The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Menyakitkan



“Di____dilan….bangun Dilan kumohon bangun!!!! …..DILAAAAAN!!!”. Teriak Angga. Ia pun memeluk sahabatnya yang tidak sadarkan diri itu. Detak jantung dan denyut nadinya lemah.


Angga dan Kaila sangat terpukul akan kejadian, mereka tidak dapat menahan air mata mereka.


Kaila berterus-terusan menangis sejadi-jadinya dan memeluk erat Dilan. Tak lama kemudian terdengar suara ambulance yang datang dan orang tua mereka.


Betapa syoknya orang tuanya saat melihat Dilan dengan kondisi yang mengenaskan.


“ astagfirullah Dilan _____bangun nak!!”. Teriak Ibunya Dilan sambil memeluk erat putranya dan menangis.


“Nak apa yang terjadi”. Tanya Ayah Dilan kepada Angga. Angga berusaha mengatur kondisinya, Ia hanya mengeleng tidak tahu. Kaila masih menangis, Ia pun memeluk Ibunya, Angga berdiri berusaha menghapus air matanya meski tangisnya masih tersedu-sedu.


“bu ….kita bawa putra Ibu dulu ke rumah sakit untuk pertolongan lebih lanjut”. Kata seorang perawat.


Dilan pun di pasangkan alat pernapasan dan di bawa kerumah sakit. Sedangkan para polisi menyelidiki kasus yang terjadi.


Angga yang hendak ingin ikut ke rumah sakit, dicegah oleh Ayahnya karena malam sudah terlalu larut. Jadi Ia saat pulang sekolah nanti bisa mampir. Meski Angga agak protes, Ia pun menuruti.


Ia dan Kaila pun pulang bersama kakak pertama mereka, yaitu Rangga dengan menaiki mobil. Diperjalanan, Rangga ingin bertanya tentang kejadian yang terjadi tadi kepada adiknya, tapi, dari tadi Angga dan Kaila hanya duduk diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Rangga memutuskan untuk diam dan membiarkan mereka menenangkan diri terutama Angga.


Sesampainya di rumah, Angga langsung membersihkan dirinya dari lumuran darah. Ia melihat lumuran darah Dilan di seluruh tangannya.


“ hahaha …..! Kau memang pembawa masalah …..temanmu hampir mati karena mu ya …hahaha!!”. Kata sesosok menyeramkan berwarna hitam yang menyerupai Angga di balik cermin di depannya. Angga syok hebat, jantungnya berdetak kencang dan berkeringat.


“siapa kau!!”. Tanya Angga dengan nafas yang sesak.


“kau tidak mengenal ku!?!! …..aku adalah sosok lain dari dirimu ….batin biru ….”. Jawab sosok tersebut sambil tersenyum seram dan melotot di depan Angga. Mendengar jawaban darinya, Angga langsung ketakutan, Ia hendak ingin memanggil kakaknya tapi tertahan karena ketakutannya.


“Angga …kau tidak melihat berapa banyak orang yang menghina mu dengan perkataan keji mereka, bahkan untuk orang tua mu


!?!!!! ….”. Kata sosok tersebut yang membuat dendam Angga kembali.


“kau ini pemilik mata batin biru ….dimana dendam mu, dimana kemarahan mu untuk balas dendam …..dimana !!!!”. Ucapan sesosok tadi, membuat Angga membangkitkannya ke aura magis mata batinnya. Kepala Angga terasa sakit dan matanya mengeluarkan cahaya biru, Ia menutup telinganya agar tak berpengaruh ke sisi kegelapan penglihatannya.


“tidak perlu untuk mengendalikan dirimu ….mereka telah menghianatimu bukan !!!!! ….ayo balaskan dendam mu batin biru!!!! ….”.


“DIAM ……!!!!!!” TRAK !!!! . Teriak Angga sambil memukul kuat cermin di depanya yang membuat cermin itu retak, dan tangannya berdarah, sesosok tersebut pun menghilang.


Angga berusaha mengatur emosinya. Ia mengatur nafasnya dan matanya kembali seperti semula.


Rangga yang mendengar keributan di kamar mandi, langsung memeriksanya. Saat masuk, Ia melihat Angga yang berdiri didepan wastafel belum membersihkan dirinya, dan cermin didepan Angga retak dengan lumuran darah dari tangan Angga.