
“Berani banget lo ya”. Ucap Rangga dingin dan serum hingga membuat suasana kembali tegang.
Ayah Dika yang berdiri sambil memegang perutnya, reflek mundur, karna Rangga mendadak menjadi buas.
“Berani banget lo bunuh ibu gue ha! ”.
BUAGH!....
“AKH! ”.
“RANGGA! ”.
Rangga yang emosi langsung menyambar ayah Dika dan memukulnya hingga ambruk yang membuat mereka berseru histeris.
Rangga belum selesai, Ia lalu menindih tubuh pria itu dan memegang di kerah bajunya dengan tatapan melotot marah.
“Lo! Heh lo harus bayar pada semua perbuatan lo ke ibu gue! Walau sampai mati pun lo HARUS BAYAR! ”.
BAGH!..
Teriak Rangga marah dan terus memukul pria itu hingga hidungnya mengeluarkan darah dengan deras.
“Rangga udah Rangga! Rangga udah! ”. Cegah sang ayah sambil menarik tubuh putranya dan memisahkan Ia dengan atah Dika.
Ayah Dika menggeram sakit dibagian kepala dan apalagi diperutnya yang ditambah tindihan Rangga yang mengamuk.
“Lo harus mati seperti lo bikin mati ibu gue! ”.
“Rangga udah nak! Tenangkan hatimu biarkan Ibu tenang disana”. Kata sang ayah yang masih memegang Rangga yang terkuras dengan emosinya.
Rangga melotot tajam bak orang kesurupan kearah ayah Dika. Lalu... Pandangannya tee paling kearah adiknya Angga yang sedang menangisi mayat ibunda.
Ia lalu mendorong sang ayah dan pergi kearah Angga dengan langkah kasar. Terlihat bukan aura yang bersahabat melainkan terlihatnya aura yang akan mendatangkan kekejaman.
Rangga tiba didepan sang adik. Terlihat nafasnya begitu berat dan....
TRAM!....
Rangga tak segan-segan menampar sang adik dengan kuat dan kasar hingga Angga terjatuh dengan bagian wajah yang merah karna ulah kakaknya sendiri.
Semua berseru panik dengan menyebut namanya.
“Kak istigfar kak! ”. Seru Devan yang sambil memegang Angga. Angga hanya bisa menopang badan dengan aliran air mata yang mengalir, hatinya sakit untuk perlakuan dari sang kakak.
Tak sampai disitu, Rangga mendorong Devan yang memegang adiknya. Ia lalu mendorong Angga hingga Angga kembali jatuh terbaring kembali. Tentu kepalanya yang menjadi korban Karna terhantuk dengan keras.
Rangga langsung mencekik Angga, adiknya sendiri. Angga tak dapat melakukan apa-apa, jadi... Ia harus menerima perlakuan atau pembalasan dari kakaknya sendiri.
Sang ayah mencoba memisahkan keduanya, namun karna Rangga begitu emosi, Ia bisa bertindak semaunya.
“E lo mau apa hah! Lo menyusahkan tahu ngak! Gue benci dengan adik kayak lo! ”. Teriak Rangga dengan cekikan yang Ia tambahkan ke Angga. Angga yang tersiksa, kembali terpukul dengan perkataan sang kakak yang kejam padanya.
Kakaknya yang dulu ramah, konyol, pemancing emosi, konyol bahkan perhatian... Kini kebalikan dari semuanya.
“Lo nyadar ngak hah apa yang udah lo lakuin! Jawab!.... Jawab Angga JAWAB! LO UDAH BERANI MENGHILANGKAN NYAWA IBU! ”.
𝘋𝘦𝘨~
“Lo pembunuh Angga! Lo kejam! ”.
𝘋𝘦𝘨~
“Gue benci adik kayak lo tahu ngak! Heh jawab Angga! Lo sebaiknya mati Angga mati! ”.
“Haaakh! ”. Seru Angga tak dapat bernafas. Semua telah mencoba untuk menghentikannya namun sia-sia.
