
“siapkan alat pernapasan segera”. Perintah sang dokter. Para perawat dengan segera memasangkan oksigen kepada Dilan, mengatur impus dan segalanya.
Dokter pun memeriksa denyut nadi dan jantung yang kini mulai melemah. Beliau pun menekan-nekan bagian paling bawah dada untuk meningkatkan detak jantungnya.
Angga yang dapat melihat kondisi Dilan, hanya bisa mengeluarkan air matanya, Ia pun mengenggam tangan Dilan, meski pegangannya tak terlihat dan tak terasa.
Dokter semakin berusaha, beliau terus menekan bagian dada Dilan, alat EKG menunjukkan detak jantung Dilan yang mulai menunjukkan pergerakan.
“Suster, siapkan alat segera”. Perintah dokter kembali. Para perawat pun segera menyiapkan semua alat yang diperlukan.
Keadaan semakin tegang, Angga hanya dapat memperhatikan kondisi Liam dari batinnya yang begitu nyata.
Dokter mengambil alat pacu jantung dan mendekatkan kedadanya Dilan. Setiap alat tersebut mendekat ke dada, membuat tubuh Dilan tersentak.
Alat EKG terus menunjukkan detak jantung Dilan yang sedikit demi sedikit mulai melemah. Dokter terus mendekatkan alat tersebut kedada Dilan secara terus menerus hingga tubuh Dilan tersentak beberapa kali.
Devan yang berada diluar hanya bisa mengenggam kedua tangannya dengan nafas yang bercampur tangis. Begitu pula dengan keluarganya sendiri, semua yang berada diluar hanya bisa berderai air mata dengan doa.
Dokter semakin berusaha namun, detak jantung semakin melemah, dan melemah. Dokter pun kembali menekan pada bagian bawah dadanya beberapa kali, namun keadaan semakin kacau.
“Dilan, Dilan! Ayo bangunlah Dilan!”. Teriak Angga dalam batinnya yang tak dapat didengar oleh siapa pun. Air matanya terus menerus melewati pipinya.
Dokter mencoba menggunakan alat pacu jantung kembali, Dilan kembali tersentak. Hingga dokter menggunakan semua tenaganya tapi….
TIIIIIT……..!!…..
Angga seketika kembali ketubuhnya dengan nafas yang tersentak hingga matanya kembali seperti semula. Ia duduk denga menggeram kepalanya tak percaya kalau Dilan…. Telah tiada.
Matanya kembali berair hingga menangis tak percaya sahabatnya akan tewas. kepalanya kembali sakit, nafasnya begitu sesak menghadapi kenyataan yang Ia lihat.
“Di…. Dilan!”. Kata Angga dengan nafas yang tak teratur.
“Dilaaaaaan….!!!!”. Lalu Angga berteriak hingga suaranya berdengung kencang hingga seisi rumah sampai membuat Rangga dan dua adiknya Karin dan Arga kaget dan panik. Mereka lalu bergegas menuju kamar Angga.
Rangga lalu membuka pintu, sontak mereka bertiga syok melihat Angga menggeram kepalanya sambil menangis penuh emosi. Darah yang dari matanya pun ikut keluar bersamaan dengan air matanya.
Ketiga kakaknya pun langsung mendekatinya.
“Angga?! Angga ada apa”. Kata Rangga panik sambil memegang bahu adiknya.
“Dilan…. Dilan”. Kata Angga dengan tangisnya.
“Dilan tak akan tiada! Aku harus menemuinya!”. Sambung Angga yang hendak ingin keluar dari kamarnya tapi karna kondisinya yang tak stabil, Ia pun terjatuh tak jauh dari tempat tidurnya. Rangga panik dan kembali memeluknya meski Angga meronta-ronta.
“Angga tenang Angga! Istigfar”. Kata Rangga tapi Angga terus menyebutkan Dilan dalam tangisnya. Karin dan Arga hanya saling tatap tak percaya akan perkataan Angga tentang tiadanya Dilan.
“Istigfar Angga istigfar…. Kau harus menerimanya dengan ikhlas… kakak tahu ini berat, tapi biarkan Dilan pergi dengan tenang”. Kata Rangga menenangkannya.
Angga hanya mengeluarkan isak tangis dan nafasnya dengan tubuh yang gemetar ketakutan.