The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
kecurigaan 2



“Heh! Anak- anak sekarang makin aja ya kelakuannya, coba tu kalo bawa motor yang bener!! ”. Kata si bos, ya... Terlihat seperti dalam keadaan mabuk.


“Pak... Bukannya bapak ya yang ngendarain motor yang ngak bener, dalam keadaan mabuk gitu”. Jawab Rangga Bangkit berdiri tanpa rasa takut.


“Kak! Mau cari mati heh! ”. Bisik Arga yang melihat kakaknya nekat pada orang seperti mereka.


“Diam”. Protes Rangga.


“Weh lo jadi anak jangan begituan ya... Serahin motor lo! Atau tidak”. Kata bos sambil mengeluarkan pisau dari sakunya. Anak buahnya berseru kompak menyemangati sambil meminum air mabuk cinta mereka.


“Kak kak bagaimana ini. Ngak bisa kabur tahu ngak. Kakak kalo mau cari mati cari sendiri saja! Arga tetep mau hidup!”. Kata Arga panik.


“Diam lu ah. Tinggal lawan doang”. Balas Rangga sambil menyiapkan diri.


“Ini masalahnya dia lagi mabuk bego! Emang kakak sanggup hadapin 7 preman mabuk darat gitu! He “.


”Oh ya bener juga lo“. Tanggap Rangga, Arga hanya tepuk jidat dibelakang.


”heh udah selesai bicaranya ha! “.


DRASHH!!! HUP!


Preman itu langsung menyerang Rangga. Rangga berhasil menghentikan serangan yang membuat adiknya menahan rohnya keluar.


Rangga pun membalas serangan dengan menendangnya dibagian perut hingga membuat preman itu terpental jauh.


Karena tak terima, 3 anak buah maju dan kembali membalas Rangga yang telah menyiap sikap kuda-kudanya. Arga hanya termanga malihat kakaknya yang jago beladiri.


3 Penjahat itu berlari menyerang Rangga dan Rangga dapat menghindar dua serangan dari samping dan tiba-tiba terdapat serangan dari belakang,


SET!…. Dengan cepat Rangga menangkap tangan dan menjungkir baliknya hingga terlempar dan berhimpit dengan bosnya.


”Heh! Jadi anak buah ngak berguna banget heh! Sama anak sekolah begituan lemah banget!“. Komen si bos.


”Bos, jangankan kita bos aja gugurkan“. Balas salah satu anak buah yang membuat anggkatannya menatap tajam.


”Wuuuuu bravo! Keren kak keren! Kalo gini ngak perlu bantuan kan“. Kata Arga.


”Lo adik kek mana sih. Lawan semut kayak mereka bukan hal yang mudah tahu ngak“. Balas Rangga.


”Kan tadi minta sendiri! Lagian ngapain jadi gula!“.


”Heh, menyingkirlah! Biarkan kami lewat“. Kata Rangga.


”Heh! Lo pikir gue pecundang apa! SERAAAANG!!!“.


”HIYAAAAAA……!!!!“.


Si bos berseru menyuruh seluruh anak buahnya menyerang. Mereka menggunakan senjata untuk menyerang, seperti tongkat, pisau dan juga botol kaca bekas air mereka minum tadi. Rangga dan adiknya diam terpaku tak menduga.


”Aku mau masih hidup kak! Arga masih mau melanjutkan hidup kemasa depan dengan seorang Istri dan 12 orang anak kak“. Kata Arga panik.


”Lo bisa kungfu napa pengecut gitu heh!“. Protes Rangga panik.


”Memang gue ahli tapi ngak kayak gini juga!“.


Para preman itu maju dan menyerang Rangga dengan senjata, tapi untunglah Rangga dapat membalas serangan.


4 preman menyerang didepan, dua preman menyerang duluan menggunakan tongkat, Rangga dengan cepat menunduk. Serangan meleset dan mengenai 2 temannya. Rangga melompat, memutar dan menendang hingga 2 preman lainnya terpental jauh.


”Wau! Super straigt!“. Seru Arga pelan kagum. Rangga terus menghadapi para preman itu.


Preman itu tak menyerah, mereka pun menyerang bersama, Arga kini syok bukan main, Rangga kini terlihat serius menghadapi mereka. Ia mengambil napas untuk mempersiapkan diri.


”Heh! Kalian tunggu apa lagi! Maju!“. Perintah bos. Mereka pun menyerang, satu orang menyerang dengan tongkat, Rangga dengan cepat menghindar, memegang tangan pria itu, menendangnya dan mendapatkan tongkat miliknya.


”Ok kak! Lanjuuuut!!! Kalo menang nanti kuberi ikan asin!“. Teriak Arga.


”Hish! Kau pikir gue kucing heh!“. Omel Rangga sambil menghadapi preman.


Ok lanjut…


Rangga terus menyerang dan menyerang. Dua penjahat berada dibelakang hendak menyerang dengan botol, Dan….


SET!


Rangga menghindar hingga mereka menimpa temannya sendiri. Tiga orang dan si bos maju menyerang, Rangga dengan cepat mengarahkan tongkatnya dan membalas


SPLASH!!!!… STRAP! TOS!


Rangga menyerang bertubi-tubi dengan gerakan zig zag. Mereka pun terpental kembali.


”Wau! Kereeeeen!!! Anjir!!!“. Seru Arga yang begitu kagum dengan kakaknya.


Terlihat Rangga begitu lelah dengan keringat yang berkujuran ditubuhnya dan nafasnya yang ngos-ngosan.