“Sekarang! Ibu udah ngak ada. Lo udah bebaskan?! Iya kan jawab napa diem kau hah! JAWAB! ”.
“Aaakh! ”.
“Kak udah cukup kak! Ini Angga kak! Angga! ”. Seru Arga sambil menarik tangan sang kakak. Rangga memberontak Dan terus mencekak Angga hingga nafas nya menjadi sesak Dan liur mulai keluar dari sela-sela mulutnya.
“Kak Rangga istigfar kak! Jangan gini kasihan ibu kak! ”. Tambah Karin. Dan Arga dengan cepat mengamankan Angga hingga kepelukannya Dan sang ayah dengan cepat memegang Rangga.
Angga terlihat sesak karna hasil dari cekikan sang kakak. Nafasnya berat, gemetar, Dan pucat.
“Angga.... Bagaimana kabar mu nak. Hahaha... Bagaimana keadaanmu sekarang... Pedih bukan. Seperti dugaan... Kau pembunuh”.
𝘋𝘦𝘨~
“𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯.... 𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢 𝘐𝘉𝘜 𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩! ”. Kata makhluk itu hingga membuat Angga menggeram. Hati Dan dadanya sakit, sesak bahkan matanya terlihat gelap akan pandangannya yang hampa Dan hancur.
“𝘬𝘢𝘶... 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢. 𝘚𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩. 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘱𝘪.... 𝘉𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘪𝘣𝘶𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘶? 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘺𝘢... 𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘮𝘢𝘶𝘵 𝘩𝘦𝘩𝘦𝘩𝘦”. Lanjut makhluk itu. Angga semakin ditimpa rasa bersalah, hatinya begitu sakit ditambah dengan sang ibu yang kehilangan nyawa.
Air mata terms berderai turun membasahi tubuhnya yang pucat pasi. Nafasnya sesak disertai dengan isakan nafas yang menggantikan tangisnya. Tatapannya gelap menunjukkan kesunyian dihidupnya. Angga menggeram dengan suara tangis yang tak begitu jelas.
Arga kembali memeluk Angga dengan yang kondisi tubuhnya dingin Dan gemetar hebat. Rangga kembali berontak untuk melepaskan semua emosinya ke Angga, tapi sang ayah mencegahnya.
“Yah, biar Karin bawa Rangga kekamar ya”. Kata Karin dengan tangis yang masih tersedu-sedu. Sang ayah pun menyerahkan Rangga ke Karin dan mengurus jenazah sang istri.
Karin pun memegang kakaknya dengan erat agar Ia tak terlepas dan mengancam Angga, ya... Mungkin ini pertama kalinya
“Angga tenang Angga... Semua akan baik-baik saja... Iklaskan semua ya”. Kata Arga menenangkannya.
Namun, Angga... Pikiran dan kehidupannya... Dikepung oleh rasa bersalah, kekejaman, dan kehinaan padanya. Ia merasa dirinya sangat bodoh dan sangat bodoh, kejam bahkan untuk keluarganya sendiri.
Kepalanya kembali sakit, jantungnya berdetak lemah, hatinya sakit dan... Tatapannya yang gelap,suram dan losing. Seperti layaknya ruangan yang luas namun, hampa dan gelap.
************
Karin pun membawa kakaknya langsung kekamar. Ia melepaskan Rangga dan dengan cepat mengunci pintu kamar.
“Lo gila apa gimana hah! Buka pintunya”. Ucap Rangga kasar ke pada Karin yang berdiri didepan, menatap dan tanpa menjawab pertanyaannya.
“Woi! Lo jawab pertanyaan gue! ”.
“Apa”. Sahut Karin dingin dan tegas.
“Apa... Aku gila... Kakak bilang aku gila? Istigfar kak istigfar!. Aku ini adikmu Karin... dan yang kau lukai itu juga adikmu! Yang kehidupannya hancur dan sekarang kakak menambahkannya! ”. Tegas Karin sambil menunjuk-nunjuk Rangga dan disertai dengan tangis atas kepergian sang ibu ditambah perlakuan sang kakak.
