanpa suara…. Tanpa pergerakan.


Ayah Angga yang memperhatikan Devan, mengelus rambutnya yang berpesan, jangan terlalu khawatir. Devan membalas senyum.


Sesampainya dirumah, Angga langsung dibawakan kekamar. Tiga kakaknya yang lumayan menunggu lama, tertidur di sofa. Namun, mereka terjaga saat melihat Angga telah pulang.


Angga pun masuk kekamar dan duduk di tempat tidurnya. Devan yang melihat sahabatnya yang mulai kacau, hanya dapat membuang nafas panjangnya. Hanya duduk diam merunduk dengan rambut menutupi wajahnya yang kelihatan agak seram.


Keluarga Devan pun hendak mau pamit, mereka pun datang menghampiri Angga.


“Bagaimana keadaan mu sekarang?… udah membaik?”. Tanya ayah Devan lembut sambil duduk dan memegang bahunya. Namun Angga hanya diam menatap kebawah.


“Yaudah… jangan terlalu banyak berpikir ya… yang banyak istirahat. Kalau begitu… kami pulang dulu ya… jaga dirimu baik-baik”. Kata ayah Angga.


Devan pun mendekati Angga, Namun Angga tetap tak memperhatikan siapa pun yang ada disekitarnya.


“Angga… aku pulang dulu ya. Besok aku pasti akan mampir lagi… dan… jaga dirimu ya teman”. Kata Devan.


“Jangan banyak berpikir Angga, kamu pasti baik-baik saja… ”. Balas sang Ibu sambil mengelus kepala Angga lembut.


Keluarga Angga mengucapkan terima kasih atas kesetiaannya. Keluarga Devan pun pamit pulang, Devan serasanya… tak akan mau pulang. Ya… bagaimana tidak, saat mau mampir jenguk Angga malah mendapat fenomena yang mengerikan padanya. Devan pun keluar, Ia pun membalik badan melihat Angga yang terduduk dikamar. Ya… jika kita melihatnya seperti keseraman si penunggu kamar.


Sang Ibu melihat Devan yang masih khawatir, langsung menenangkannya.


“Devan… tenanglah”. Kata sang Ibu lembut sambil tersenyum. Devan pun mengangguk dan pamit pulang.


Kedua orang tua Angga mengantar sampai kepintu. Sedangkan 3 anaknya yang lain, masih dikamar Angga. Mereka terkadang saling tatap tukar pandang, sehingga canggung untuk berbicara.


Karin pun datang mendekat duluan, Ia duduk disamping adiknya yang dipenuhi luka dibadannya. Ia lalu mengecek suhu Angga dengan memegang dahinya. Setelah dicek, Karin merasakan suhu badannya begitu dingin.


“Kau panas… kepala mu masih pusing?”. Tanya Katin khawatir. Tapi, Angga langsung menepis tangan kakaknya yang memegang kepalanya. Ke tiga kakaknya hanya saling tatap khawatir.


Lalu, datang Ibu dan ayah mereka dengan membawakan nasi dan air untuk putranya. Lalu Ibu duduk dan menyuapi nasi ke Angga.


“Nak… makan dulu ya…”. Kata sang ibu sambil menyuapinya, namun Angga tak membuka mulutnya.


“Nak… makan dulu nak… atau minum dulu”.


“Tidak”. Jawab Angga dingin. Semua saling memerhatikannya dengan khawatir.


“Angga… jangan seperti itu nak… kamu kan belum makan dari tadi”. Bujuk sang ayah. Tapi… Angga tetap diam tanpa respon apa pun.


Angga mengingat setiap perkataan, mimpi, hianaan dan berbagai hal padanya. Ia tiba-tiba mengeluarkan air matanya, sehingga mata yang terperban mengalir air mata bercampur darah yang turun. Semua kembali syok plus khawatir yang bertumpuk. Ibunya pun menenangkannya.


“…. Angga… nak… kamu baik-baik saja?….”. Kata sang ibu, Angga tetap diam tanpa pergerakan dengan wajah datar tertutup rambut dan dua jenis air mata mengalir.


“Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan…. Tapi tak bisa ya…. Ngak apa”. Jawab sang ibu sambil menangis dan memeluknya.


“…. Yaudah biar Angga disini. Kalian tidur dulu ya… udah larut ni… besokkan harus sekolah”. Kata ayah mereka, 3 anaknya pun menurut dan masuk kekamar masing-masing.


Karena Angga memang butuh ketenangan untuk sendiri, maka sang ibu yang telah menganti perban dimatanya pun menyelimuti Angga untuk beristirahat.


“Jangan berpikir aneh-aneh lagi ya… tidur yang nyenyak ya nak”. Kata sang ibu sambil mengelus lembut dan meninggalkan Angga bersama istrinya. Angga hanya tetap diam dalam satu pandangan kosongnya, entah sampai kapan Ia akan diam seperti ini.


Terlihat Ia kembali trauma, seperti keadaannya yang masih sama saat kejadian kematian kakaknya.