The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
part 3



“Oke! Udah kumpul semua nih! Berangkat sekarang?”. Ajak Sarah semangat.


“Kerumah sakit kan”.


“Iya jes”.


“Bagaimana kalau gue ganti baju dulu. Rumah gue kan lumayan jauh… gue ngak mau bolak balik nanti”. Keluh Bagas.


“Iya… bagaimana kita ganti baju dulu. Kan masih awal juga, nanti sekalian terus kerumah Angga”. Balas Jian.


“Yaudah deh… kita balik dulu”. Jawab Devan menyetujui.


“Oke”. Seru temannya kompak. Mereka pun memutuskan untuk kembali dan akan pergi bersama-sama nanti. Bagas yang berbeda arah dengan teman-temannya pun kembali ke rutenya.


Mereka bersembilan pun pulang bersama. Ditiap perjalanan, mereka saling lihat kesana kemari akan kondisi kota yang kini nampak ngeri. Seakan-akan hidup dikota mati.


Mereka berjalan sambil mengobrol untuk melupakan hambatan dan kejadian yang mereka hadapi. Devan terlebih banyak diam memikirkan misteri-misteri yang tertimpa pada sahabatnya.


Teman-temannya terkadang memperhatikan tingkah Devan yang tak seperti biasa. Mereka mengerti bagaimana perasaannya saat ini, jadi, inilah waktunya, crazy friend memulai aksi mereka.


“Van! Van!”. Panggil Raki, Devan pun menoleh dengan wajah yang lesu.


“Dari tadi diem mulu, ngak kayak biasanya kayak cacing kepanasan”. Ledek Dito, temannya yang lain ikut tertawa terbahak-bahak. Devan menatap Dito dengan tatapan kesal, seakan-akan akan meremas mulutnya hingga lumer.


“Udahlah Dev… jangan terlalu dipikirin. Nanti kita selidiki sama-sama, oke”. Kata Jian.


“Iya ya….”. Jawab Devan.


“Eee… oh ya Dito! Bagaimana dengan teman kalian yang lain, kok ngak datang kesekolah?… apa… sakit juga”. Tanya Sarah.


“Oh, geng kami?… ngak semua”. Jawab Dito sambil melipat lengannya.


“Lah… berarti masih musuhan dong”. Balas Jian.


“Kayaknya sih. Soalnya, saat bos Bagas ingin berteman dan memberhentikan preman, mereka tak setuju”. Jawab Raki.


“Oh… huf!… moga saja keadaan kembali normal”. Jawab Jian. Devan kembali termenung, Ia hanya dapat mengingat tiap situasi yang menurutnya ulah sahabatnya sendiri. Entah Ia dapat bertahan atau tidak.


“Halo Mah?…. Ada apa?”.


“𝘋𝘦𝘷𝘢𝘯... 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘬? ”.


“Oh, udah kok Mah, ini juga hampir mau sampe rumah dan… mau mampir ke rumah Angga bentar”.


“𝘌𝘦𝘦... 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳, 𝘴𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢... 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩”.


“Loh? Siapa? ”.


“𝘌𝘦𝘦.. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯”. Jawab sang Ibu yang membuat Devan sedikit penasaran.


“I iya udah deh. Kalau gitu... Devan akan pulang”.


“𝘐 𝘪𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘬. 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘤𝘦𝘱𝘦𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢? ”.


“Ya Ma. Salamuálaikum”.


“𝘞𝘢𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮”.


Devan pun menutup panggilan dari sang ibu. Perasaannya bingung kembali, Ia hanya dapat membuang nafasnya sedikit dengan perasaan kesal. Kaila menatap Devan yang bertingkah membingungkan.


“Kaila, kakak pulang dulu ya”. Pamit Devan sambil menyimpan ponselnya.


“Hem? Ngak mampir dulu nih? ”. Tanya Kaila dengan lipatan kedua lengannya.


“Tadi nya sih gitu, tapi suruh pulang bentar, karna Ada kepentingan mendadak, ngak apakan”. Jelas Devan sambil mengelus lembut Kaila.


“Em... Yaudah deh, ngak Apa-apa”. Jawab Kaila sambil tersenyum dengan manis.


“Baiklah, kalau begitu, kak Devan duluan ya. Nanti kalau udah beres, aku bakal kesini kok”. Balas Devan dengan balasan senyumnya.


“Oke kak”.


“Hehe.. Gitu dong. Baiklah, kak Devan duluan ya. Assalamuálaikum”. Pamit Devan dan melangkah pergi ke rumah nya, Kaila pun men jawab dan melambaikan tangan manis nya.