Rangga seketika kaku dan tercengang dengan perkataan Karin hingga menyadarkan pikirannya.
“Hiks hiks... Ibu, ibu udah tiada! Kita hanya bisa mengiklaskan kepergian beliau kak! Seharusnya kakak yang patut gila karna tak mengenal adik mu sendiri! Apa kau ingin membunuhnya hah! ”.
Mendengar hal itu, tubuh Rangga melemah dan jatuh terduduk. Ia memegang kepalanya yang kini sakit. Pandangannya seakan-akan berputar. Nafasnya kembali sesak dengan isak tangis salad keadaan bersalah.
“Astagfirullah.... Hiks”. Ucap Rangga, tangan kirinya menopang tubuh yang terduduk lemah semberi melepas tangisnya.
Karin semakin tersedu-sedu. Air mata yang turun tak dapat dihentikan. Karin pun memeluk sang kakak, kltak kuasa dan tak kuat jika keadaan seperti ini.
Kehidupan sang adik kacau. Dan... Mereka harus merelakan kepergian wanita yang telah berjuang Dan bersusah payah until melahirkan mereka... Mereka harus tabah dan kuat... Karna yang akan menggantikan beliau adalah telah tertanggung oleh sang ayah.
...𝓢𝓮𝓵𝓪𝓶𝓪𝓽 𝓽𝓲𝓷𝓰𝓰𝓪𝓵 𝓲𝓫𝓾, 𝓴𝓪𝓶𝓲 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓸𝓪𝓴𝓪𝓷𝓶𝓾. 𝓚𝓪𝓶𝓲 𝓲𝓴𝓵𝓪𝓼, 𝓴𝓪𝓶𝓲 𝓳𝓪𝓷𝓳𝓲 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓽𝓮𝓽𝓪𝓹 𝓴𝓾𝓪𝓽. 𝓓𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓶𝓲, 𝓫𝓮𝓻 𝓳𝓪𝓷𝓳𝓲, 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓳𝓪𝓭𝓲 𝓪𝓷𝓪𝓴 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓪𝓲𝓴 𝓓𝓪𝓷 𝓼𝓱𝓸𝓵𝓮𝓱 𝓪𝓰𝓪𝓻 𝓘𝓫𝓾 𝓳𝓾𝓰𝓪 𝓫𝓪𝓷𝓰𝓰𝓪 𝓭𝓲𝓪𝓵𝓪𝓶 𝓼𝓪𝓷𝓪 𝔂𝓪 𝓫𝓾....
...𝓓𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓶𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓪𝓷𝓳𝓲, 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓫𝓮𝓻𝓫𝓪𝓴𝓽𝓲 𝓴𝓮𝓹𝓪𝓭𝓪 𝓐𝔂𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓰𝓪𝓷𝓽𝓲𝓴𝓪𝓷 𝓘𝓫𝓾. 𝓚𝓪𝓶𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓪𝓷𝓳𝓲, 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓲𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓼𝓮𝓶𝓾𝓪 𝓷𝓪𝓼𝓮𝓱𝓪𝓽 𝓓𝓪𝓷 𝓹𝓮𝓻𝓳𝓾𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓶𝓲 𝓪𝓷 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓮𝓼𝓪𝓻𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓶𝓲. 𝓓𝓪𝓷 𝓵𝓲𝓱𝓪𝓽, 𝓴𝓪𝓶𝓲 𝓽𝓾𝓶𝓫𝓾𝓱 𝓶𝓮𝓷𝓳𝓪𝓭𝓲 𝓪𝓷𝓪𝓴 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓪𝓲𝓵 𝓓𝓪𝓷 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓫𝓮𝓻𝓾𝓼𝓪𝓱𝓪 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓳𝓪𝓭𝓲 𝓵𝓮𝓫𝓲𝓱 𝓫𝓪𝓲𝓴 𝓵𝓪𝓰𝓲....