Para preman menatap tajam kearahnya apalagi atasan mereka.


”Heh! Diam lu hah!…. Lo pikir gue kabur gitu aja ha“. Kata bos dengan nafas terengah-engah.


”Aku ngak bilang untuk bapak mau kabur apa ngak“. Balas Rangga.


”Kak! Kalau ngak sanggup kabur aja minta ampun“. Bisik Arga khawatir.


”Diam“.


”Sekarang! Biar gue yang nyerang! Sini botol itu brengsek!“. Kata si bos sambil memerintahkan anak buahnya untuk memberikannya 2 buah botol kaca.


Rangga mempersiapkan diri dengan waspada. Pria preman itu tertawa dan…


TRASH!!… TRANK!!!…


Ia memecahkan botol tersebut hingga bagian punggung botol itu menjadi tajam.


Rangga dan adiknya syok.


”Kakak!“. Seru Arga. Namun, Rangga tetap pada batas niatnya.


Preman itu maju menyerang, dan Rangga menghalang dengan tongkat tersebut lalu mendorongnya hingga terjatuh. Preman itu tak menyerah, Ia maju dan menyerang Rangga secara berterus-terusan, Ia tak akan memberi celah untuk musuhnya menyerang.


Dan tak diduga, botol tersebut mengenai lengan Rangga hingga tongkat yang Ia pegang terlepas dari genggaman tangannya. Adiknya berseru tertahan, Rangga menegah darah yang mengalir ditangannya.


”Hahahahaha!!!“.


GEDUBRAK!!!…


Preman itu mendapat kesempatan untuk menyerang. Ia meninju Rangga diwajah dan menendangnya hingga tersungkur jatuh menahan sakit.


”Heh bagaimana! Mau lagi!“. Seru sibos, anak buahnya berseru menyemangati. Ia lalu menyerang Rangga dengan botol tersebut. Rangga yang lemah hanya menutup matanya, Ia hanya ada pembatas mati atau hidup.


Tapi, itu tak akan terjadi. Arga datang menghentikan serangan dengan tongkat yang dijatuhkan kakaknya. Rangga membuka matanya dan melihat sang adik berdiri membantunya.


TRAM!!!…


Arga memukul tepat digian mata. Preman itu menjerit histeris menahan sakit. Arga tak tinggal diam, Ia lalu menendang hingga preman itu terpental jauh hingga menimpa motornya. Kakaknya termanga melihat Arga.


”Wou!“. Seru Rangga.


”Bos-bos! Ngak apa-apa“. Seru anak buah preman yang menyadarkan bosnya yang sedang pinsan.


”Bukankah orang tua harus mencari kerja dan bukannya mencari masalah“. Kata Arga sambil mengajukan tongkatnya kedepan.


”Heh! Anak tak berguna! Hiyaaa!“. Seru anggota preman dan maju menyerang. Rangga terlihat panik, Arga menyiap kuda-kuda dan memutar tongkatnya.


TRASH! TRAM! TAK! GEDUBRAK!!!


Arga membalas dengan kuat. Tubuhnya lihay melakukan gerakan kunfunya. Semua penjahat gugur satu persatu. Rangga termanga dan melongo takjub melihat adiknya yang begitu keren.


”Cepat pergi dari sini atau aku tak akan segan-segan mengeluarkan senjata api ku“. Kata Arga percaya diri. Karena lelah dan kewalahan, para preman itu pun melarikan diri. Kakaknya hanya tak percaya melihat kenyataan didepan mata.


”Wa hahahahah!… aku adalah ninja kinhoninjutsu!!!“. Kata Arga girang, kakaknya hanya mengerutkan kening melihat tingkah konyol adiknya.


”Weh! Napa sih pas kita terluka baru ditolongin!“. Protes Rangga sambil memegang lengannya.


”Ha? Namanya aja pertolongan. Terluka dulu baru ditolong… hehehe“. Ledek adiknya sambil membuang tongkatnya.


”Bagaimana dengan tangan kakak?“. Tanya Arga dan mendekati kakaknya.


”Oh… ngak parah sih“. Balas Rangga.


”Eh… bentar“.


Arga lalu membersihkan darah dengan air yang Ia bawa. Dan merobek seragam putihnya untuk menutupi luka kakaknya.


”Hei! Ngapain pake seragam segalaan“. Kata Rangga.


”Seragam lama doang. Arga Masih punya banyak dirumah“. Jawab Arga.


”Bukan itu, ini masalahnya ada keringat daki kau, nanti infeksi bagaimana“. Ledek Rangga.


”Ck! Adeknya dah iklas nolongin malah diginiin, bagaimana sih“. Tutur Arga setengah kesal. Rangga hanya tertawa.


”Yaudah ayok pulang, dan biarin Arga yang bawa ok“. Lanjut Arga semangat, Rangga menurut dan tersenyum melihat ketulusan adiknya.


Akhirnya, mereka pun pulang dengan berboncengan yang dibawa oleh Arga. Ditengah perjalanan pulang, Rangga terlihat mencurigai pada segerombolan preman-preman tadi. Arga yang melihat kakaknya yang seperti serius dari sepionnya.


”Kak! Napa? Kok serius gitu?“. Tanya Arga sambil melajukan motor.


”Mmmm Ga. Ingat ngak yang perkataan Angga saat Ia pinsan kemarin, di lorong menuju rumah“. Tanya Rangga.


”Mmmm yang mana?“.


”Dasar pikun!. Dia bilang tidak ingat apa-apakan mengapa Ia bisa pinsan, kecuali seorang pria misterius yang Ia ingat“.