The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Perasaan yang Hilang 2



Angga dari tadi hanya diam, perasaannya kembali putus asa. Bukan karena dikatakan kalau Ia dan Mulan pacaran, inilah, itulah. Tapi, rasa bersalahnya karena telah melukai Rihun.


Suasana dalam kelas sendiri juga sesak, penuh dengan ancaman gosipan tanpa jeda. Temannya yang lain terlihat seperti selesai berdebat dengan mereka, tentang berita Angga. Termasuk Bagas. Angga pun duduk di bangkunya.


“Liat tuh. Ngak tahu rasa bersalah sedikit pun ya?”. Ucap salah satu murid dengan murid lainnya.


“Emang patut dipanggil pembunuh sih. Kak senior aja hampir dibunuh”.


“Dia kan punya adik disini. Kakak kelas lagi. Kalau tahu dah kayak gini napa ngak bunuh diri sendiri dulu …”. Kata mereka yang membuat Angga menggeram, dan tiba-tiba …


GEDUBRAAK!!


Disela-sela gosipan, Jesika melempar bukunya didepan mereka.


“Hehehe! Sory banget ya udah ganggu moment kalian …udah dari tadi loh. Udah di ingatin jangan hina orang gitu!”. Omel Jesika, teman disampingnya memasang muka amarahnya.


“Dari tadi memang bener-beneeeer mulutnya dah kayak pantat bebek mau berak! Bau kotoran terus”. Tambah Bagas yang membuat Dika bangun dari tempatnya.


“Woy!! …lo udah gaul sama pembunuh brengsek itu dah pinter hina kami ya!. Gampang benget jadi bawahannya”. Balas Dika.


“Lo bisa diem ngak! …”. Kata Bagas. Angga yang tak tahan mencoba untuk keluar kelas, tapi dicegah oleh teman-temannya.


“Eh Angga. Lo santai dulu bro, biarin aja mereka, biar kami hibur lo oke”. Kata Dito sambil mengajak Angga tetap duduk. Angga ingin protes, tapi tim cewe siap beraksi, jadi pasrahlah.


“Oke Angga. Gue udah ciptain lagu bagus buat lo, biar gue nyanyin ya”. Kata Bagas.


“Wow! Lo bisa nyanyi?!”. Tanya Jian kagum.


“Ya iyalah, bos kita memang penyanyi yang hebat. Pokoknya debest banget!”. Lanjut salah satu anak buah Bagas. Bagas berterima kasih karena telah dipuji.


Jian dan yang lain makin penasaran bagaimana suara Bagas. Angga hanya duduk diam dengan muka datar. Dan tibalah saat Bagas bernyanyi.


“OooooooOOOOH~~¡¿ ENGkauuu bagaikan CINtaa kuuUuu. YANG KURINDUIIIII sepanjANG HIDUP~Ku hoooOooOooOO”. Nyanyi Bagas bagai kucing tersedak tulang. Semua yang melihat terutama temannya, seakan-akan mata dan telinganya akan keluar tanpa perintah.


Dito dan Raki yang tadinya semangat mempraktekkan main gitar, kini termanga-manga mendengar suara bosnya.


Ya …demi menghibur Angga, teman-temannya berekting seru dan terpukau hingga bertepuk tangan. Sedangkan Angga, hanya menatap handphonenya. Ia berkirim pesan ke Devan, tapi tidak dibalas.


“OHHOooOooOoo` jangan-JAngan tatap layar PONSELMUUUuuuuuu~~¡¡¡. AYOLAH Tatap muka KUuuUuUu•••”. Ganggu Bagas dengan nyanyian maut sambil menyingkirkan ponsel ditangan Angga. Temannya yang lain seakan-akan ingin muntah. Terlihat tingkat kesabaran Angga hampir menurun.


Bagas yang asik bernyanyi, tak sadar kalau wali kelasnya telah tiba. Anak buah, teman dan murid yang lain langsung duduk tanpa pemberitahuan. Angga hanya melipat tangannya dengan tatapan kepasrahan.


“Jangan-JANGAN KauUUU menatap ku sePERTI ____ ….”. Lanjut Bagas sambil melihat dan merasakan kejanggalan saat bernyanyi,. Dan saat balik badan, pak Ridwan telah berdiri dengan senjata andalannya. Murid yang lain termasuk temannya tertawa terbahak-bahak. Kini si preman pensiun malu tanpa jeda history.


Dengan tatapan maut pak Ridwan, Bagas tersenyum gemetar dan langsung duduk di habitatnya dengan muka merah padam.


“Assalamuàlaikum warahmatullahi wr wb”. Sambut pak Ridwan. Semua murid menjawab dengan kompak.


“Baik, sekarang kita kedatangan murid baru …setengah bekas”. Lanjut Pak Ridwan. Semua murid heran.


Teman Angga mengerti dari murid baru setengah bekas, maka itu adalah Devan. Yang lainnya dan Angga tidak mengetahui kalau Devan telah kembali.


“Dan …tentunya akan istimewa untuk seseorang. Iyakan Angga?!”. Lanjut pak Ridwan merayu Angga. Angga yang tadinya tak peduli …kini heran kembali.


“Oke! Kamu boleh masuk!”. Ucap pak Ridwan, dan …..