...𝓘𝓫𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰 𝓭𝓲𝓼𝓪𝓷𝓪 𝔂𝓪. 𝓚𝓪𝓶𝓲 𝓽𝓪𝓴 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓵𝓾𝓹𝓪𝓴𝓪𝓷𝓶𝓾. 𝓓𝓪𝓷... 𝓚𝓪𝓶𝓲 𝓶𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓶𝓪𝓪𝓯 𝓳𝓲𝓴𝓪 𝓽𝓮𝓵𝓪𝓱 𝓫𝓮𝓻𝓼𝓪𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓮𝓹𝓪𝓭𝓪𝓶𝓾....
...𝓚𝓪𝓶𝓲, 𝓹𝓾𝓽𝓻𝓪 𝓹𝓾𝓽𝓻𝓲𝓶𝓾, 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾, 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓲𝓻𝓲𝓶 𝓭𝓸𝓪, 𝓼𝓮𝓫𝓪𝓰𝓪𝓲 𝓫𝓮𝓴𝓪𝓵 𝓓𝓪𝓷 𝓱𝓪𝓭𝓲𝓪𝓱 𝓫𝓮𝓻𝓱𝓪𝓻𝓰𝓪 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓶𝓾 𝓭𝓲𝓼𝓪𝓷𝓪....
...𝓘𝓫𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰 𝓭𝓲𝓼𝓪𝓷𝓪 𝔂𝓪. 𝓚𝓪𝓶𝓲 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓶𝓮𝓻𝓲𝓷𝓭𝓾𝓴𝓪𝓷𝓶𝓾 𝓓𝓪𝓷 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓶𝓾. 𝓙𝓪𝓰𝓪 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓶𝓾 𝓭𝓲𝓼𝓪𝓷𝓪 𝔂𝓪. 𝓚𝓪𝓶𝓲 𝓹𝓪𝓼𝓽𝓲 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓷𝔂𝓾𝓼𝓾𝓵 𝓓𝓪𝓷 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮 𝓵𝓲𝓱𝓪𝓽 𝔀𝓪𝓳𝓪𝓱 𝓬𝓪𝓷𝓽𝓲𝓴𝓶𝓾. 𝓚𝓪𝓶𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓪𝓷𝓳𝓲 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓽𝓮𝓻𝓼𝓮𝓷𝔂𝓾𝓶, 𝓼𝓮𝓹𝓮𝓻𝓽𝓲 𝓴𝓮𝓶𝓪𝓾𝓪𝓷𝓶𝓾....
...𝓢𝓮𝓴𝓪𝓵𝓲 𝓵𝓪𝓰𝓲, 𝓽𝓮𝓻𝓲𝓶𝓪 𝓴𝓪𝓼𝓲𝓱. 𝓓𝓪𝓷 𝓼𝓪𝓶𝓹𝓪𝓲 𝓳𝓾𝓶𝓹𝓪 𝓫𝓾....
...𝓐𝓼𝓼𝓪𝓵𝓪𝓶𝓾𝓪𝓵𝓪𝓲𝓴𝓾𝓶 𝓫𝓾....
...𝘐𝘯𝘪... 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶:...
...𝘙𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘙𝘺𝘢𝘯𝘻𝘢 𝘍𝘺𝘬𝘳𝘺𝘢𝘯...
...𝘒𝘢𝘳𝘪𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘳𝘺𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘳𝘭𝘢𝘯...
...𝘈𝘳𝘨𝘢 𝘙𝘺𝘢𝘯𝘻𝘢𝘧𝘵𝘢𝘯...
...𝘙𝘺𝘢𝘯 𝘎𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘻𝘢𝘪𝘳𝘢𝘯...
...𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘈𝘳𝘺𝘢𝘯𝘻𝘢 𝘗𝘶𝘵𝘳𝘢...
...𝘒𝘢𝘪𝘭𝘢 𝘒𝘢𝘳𝘺𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘧𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺...